Ms. Perfect

Ms. Perfect
Laki-Laki Lain


__ADS_3

Axel memutar bola matanya lalu meyodorkan ponsel Michelle ke pemiliknya lagi.


“Kak” ucap Michelle


“Habis makan langsung pulang” ucap Xavier tegas


“*Boleh makan es krim nggak Kak ?” tanya Michel*le


“Boleh kalau kamu mau luka kamu nggak sembuh-sembuh” jawab Xavier tegas


“Huuhhh.. ya udah aku nggak makan es krim” jawab Michelle ketus


“Inget, habis makan pulang” ucap Xavier penuh penekanan


“Iya Kakak sayang, love you” ucap Michelle mengalah


“Love you too honey” ucap Xavier dengan lembutnya lalu mematikan telefonnya


“Cel” panggil Axel


“Hemm” gumam Michelle sambil memakan salad sayurannya yang baru di taruh di atas meja


“Kapan lo mau nikah ?” tanya Axel tiba-tiba


“Habis gue lihat kedua Kakak gue yang ganteng-ganteng udah bahagia” jawab Michelle dengan tenangnya


“Vier udah bahagia udah punya keluarga sendiri, apa lo nunggu Nicho ?” tanya Axel


“Iya” jawab Michelle seadanya


“Tapi kan Nicho udah ketemu sama orang yang selama ini dia tunggu, itu artinya dia udah bahagia kan ?” tanya Axel lagi


“Nggak tahu, gue belum lihat kebahagiaan Kakak gue.. kenapa nanya ?” tanya Michelle balik


“Nggak apa-apa” jawab Axel seadanya


“Xel, cari jam tangan ini kapan ? dapet dimana ? berapa lama ?” tanya Michelle menyelidik


“Asal lo suka, pakai aja, jangan pikirin hal lain” jawab Axel


“Cih, ditanya apa jawabnya apa, ngeselin banget kayak adiknya itu” gumam Michelle ketus


Axel cuma tersenyum tipis lalu menyeruput kopinya menatap wajah kesal Michelle yang dia rindukan.


“Selain koleksi jam tangan, lo koleksi apa lagi ?” tanya Axel dengan lembutnya


“Nggak ada koleksi langka lain lagi, kalau ditanya barang yang paling suka dibeli itu jaket sama sepatu” jawab Michelle


“Kenapa suka warna gold ?” tanya Axel penasaran


“Expensive, apalagi kalau metalic, ish jatuh cinta banget” jawab Michelle dengan gemasnya


“Apa gue harus jadi warna gold metalic dulu biar lo jatuh cinta sama gue ?” tanya Axel tiba-tiba


“Eh..” ucap Michelle mengernyitkam dahinya


Michelle menatap wajah Axel yang menatapnya dalam-dalam. Michelle langsung memalingkan wajahnya dari pandangan Axel lalu merogoh ponselnya.


“Kak” panggil Michelle


“Pulang Cel, Fares udah pulang daritadi” ucap Nicholas


“Eum.. iya Kak..” jawab Michelle gugup


“Kita pulang sekarang Xel” ucap Michelle memasukkan ponselnya ke dalam tas nya lagi


“Kenapa buru-buru ?” tanya Axel


“Nggak apa-apa, Fares udah pulang, Kakak pasti udah nunggu gue pulang” jawab Michelle

__ADS_1


“Ya udah” ucap Axel mengalah


Michelle bangun dari duduknya lalu berjalan turun bersama Axel meninggalkan kafenya itu.


Sepanjang jalan Michelle diam dan menatap keluar kaca mobil masih memikirkan ucapan Axel.


..


Sampai halaman rumah benar saja kedua Kakaknya sudah berdiri melipat kedua tangan di dadanya dengan tatapan tajam dan tegasnya.


“Kakak” panggil Michelle hati-hati


“Masuk kamar” ucap Nicholas datar


Michelle melangkahkan kakinya masuk rumah lalu berhenti dan menoleh ke belakang melihat Axel berjalan ke arah kedua Kakaknya.


“Michelle” panggil Xavier dengan suara rendah


“I.. iya aku masuk kamar” ucap Michelle gugup


Michelle langsung mengganti sepatunya dengan sandal rumah dibantu seorang pelayan lalu langsung berjalan cepat ke kamarnya.


..


“Masuk” ajak Nicholas datar menunjuk ke dalam rumah dengan dagunya


Nicholas masuk diikuti Xavier dan Axel lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.


Axel duduk di depan kedua Kakak Michelle yang terlihat tegas dari biasanya mereka berbincang.


Ya, Nicholas dan Xavier lagi bersikap sebagai Kakaknya Michelle.


Setelah seorang pelayan mengantar minuman dan keluar lagi, barulah pembicaraan serius dimulai.


“Sejak kapan lo suka sama Michelle ?” tanya Nicholas to the point


“Gue nggak tahu pasti” jawab Axel


“Gue nggak benci sama Michelle, sorry kalau selama ini gue salah kira tentang Michelle tapi beneran gue nggak benci sama Michelle..


Kalau lo tanya apa yang gue suka dari Michelle, banyak.. dari awal pertemuan gue sama Michelle sampai sekarang gue bisa rasain perbedaannya, Michelle jaga jarak dan profesional, sekarang dia kelihatan lebih jadi dirinya sendiri..


Selain itu gue kagum sama kepedulian dan sikap dia ke lo berdua dan Kyra, terutama lo sih Nick.. sikap dia selama ini bikin gue sadar sama kesalahan gue selama ini..


Michelle kasih gue banyak energi positif, dan yang paling utama gue nyaman di deket Michelle” jelas Axel panjang lebar


“Gue nggak bisa ijinin Michelle sama lo” ucap Nicholas


“Kenapa Nick ?” tanya Axel terkejut


“Michelle nggak suka sama lo, gue nggak mau Michelle terpaksa punya hubungan sama orang yang dia nggak mau” jawab Nicholas tegas


“Tapi.. jam tangannya Michelle pakai, bukannya Michelle paling anti terima barang dari orang lain ?” tanya Axel


“Jadi itu dari lo ?” tanya Nicholas terkejut


“Iya, Michelle juga udah tahu” jawab Axel dengan tenangnya


Nicholas dan Xavier saling menatap lalu kembali menatap Axel.


“Paling nggak ijinin gue buat buktiin kalau gue nggak main-main sama Michelle” ucap Axel sungguh-sungguh


“Gimana Kak ? kalau aku sih kasih Axel masa percobaan aja, kasusnya beda kan sama Fares, jadi apa salahnya ?” ucap Xavier


Nicholas menyandarkan kepalanya di sofa dan mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya sebentar lalu kembali duduk tegas menatap Axel.


“Gue kasih waktu satu bulan, kalau lo gagal berhenti deketin Michelle” ucap Nicholas tajam


“Iya Nick, thanks Vie” ucap Axel melebarkan senyumnya

__ADS_1


..


Sementara itu Michelle tengah bolak balik di dalam kamarnya, entah kenapa perasaannya gelisah terlebih setelah tahu perasaan Axel untuknya.


“Kakak bilang apa ya sama Axel ? kok gue jadi deg degan gini ?” gumam Michelle mengacak-acak rambutnya


Tok.. Tok.. Tok..


Michelle segera membukakan pintu kamarnya.


“Nona, Tuan Besar sudah menunggu di ruang tamu” ucap Arya


“Tapi aku nunggu Kak Vier buat cek luka ini lagi” ucap Michelle menunjuk kecil bagian punggung atasnya yang terluka


“Mungkin sebaiknya Nona menemui Tuan Besar dulu” ucap Arya lagi


“Ya udah” ucap Michelle mengalah


Michelle keluar kamar dan turun bersama Pak Arya menuju ruang tamu.


..


Michelle tersentak kaget melihat siapa yang duduk di sofa ruang tamunya selain ada kedua orang tuanya.


“Michelle, sini” panggil Corradeo


Michelle segera duduk di antara kedua orang tuanya dan menundukkan kepalanya.


Seorang laki-laki yang duduk di seberangnya tampak terkejut melihat penampilan lain Michelle yang cuma memakai kaos dan celana panjang kargo ditambah kuncir kudanya yang sudah berantakan karena Michelle belum merapihkannya lagi.


Laki-laki yang memakai kemeja polos tergulung sampai siku dan celana bahan panjang berusaha tetap tenang seperti sebelumnya.


“Mario udah tahu kalau kamu anak Daddy, jadi dia kesini mau ketemu kamu” ucap Corradeo sambil merapihkan rambut Michelle


“Eum.. malem Rio” sapa Michelle kikuk


Mario tersenyum tipis membalas sapaan Michelle.


“Kalau gitu Daddy sama Mommy tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja” ucap Corradeo mengecup lembut pelipis Michelle


“Aku butuh Kakak, Mom” bisik Michelle lirih


Leonore tersenyum lalu berjalan meninggalkan Michelle bersama Mario.


Canggung, Michelle maupun Mario diam.


“Aku baru di kasih tahu Tuan Melviano saat meeting baru selesai” ucap Mario membuka suara


“Oh, sorry” ucap Michelle


“Kenapa ?” tanya Mario


“Rahasiain ini dari Rio” jawab Michelle


“Nggak apa-apa, Tuan Melviano sudah bilang alasannya” ucap Mario


Suasana kembali canggung sampai akhirnya Mario meminum minumannya dan bangun dari duduknya.


“Aku pamit pulang ya” ucap Mario


“Kok buru-buru ?” tanya Michelle yang ikut bangun dari duduknya


“Tadi Tuan Melviano bilang kalau kamu baru pulang, lebih baik kamu istirahat” jawab Mario


Michelle mengantar kepulangan Mario sampai halaman rumahnya.


“Makasih udah mampir ke rumah” ucap Michelle ramah


“Sama-sama, aku pulang ya” pamit Mario

__ADS_1


Mario masuk ke dalam mobilnya setelah supirnya membukakan pintu mobil untuk dia lalu mobil keluar dari halaman rumah Melviano.


**


__ADS_2