Ms. Perfect

Ms. Perfect
Keraguan


__ADS_3

Hai hai readers, author comeback 😘


Sebelumnya author mau ucapin minal aidin wal faizin, maaf lahir bathin ya bagi readers muslim 😘


Maaf author liburnya kelamaan karena punya kesibukan baru, hihi ..


Udah author nggak mau ngegantung perasaan readers sekaloan, jadi lanjut aja yuk bacanya 😘


Enjoy !!!


**


Tengah malam Michelle terbangun dari tidurnya dan bergegas ke mini bar untuk membuat segelas susu hangat seperti biasanya lalu Simon datang dan duduk di sampingnya.


“Mau ?” tawar Michelle


“No, thanks” jawab Simon


“Gue kagum lihat aksi lo tadi” ucap Simon


“Gue nggak nerima pujian” ucap Michelle


“Tetep aja, boleh tanya satu hal ?” tanya Simon


“Tanya aja” jawab Michelle


“Sejak kapan lo latihan nembak ?” tanya Simon penasaran


“Bakat, selama ini gue nggak pernah latihan nembak” jawab Michelle sekenanya


“Serius ? tapi pro banget loh Cel” ucap Simon


“Nggak tahu gue juga, gue cuma sering main game aja, apa kebawa apa gimana nggak tahu” ucap Michelle menaikkan kedua bahunya


“Terus pisau ? berantem ?” tanya Simon lagi


“Kalau pisau mungkin karena gue sering main dart juga, kalau berantem gue sering latihan sama Kakak” jawab Michelle


“Wow..” gumam Simon berdecak kagum


“By the way gue baru tahu kalau lo ahli kayak Saddam” ucap Michelle


“Dari dulu gue seneng otak atik software, dengan bantuan Daddy, gue bisa bangun perusahaan sendiri dan punya banyak kolega” ucap Simon


“Itu bagus, Saddam dari jaman kuliah nggak pernah mau terima bantuan gue, ada tugas susah milih pusing sendiri, skripsi ngerjain sendiri, sampai kerja gue pernah bujuk dia buat kerja di perusahaan Daddy dulu tapi dia nolak, dia lebih milih naik sendiri tanpa bantuan orang lain” ucap Michelle


“Keren sih, beda kan sama kita yang gunain kekuasaan keluarga ?” ucap Simon


“Hemm, gue bangga sih punya temen-temen yang sukses sekarang dari kerja kerasnya sendiri” ucap Michelle


“Lo juga kebanggaan Cel, lo berhasil bangun usaha lo sendiri dari uang yang selama ini lo tabung” ucap Simon


“Perasaan nggak banyak yang tahu hal ini deh” ucap Michelle mengernyitkan dahinya


“Ms. perfect junior yang bilang, anak kecil itu bener-bener milih lo jadi panutannya, padahal yang gue tahu biasanya anak bakalan kagum dan mau kayak orang tuanya” ucap Simon

__ADS_1


“Entah, dari bayi gue emang sering ajak main dia, ajak ngobrol, seringnya sih dari telefon tapi gue seneng aja gitu kalau keponakan cantik gue cekikikan” ucap Michelle


“Keren sih.. Michelle” panggil Simon


“Hemm” gumam Michelle


“Sorry gue pernah suka sama lo, gue sempet kaget aja Kak Nadine bilang Michelle si ratu bisnis yang nolong dia” ucap Simon


“Biasa aja kali, gue nggak seterkenal itu” ucap Michelle


“Oh ya, gue denger lo udah beralih dari Melviano Corp. ya ?” tanya Simon


“Iya, Nonno minta gue bantu ngolah perusahaannya” jawab Michelle


“Boleh dong gue ngajuin kerjasama ?” goda Simon


“Ajuin aja, tapi jangan anggap karena kita kenal dan gue bisa terima gitu aja ya” ucap Michelle mengingatkan


“Iya gue tahu Cel” ucap Simon


Di sudut lain, Axel tengah berdiri menonton dua orang yang tengah berbincang diselingi candaan itu. Tubuhnya merasa panas melihat Michelle berbicara bersama laki-laki lain terlebih dia tahu bagaimana perasaan Simon untuk Michelle.


Yang tadinya mau membuat secangkir kopi karena tidak bisa tidur Axel urungkan dan memilih bersembunyi saat Simon bangun dari duduknya.


Setelah Simon pergi meninggalkan Michelle, dia berdiri di samping Michelle.


“Kamu belum tidur ?” tanya Axel


“Kebangun, kamu kebangun juga ?” tanya Michelle balik


“Mau minum apa ?” tanya Michelle


“Cuma mau minum air mineral” jawab Axel yang lagi menuang air mineral ke dalam gelas


“Kamu dari jam berapa disini ?” tanya Axel


“Eum mungkin setengah jam yang lalu, aku nggak lihat jam” jawab Michelle seadanya


“Sendirian ?” tanya Axel lagi


“Nggak, tadi ada Simon, nggak lama dia pergi kamu dateng” jawab Michelle sambil menunjuk kecil ke arah tangga


“Sama siapa lagi ?” tanya Axel mulai menahan kesal


“Berdua aja” jawab Michelle dengan tenangnya


“Ngobrolin apa ?” tanya Axel menyelidik


“Yaa, obrolan gitu-gitu aja” jawab Michelle sekenanya


“Ya apa ?” tanya Axel sedikit meninggikan suaranya


“Xel, kamu kenapa sih ? daritadi nanya kok kayak kesel gitu ?” tanya Michelle mengernyitkan dahinya


Axel tidak menjawab apa-apa selain menghabiskan minumnya dan langsung meninggalkan Michelle.

__ADS_1


..


Di dalam kamar, Axel mendengus kesal dan mencuci wajahnya dengan air dingin lalu duduk di sofa.


Aku takut diselingkuhin lagi Michelle.. aku trauma pas masih sama Alya, aku kasih semua cinta aku ke dia tapi dia khianatin, aku tahu dia selingkuh dan ninggalin aku ke luar negeri demi cowok lain walaupun dia bilang dia dapet kerja disana.. aku terlalu bego dan mentingin cinta yang jelas-jelas udah dikhianatin itu..


Aku takut kamu kayak gitu.. lihat kamu ngobrol sama cowok lain dan tersenyum kayak gitu aku nggak suka..


Kamu udah ambil semua cinta aku Michelle, aku serius sama kamu, aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya.. tapi kalau kayak gini.. -batin Axel ragu


**


Pagi harinya Axel tidak muncul untuk sarapan bersama. Michelle sudah mengetuk pintu kamar Axel dan mengajaknya sarapan tapi tidak ada jawaban.


Akhirnya Michelle menanyakannya ke para pengawal yang berjaga semalam dan mengatakan kalau Axel sudah pergi membawa barang-barangnya sejak pagi buta tadi.


Dia tuh kenapa sih dari semalem ? -batin Michelle bingung


“Apa kalian lagi berantem ?” tanya Nicholas


“Nggak kok Kak” jawab Michelle


“Kak Axel kasih kabar ke aku kalau dia harus pulang ke Indonesia” ucap Kyra menunjukkan layar ponselnya


Nggak biasanya Axel kayak gini.. biasanya dia kan selalu ngabarin gue sekalipun dia mau makan doang -batin Michelle khawatir


Akhirnya mereka semua memutuskan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan sarapannya.


..


Sepanjang jalan Michelle terus menghubungi Axel tapi tidak satupun telefon yang Axel angkat, bahkan puluhan pesan pun tidak Axel hiraukan.


**


Tiba di Indonesia sudah malam hari, mereka kembali ke rumah masing-masing. Tapi Michelle memilih ikut ke kediaman Oliver bermaksud menemui Axel.


“Axel kenapa ya Ra ?” tanya Michelle gelisah


“Gue juga nggak tahu Cel, lo serius kan nggak berantem sama Kak Axel ?” tanya Kyra memastikan


“Kalau gue berantem gue nggak bakalan kesini Ra” jawab Michelle


“Iya sih, apa mungkin lo lakuin kesalahan ?” tanya Kyra menyelidik


“Kesalahan apa ? selama ini gue nggak pernah bohongin dia” jawab Michelle bingung


“Lo nggak selingkuh kan Cel ? nggak, nggak mungkin, gue kenal lo kayak gimana, masalahnya sekarang cuma dari Kakak” ucap Kyra


Sepanjang jalan Michelle cuma duduk menatap ke luar kaca mobil memikirkan sikap Axel yang tiba-tiba berubah.


..


Sampai di kediaman Oliver, Michelle langsung berjalan menuju kamar Axel. Dia mengetuk pintu kamar Axel berkali-kali dan menyebutkan niatnya datang kesana tapi nihil, Axel sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Michelle padahal jelas-jelas Lu mengatakan kalau Axel baru saja masuk kamar sesaat mobil Michelle dan keluarganya memasuki halaman rumahnya.


Kok Axel ngehindar dari gue ? apa iya gue ada salah sama dia ? tapi apa ? kenapa nggak diomongin langsung sih ? -batin Michelle menggerutu

__ADS_1


**


__ADS_2