
Kecanggungan tercipta antara Michelle maupun Axel karena sejak Axel memutuskan hubungan mereka, mereka berhenti berkomunikasi bahkan walaupun hanya sekedar menyapa saat bertemu di kantor.
“Hai” sapa Axel
“Ya, hai” sapa Michelle
“Cucuku pulaanggg” ucap Hugo yang baru kembali bersama Dominico dan anak-anak mereka dari luar
“Grandpa, I miss you” ucap Michelle memeluk Hugo
“I miss you too Young Michelle” goda Hugo
Michelle melepaskan pelukannya lalu berpaling ke Corradeo.
“Daddyyyy.. Daddy makin ganteng aja” goda Michelle
“Ehem !” dehem Nicholas dan Xavier keras
“Kedua Kakakku tetep yang paling ganteng-ganteng, hot daddy” goda Michelle
“Jadi, anak Daddy ini sekarang udah dewasa ya udah berani minum wine” sindir Corradeo
“Apa !!” teriak Nicholas dan Xavier tajam
“Nonno” bisik Michelle cemberut kesal
“Nonno keceplosan, sorry” ucap Dominico
“Siapa yang ngajarin kamu minum alkohol ?” tanya Xavier tegas
“Nggak ada kok Kak, beneran deh” jawab Michelle
“Apa kamu jadi sering ke bar juga selama disana ?” selidik Nicholas
“Jarang” jawab Michelle pelan
“Michelle !” panggil Niholas dan Xavier sedikit membentak
“Maaf Kak maaf banget” ucap Michelle mengatupkan kedua tangannya dan berdiri di balik punggung Dominico
“Terus wine darimana ?” tanya Nicholas menahan kesal
“Aku ngolah kebun anggur Nonno, Kak, aku cobain setiap wine disana” jawab Michelle
“Michelle, berapa banyak yang kamu minum selama sehari ?” tanya Xavier berusaha tenang
“Maaf..” ucap Michelle pelan
“Udahlah, Michelle udah dewasa, lagian disini ada Zeira, jangan ngomong hal kayak gini” ucap Corradeo
“Zeira, masuk, tunggu di dalem sama Mommy” perintah Xavier tegas
“Tapi Dad..” ucap Zeira
Xavier menatapnya tegas membuat Zeira segera masuk meninggalkan Michelle bersama para laki-laki disana.
“Kak, udah..” bujuk Ezra
“Berapa Michelle !” bentak Nicholas
“Sebotol Kak” jawab Michelle
“Michelle, kamu kenapa sih ?” tanya Xavier menatap Michelle sedih
“Aku nggak apa-apa Kak, maaf.. aku cuma mau bantu Nonno” jawab Michelle
“Terus kamu ngapain ke bar ?” tanya Nicholas menahan kesalnya
“Maaf” jawab Michelle
“Apa lagi yang kamu lakuin disana ?” tanya Xavier datar
“Nggak ada Kak, aku masih Michelle yang dulu, aku nggak berubah” jawab Michelle
“Kamu mau nutupin bakat kamu main biola ? tampil di setiap opera ? dan kamu yang jadi seorang seniman ?” tanya Corradeo
“Kak..” ucap Michelle lirih
“Pantes aja kamu lebih kurus Cel, kamu bukan cuma sibuk di perusahaan Nonno, tapi kamu sendiri yang cari kesibukan lain yang nyakitin diri kamu sendiri” ucap Xavier
__ADS_1
“Tapi aku seneng kok Kak, aku juga tetep jaga kesehatan” ucap Michelle
“Diluar kamu boleh ngomong kayak gitu, tapi nggak sama keluarga kamu sendiri” ucap Nicholas tajam
“Tapi aku nggak pernah sakit Kak selama tinggal disana” ucap Michelle
“Apa ini juga nggak sakit Cel ?” tanya Xavier menunjuk dada Michelle
Deg !
“Aku baik-baik aja” jawab Michelle mengepalkan kedua tangannya
“Baik ? kalau baik mana pacar kamu ? di Italia pasti banyak cowok yang naksir kamu” sindir Nicholas
“Aku.. ada kok, dia ada disana, nggak mau ikut kesini” jawab Michelle
“Michelle, minggu ini Axel mau nikah” ucap Nicholas
Ctar.. Ctar..
“Oh, selamat” ucap Michelle menegarkan hatinya
“Cel, jangan bohongin perasaan lo sendiri” ucap Ezra
“Kata siapa ? lo sendiri tahu kan gue nggak bisa bohong” ucap Michelle menggigit keras bibir bawahnya
“Aku masuk duluan, Zeira pasti khawatir” ucap Michelle
Michelle masuk dan langsung berlari ke kamarnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Michelle !” panggil Kyra
Kyra mengejar Michelle tapi Michelle langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya.
“Cel buka !! lo kenapa nangis ? cerita sama gue Cel !” ucap Kyra menggedor pintu kamar Michelle
Michelle memecahkan tangisannya di bawah guyuran shower yang menyaru suara tangisannya. Hatinya begitu sakit mendengar berita tentang Axel, sampai sekarang bahkan dia tidak tahu apa kesalahannya sampai Axel memutuskan hubungannya begitu dingin.
..
Tengah malam Michelle masih terjaga dari tidurnya. Dia membuka satu botol wine yang dibawanya dan meninumnya dalam gelas wine.
Dia memberikan semua cintanya untuk Axel dan mempercayakannya kalau Axel lah yang pertama dan terakhir untuknya.
Air matanya sudah habis menyisakan wajah sembab dan air mata yang mengering.
Tubuhnya sudah kuat meminum berbotol-botol wine yang kini dia rasakan seperti air mineral karena setiap kali meratapi kesedihannya dia akan melimpahkannya dengan wine atau minuman beralkohol lainnya.
Dulu lo bilang bakalan nemenin gue terus Xel.. bakalan gantiin Kakak yang udah berkeluarga.. Bakal ada di saat gue seneng maupun sedih..
Kemana semua janji manis lo itu ? padahal gue percayain diri dan hati gue seutuhnya buat lo..
Apa salah gue Xel ? gue mati-matian nolak cowok disana tapi pas gue pulang kesini denger berita itu..
Apa di hati lo bener-bener udah nggak ada gue lagi ?
Tapi hati gue.. -batin Michelle lirih
**
Pagi tiba, Michelle sudah berangkat ke perusahaannya bersama Emily tanpa sepengetahuan keluarganya.
Michelle sarapan di ruangannya ditemani Emily. Emily sendiri menyadari perbedaan Michelle dari semalam terlebih dia sendiri yang membuang enam botol wine dengan kadar alkohol cukup banyak dari kamar Michelle semalam mengingat Emily menginap di rumahnya.
“Nona, hari ini Tuan Simon akan datang menemui Nona perihal proyek yang akan Nona kerjakan bersama perusahaan Tuan Simon” lapor Emily
“Ya udah” jawab Michelle tanpa semangat
“Dan mengenai Tuan Sylvester..” ucap Emily menggantung
“Beliau masih menunggu keputusan Nona” lanjut Emily
“Hemm..” gumam Michelle malas
..
Simon pun datang dan Emily mengantarnya ke ruangan Michelle sesuai permintaan Michelle sebelumnya.
“Makin kurus aja Cel” ledek Simon
__ADS_1
“Setiap ketemu juga lo selalu ngeledekin gue kayak gitu” ketus Michelle
“Ya habis gimana ? lagian kenapa sih kalau ketemu mesti di luar negeri ? berat di ongkos nih” keluh Simon
“Cih, padahal CEO di perusahaan gede, masih aja ngeluh soal uang” sindir Michelle
“Kalau dibanding sama perusahaan lo kan beda jauh Cel, istilahnya kayak lo beli baju di butik gue di pasar kaget” ucap Simon
“Lo makin sering main sama yang lain omongannya makin ngeselin ya” ledek Michelle
“Mereka bilang mereka kayak gitu gara-gara temenan sama lo” adu Simon
“Wah, nyari masalah mereka” ucap Michelle
“Hahahaha..” tawa Simon
Mereka pun beralih ke bisnis, memasang wajah serius dan tegasnya membicarakan proyek yang mau Michelle lakukan bersama Simon.
..
Siang harinya, Axel mengajak Simon bertemu. Selama ini Axel tidak pernah sekalipun mau berurusan dengan Simon, tapi setelah kepulangan Michelle semalam dan melihat perubahan di diri Michelle, entah kenapa dia mau menemui Simon.
Mereka bertemu di dalam ruang privasi di salah satu restoran.
“Tumben banget nih nyariin gue, kenapa ?” tanya Simon
“Gue mau tanya beberapa hal sama lo, gue harap lo masih inget” ucap Axel datar
“Kayaknya serius banget, kenapa sih ? Tanya aja deh” ucap Simon
“Lo inget dua tahun lalu setelah kejadian penculikan keluarga gue sama keluarga Melviano ?” tanya Axel
“Oh, masih inget banget malah, seneng bisa gabung sama kalian” jawab Simon
“Bukan itu pertanyaan intinya.. malemnya gue lihat lo ngobrol sama Michelle, apa yang lo berdua obrolin ?” tanya Axel menyelidik
“Banyak sih, lo mau denger yang mana ?” tanya Simon balik
“Semuanya, dari awal” jawab Axel datar
“Oke.. malem itu gue masih belum tidur dan duduk di ruang tengah, gue denger ada suara dari mini bar, gue samperin aja dan itu Michelle.. gue duduk di sampingnya dan ngobrol sama dia..
Gue puji kehebatan dia pas aksi waktu itu, kayak biasa, dia nolak dipuji..
Terus gue nanya tentang dimana dia latihan nembak, main pisau, sampai berantem, lo tahu jawabannya apa ? dia bilang bakat, nyebelin kan ? tapi kalau berantem dia bilang sering latihan sama Kak Nicho sama Kak Vier..
Beralih dari itu kita obrolin tentang keahlian gue di bidang software kayak Saddam, dan kita ngobrolin tentang Saddam yang nggak mau dibantu itu..
Habis itu gue minta ajuin kerjasama di Compagnia del Cora Re karena gue baru tahu kalau Michelle pindah kesana..
Dan terakhir ini sebenernya gue nggak mau kasih tahu ke lo karena Michelle bilang dia mau kasih sebagai kejutan buat lo, tapi kayaknya sekarang nggak apa-apa deh, karena kalian udah putus..
Pas lo sama Michelle pergi tanpa kasih tahu siapa-siapa, Kak Nicho sama Kak Vier khawatir dan Kak Vier sempet curiga karena kalian berdua wangi spa, gitu deh.. terus akhirnya Kak Nicho mutusin buat bebasin kalian..
Yaa malem itu gue bilang ke Michelle dan dia seneng banget, sorry to say tapi gue ngobrolin tentang lo sama Michelle, Michelle seneng banget rencanain sesuatu yang bakalan bikin lo seneng, dia mau ajak lo liburan berdua, dan yaa lo tahu lah selanjutnya gimana” jelas Simon panjang lebar
Setelah itu Simon pergi karena dia harus bersiap menemui kliennya meninggalkan Axel yang masih termenung sendirian disana.
Dia mengutuki kebodohannya sendiri, jelas dia tahu Michelle dan Alya jauh berbeda tapi karena pengkhianatan yang membuatnya trauma mengakibatkan kehancuran kebahagiaan mereka satu sama lain.
..
Axel langsung menemui Nicholas dan Xavier di rumah sakit. Dia meminta pertolongan kedua Kakak Michelle itu untuk membantu hubungannya dengan Michelle lagi.
“Lo brengsek Xel ! lo suruh kita bilang kalau lo mau nikah cuma buat bikin Michelle makin menderita ! otak lo dimana ? harusnya semalem lo nggak pulang dan lihat apa yang Michelle lakuin di kamarnya !” bentak Nicholas mencengkram kerah kemeja Axel
Axel menatap bingung Nicholas yang mengusap kasar wajahnya dan berjalan menjauh dari sofa.
“Michelle nangis sampai air matanya habis, habis itu dia minum enam botol wine, gue yang tanya langsung ke Emily pas gue pergokin dia mau buang botol itu” ucap Xavier lirih
“Nick, Vie, please tolongin gue.. gue minta maaf udah bikin Michelle menderita.. tolongin gue buat jelasin semuanya ke Michelle, termasuk pernikahan bohongan itu, please..” pinta Axel memohon
“Gue nggak mau adik kesayangan gue lo sakitin lagi !! biar dia temuin kebahagiaannya sendiri” ketus Nicholas
“Vier..” ucap Axel memelas
“Sorry Xel, udah cukup selama ini kita bantuin lo, kalau emang lo serius sama Michelle, lo harus bisa tanggung jawab dan selesaiin semuanya sendiri” ucap Xavier
Axel tertunduk lesu, dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Akibat cemburu buta dan trauma asmaranya membuat kebahagiaannya bersama Michelle hilang.
__ADS_1
**