
Sampai rumah sudah jam sembilan malam.
Hari ini Michelle puas menghabiskan waktunya bersama kedua Kakaknya yang mengajaknya kesana kesini.
..
Masuk rumah, kedua Kakaknya masih memegang erat tangan Michelle seperti yang mereka lakukan sepanjang hari ini.
Seperti biasanya Arya dengan pelayan lainnya sudah berdiri di depan pintu kediaman Melviano setelah mendapatkan kabar dari penjaga gerbang kalau mobil yang Michelle dan kedua Kakaknya tumpangi sudah memasuki gerbang utama.
Dia segera menyiapkan sandal rumah bersama beberapa pelayan rumah dan membawa sepatu Michelle dan kedua Kakaknya ke lemari khusus sepatu keluarga Melviano.
“Daddy.. Mommy..” panggil Michelle dengan riangnya
“Waahh.. ini beneran Michelle anak Daddy bukan ya ?” goda Corradeo
“Bukan Dad, ini adik Vier, Michelle” celetuk Xavier mengecup lembut puncak kepala Michelle
“Enak aja, ini tuh Michelle adik Nicho” protes Nicholas mengecup lembut puncak kepala Michelle
“Moommyyy.. Ddadddyyy.. mereka rebutan kayak gini terus sepanjang hari diluar tadi” ucap Michelle mengadu
“Hahahahaha.. wajar darling.. kamu cantik banget sih” puji Leonore tersenyum lembut
Nicholas memanggil Arya lalu menyuruhnya untuk mengambil tas belanjaan mereka tadi untuk di cuci sebelum Michelle mengenakannya.
“Daddy sama Mommy harus lihat kelakuan Kakak.. mereka beli ini itu banyak banget buat aku” Michelle mengadu dan duduk disamping Corradeo
“Kakak kan sayang sama kamu” ucap Nicholas tersenyum lembut
“Sayang tahu nggak.. beliin nggak kira-kira.. lemari ku udah penuh tauk” gerutu Michelle cemberut
“Kakak bikinin ruang pakaian kamu digedein lagi biar lemarinya ikut tambah gede” ucap Xavier dengan semangatnya
“Kakaaakkk.. bukan gitu..” keluh Michelle yang bingung mau jawab apa
“Ah udahlah.. aku masuk kamar dulu ya semua.. aaaa nggak sabar mau ganti baju ini” gumam Michelle sambil berjalan menaiki tangga rumahnya
..
“Michelle cantik banget ya Mom” puji Corradeo masih terpesona melihat putrinya
“Of course, she is my daughter Dad” ucap Leonore dengan bangganya
“Heemm.. aku mau masuk kamar ya Mom, Dad” ucap Nicholas sopan lalu berjalan menaiki tangga
“Aku juga deh.. good night Mom, Dad” ucap Xavier menyusul Nicholas
..
Di dalam kamar, kedua Kakaknya itu sibuk melihat-lihat foto mereka dengan adik kesayangannya setelah ganti baju pastinya.
Nicholas memposting fotonya yang berdua dengan Michelle itu saat di koridor bioskop dan lounge di sosial medianya.
..
Di kamar Nicholas yang masih sibuk senyum-senyum sendiri melihat foto-fotonya sama Michelle itu, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
“Woi Nick” ucap suara laki-laki dari seberang sana
“Hemm” jawab Nicholas malas karena terganggu
“Itu cewek lo kan ? buruan cerita sama gue” ucap laki-laki itu memaksa
“Apaan sih Xel ? itu adik gue” jawab Nicholas
“Nggak mungkin, lo kan selalu bilang kalau adik cewek lo itu tomboy, ini mah feminin gitu.. foto-foto lo juga mesra kayak orang pacaran, masa foto sama adik sendiri cium-cium pipi, peluk gitu juga” keluh Axel, teman Nicholas
__ADS_1
“Ya emang kenapa ? adik gue sendiri kok, gue sayang sama dia” jawab Nicholas dengan nada datar
“Cih.. masih nggak mau cerita juga, dari kuliah sampai sekarang aja lo nggak pernah kasih lihat adik cewek lo itu ke gue” keluh Axel
“Kenapa ? gue nggak suka adik gue dikenalin sama orang-orang.. dia juga gitu, nggak suka pamer” jelas Nicholas dengan malasnya
“Ya udahlah, lo selalu bilang kayak gitu.. nikah sana, biar nanti pas gue dateng bisa ketemu sama adik kesayangan lo itu” ledek Axel
“Emang lo bakalan gue undang ?” ucap Nicholas datar tapi tajam
“Gila sih, sakit banget ucapan lo itu..” keluh Axel
“Udah ya, bye” ucap Nicholas lalu langsung menutup telefonnya
..
“Cantik banget sih.. mau itu adiknya apa ceweknya.. gimana ya kalau si bar-bar itu mendadak feminin ?” gumam Axel
“Cih.. ngapain mikirin dia.. udah gila gue kayaknya” gumam Axel lagi
**
Sore hari setelah Michelle selesai kuliah, dia menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu ke kafe tempat mereka bekerja.
Michelle mengendarai motornya lengkap memakai helm full face, slayer, dan sarung tangan motornya dengan seperti biasanya rambut yang diikat rapih dan dimasukkan ke dalam helmnya agar tidak kusut terbang-terbangan tertiup angin.
..
Siapa tuh orang ? perasaan gue udah suruh tutup lokasi, lagian kan kelihatan kalau kafe ini belum buka -batin Axel memicingkan matanya
Saat Michelle baru memarkir motornya, Ezra menghampiri Michelle dan berdiri disamping motor Michelle.
“Cel, gue sama anak-anak..” ucapan Ezra diputus Michelle
“Panggil nama painting gue Z” protes Michelle sambil melepaskan helmnya
“Nah.. gitu kan enak” jawab Michelle sambil turun dari motornya dan memasukkan kunci motor dan sarung tangannya ke tas
Mereka berdua tos ala kelompok pertemanan mereka.
“Ayo !” ajak Michelle
“Lo nggak lepas slayer lo ?” tanya Ezra
“Iya gampang sekalian jalan kan bisa” jawab Michelle
Michelle dan Ezra berjalan bersama memasuki kafe dan menemui Daffin dan Saddam disana.
Michelle pun melakukan tos ala kelompoknya lagi.
“Jadi bagian gue yang mana ?” tanya Michelle sambil menurunkan slayernya ke leher
“Lo yang yang bagian sana Mi, dua tembok itu buat lo” jawab Ezra merentangkan kedua tangannya
“Buat gue ? hahaha..” ledek Michelle
“Mi, coba lihat hasil gue, dimana kurangnya ?” tanya Daffin yang mundur dari temboknya
“Eum.. udah bagus, tapi pasti tetep sempurna hasil karya gue, hahaha..” ledek Michelle seperti biasanya
“Sialan lo Mi” gerutu Daffin mencubit pipi Michelle
“Hahaha.. udah ah gue mau mulai” ucap Michelle yang berjalan ke temboknya
Axel yang duduk tidak jauh dari mereka untuk melihat cara kerja Michelle dan ketiga temannya di hari pertama itu lebih fokus memperhatikan Michelle.
..
__ADS_1
Michelle mulai mempersiapkan dirinya.
Kemeja flannel sudah diikat di pinggangnya, slayer lain khusus untuk painting sudah terikat rapih di kepalanya.
Michelle melepas ikat rambutnya sebentar, menyisir dengan jari-jari tangannya lalu mengikat cepol asal keatas.
Wuaahhh.. nggak.. nggak.. nggak bisa mikirin kayak gini.. -batin Axel memalingkan wajahnya
Michelle memulai pekerjaan sekaligus hobinya itu.
..
Ezra, Saddam, dan Daffin beristirahat sebentar meninggalkan Michelle yang masih fokus painting.
Kenapa tuh cewek nggak ikut istirahat ? apa gara-gara dia datengnya telat ? tapi dia fokus banget -batin Axel penasaran
Axel masih duduk di tempatnya memperhatikan pekerjaan Michelle dan ketiga temannya itu.
Khusus untuk ini, Axel turun langsung ke lapangan padahal biasanya dia memerintahkan Roy yang memantau pekerjaan lapangan.
“Hei.. kamu nggak istirahat ?” tanya Axel dari tempat duduknya
Michelle masih tidak menghiraukan pertanyaan Axel karena selama bukan nama dia yang dipanggil dia tidak akan jawab.
“Hei cewek bar-bar.. saya ngomong sama kamu !” ucap Axel menahan kesal
Kesal karena Michelle masih tidak menjawab ucapannya, Axel berdiri dan berjalan kesal ke arah Michelle.
Axel menarik tangan Michelle menghadapnya, tapi Michelle langsung memutar pergelangan tangannya dan memegang erat pergelangan tangan Axel.
“Tolong tangannya dijaga” ucap Michelle tajam
Kenceng banget pegangannya.. ini cewek jangan-jangan cowok -batin Axel merinding
“Kenapa temen kamu tadi boleh cubit pipi kamu sedangkan saya cuma pegang tangan kamu buat lihat saya langsung marah ?” tanya Axel menahan kesal
“Bapak kenal saya ?” tanya Michelle datar melepaskan tangannya dari tangan Axel
“Kenal.. kamu cewek bar-bar yang nggak mau minta maaf karena kesalahan kamu” jawab Axel dengan PD nya
“Tahu nama saya ?” tanya Michelle yang masih datar
“Nggak” jawab Axel ketus
“Jadi.. udah tahu kan bedanya bapak sama temen-temen saya ? wajar kan saya bela diri saya dari orang yang nggak saya kenal ?” ucap Michelle tajam
Deg !!
“Cih.. cewek sombong” ucap Axel kesal
“Mending jadi cewek sombong daripada cowok kurang ajar” ucap Michelle datar
“What ?!!” ucap Axel kesal
“Mau saya cepet selesai ? apa mau ganggu saya kerja ?” tanya Michelle malas
Axel mendengus kesal lalu berjalan menjauh dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah kesal.
Sialan ini cewek ! gue mesti tahu siapa dia sebenernya -batin Axel merasa dipermalukan
“Roy.. cari tahu tentang cewek itu, gue mau tahu siapa dia sebenernya” ucap Axel ke sekertarisnya yang duduk disampingnya
“Baik Tuan” jawab Roy dengan tenang
Tuan, anda akan terkejut kalau sampai tahu siapa Nona Michelle sebenarnya -batin Roy
**
__ADS_1