
Sampai rumah sakit, Michelle bersama Emily langsung masuk lift ke lantai dimana kemarin Michelle dirawat.
“Nona, boleh saya tahu tujuan Nona kesini ? apa mungkin ada barang yang tertinggal ?” tanya Emily
“Sebenernya.. gue udah yakin siapa yang ngasih jam tangan ini, tapi nggak tahu kenapa gue pengen lihat langsung aja.. gue udah taruh balesan ucapannya di tempat yang sama, mungkin sekarang yang ngasih udah disana” jawab Michelle
“Tidak seperti biasanya Nona seperti ini” ucap Emily sedikit bingung
“Iya nih, gue juga nggak tahu” ucap Michelle bingung sendiri
Sampai di depan ruang VVIP dimana Michelle kemarin dirawat, Emily membukakan pintunya membuat Michelle dan Emily menatap dua orang yang tengah berdiri di dalam sana.
Michelle masuk lalu tersenyum melihat kenyataan kalau Axel yang memberikan hadiah jam tangan itu untuknya.
Axel yang lagi memegang selembar kecil langsung mengumpatkan kedua tangannya di balik punggung melihat Michelle.
“Mi.. Michelle.. lo ngapain kesini ?” tanya Axel gugup
“Ngapain ya ?” ucap Michelle pura-pura bingung
“Tuan, sepertinya saya harus cepat pulang” ucap Roy memberikan kunci mobilnya ke Axel
“Nggak usah Roy, gue nggak lama kok.. ayo Ly, kita pulang” ucap Michelle berbalik ke arah pintu keluar
“Tunggu Cel” panggil Axel
“Kenapa ?” tanya Michelle berbalik lagi menatap Axel
“Eum..” gumam Axel gugup
“Nona, sepertinya mobil merindukan saya, lebih baik saya ke basement sekarang” ucap Emily tersenyum tipis
“Ehem.. Emily, perlu temen ?” tawar Roy
“Modus aja lo, tapi nggak apa-apa deh, kayaknya Ly juga butuh temen” goda Michelle
“Kami permisi Tuan, Nona” pamit Emily dan Roy
Kedua sekertarisnya sudah keluar ruangan meninggalkan Michelle yang baru saja duduk di sofa membuat Axel berbalik menghadapnya.
“Mau sampai kapan diumpetin kertasnya ? apa mau gue yang ngucapin langsung ?” goda Michelle
Axel berdehem pelan berusaha menenangkan perasaannya lalu memasukkan kertas tadi ke dalam saku kemejanya.
“Kenapa nggak ngasih langsung ?” tanya Michelle to the point
“Eum.. itu..” jawab Axel mengusap tengkuknya
“Takut ditolak ? udahlah, lo pasti udah nanya-nanya duluan kan sama Kyra ?” tebak Michelle
Axel menganggukkan kepalanya pelan lalu duduk di samping Michelle.
“Eum.. Michelle, kok lo nggak dirumah ? kan Fares ke rumah lo ?” tanya Axel
“Lo ngusir ? ya udah gue pulang deh” ucap Michelle bangun dari duduknya
“Jangan !” ucap Axel memegang tangan Michelle
“Kenapa ?” tanya Michelle kembali duduk lalu menyandarkan punggungnya di sofa
“Eum.. Kyra kangen, minta lo nginep lagi di rumah” jawab Axel
“Yakin ? gue setiap hari telefonan sama dia loh, dia nggak minta gue nginep tuh” ucap Michelle tersenyum tipis
“Dia.. dia malu” ucap Axel memalingkan wajahnya dari pandangan Michelle
__ADS_1
“Kyra nggak punya urat malu kalau sama gue Xel” ucap Michelle dengan tenangnya
“Tapi dia ngomong gitu sama gue” ucap Axel kekeuh
“Coba gue telefon ya” goda Michelle
“Lupain ! eum.. ayo keluar” ajak Axel langsung berjalan meninggalkan Michelle
..
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju mobil Axel yang masih terparkir di basement.
“Kita makan aja ya” ucap Axel
“Tapi di kafe lo itu ya, gue kangen mau lihat gambar gue dulu” pinta Michelle
“Tapi disana nggak ada makanan berat Cel” ucap Axel
“Ya udah nggak apa-apa” ucap Michelle dengan tenangnya
..
Sampailah mereka di kafe berlogo siluet pohon olive berlatarkan gunung runcing layaknya gunung es.
Michelle tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu berjalan masuk bersama Axel dengan kecanggunan masing-masing sejak di perjalanan tadi.
“Di ruangan gue aja ya” ajak Axel
“Dih, ngapain banget ? kita kan kesini jadi tamu, ya duduk di meja tamu jugalah” gerutu Michelle
“Tapi rame Cel” ucap Axel
“Tapi kan masih ada meja kosong.. di atas masih ada meja kosong juga nggak ?” tanya Michelle menatap seorang pelayan disana
“Ada Nona” jawab pelayan itu dengan sopan
“Ya udah di atas aja” jawab Axel pasrah
..
Michelle dan Axel sudah duduk di meja layaknya pelanggan kafe. Seorang pelayan dipercaya untuk melayani meja pemilik tempat kerjanya itu memberikan buku menu dengan sopan.
“Lo mau langsung pesen ?” tanya Axel
Michelle cuma menganggukkan kepalanya tanpa memalingkan pandangannya dari buku menu
“Mau salad sayuran aja sama air mineral nggak dingin” ucap Michelle
“Itu aja ?” tanya Axel memastikan
“Hemm.. pengennya sih yang lain-lain, tapi belum ijin Kak Vier, nanti diceramahin” jawab Michelle
“Ya udah itu dulu aja, sama black coffee” ucap Axel
“Baik Tuan, kami siapkan segera” ucap pelayan itu
“Nggak usah buru-buru, ikutin antrian aja” ucap Michelle
Pelayan itu melirik Axel dan dijawab anggukkan malas Axel lalu pergi meninggalkan meja Michelle dan Axel.
“Cel, ke ruangan gue aja yuk” pinta Axel memelas
“Mau ngapain sih ? lo mau macem-macem sama gue ya ?” tanya Michelle memicingkan matanya
“What ! nggak Cel nggak, sumpah.. gue cuma risih banyak orang gini” ucap Axel memelankan suaranya
__ADS_1
“Biasainlah, sombong banget.. lagian emang kalau main sama Kak Nicho, Fares, sama Josh nggak pernah makan diluar apa ?” gerutu Michelle
“Yaa pernah, tapi seringnya kita makan di ruang privat” jawab Axel
“Axel, kalau ngajak gue keluar ya gue kayak gini, kalau lo nggak bisa ya udah lain kali jangan ajak gue keluar lagi” ucap Michelle serius
“Ya udah gue ngalah” ucap Axel pasrah
Tring.. Tring..
Michelle merogoh ponselnya, dilihatnya Xavier telefon.
“Apa Kak ?” tanya Michelle
“Kamu dimana ? kok belum pulang ? Kakak di rumah” tanya Xavier
“Aku lagi diluar Kak sama temen” jawab Michelle
“Dimana ?” tanya Xavier khawatir
“Ada deh, hehehe..” jawab Michelle meledek
“Michelle” panggil Xavier dengan suara rendahnya
“Di kafe tempat aku gambar dulu Kak” jawab Michelle
“Ugh, itu banyak Michelle, dimana ?” tanya Xavier lagi
“Tunggu, sebelum aku jawab, masih ada Fares di rumah ?” tanya Michelle
“Hem” gumam Xavier menahan kesalnya
“Kalau aku kasih tahu, Kakak jangan bilang siapa-siapa ya, apalagi Fares, aku nggak enak” ucap Michelle
“Jangan sampai Kakak telefon Alec dan jemput kamu pulang kesana ya Cel” ancam Xavier
“Astaga.. iya iya aku di Olive Cafe” jawab Michelle pasrah
“Sama siapa ? berapa orang ? kenapa nggak ngomong ?” tanya Xavier menyelidik
“Berdua sama Axel, Kak” jawab Michelle pelan
“Apa ?!!!!” teriak Xavier
“Kak Kak.. sabar Kak, tenang..” ucap Michelle mengelus dadanya yang terkejut
“Kasih ponsel kamu ke dia” perintah Xavier
Michelle menelan salivanya kasar lalu menyodorkan ponselnya ke Axel, memberikan isyarat kalau kontak yang dia namai my second boy mau bicara dengannya.
“Halo” ucap Axel
“Kenapa tiba-tiba deketin adik kesayangan gue ? selama ini lo selalu nggak peduli sama Michelle, bilang lo ada niat apaan deketin Michelle ?” tanya Xavier tegas
“Kan lo tahu gimana perasaan gue buat dia” jawab Axel dengan tenangnya
“Sialan lo Xel ! pulangin Michelle sekarang juga !” perintah Xavier
“Kita baru sampai dan Michelle belum makan, habis Michelle selesai makan gue anterin ke rumah, dengan syarat Fares udah pulang” ucap Axel
“Awas kalau sampai adik kesayangan gue kenapa-napa” ucap Xavier terdengar seperti ancaman
“Iya Vie, gue bakalan jagain Michelle” ucap Axel sungguh-sungguh
“Balikin ponselnya ke adik kesayangan gue” ucap Xavier ketus
__ADS_1
**