Ms. Perfect

Ms. Perfect
Pulau Nami In Love


__ADS_3

Sampailah mereka di pulau Nami. Mereka sengaja menyewa di beberapa titik agar bisa lebih leluasa menikmati spot disana.


Di lorong dengan sederet pepohonan khas yang tinggi tiba-tiba Xavier menahan langkah semuanya membiarkan Nicholas berjalan menuntun Nadine ke depannya.


“Kak ?” tanya Michelle bingung


“You will see honey” jawab Xavier


Mereka berdiri berhadapan sampai akhirnya Nicholas berlutut dengan satu kakinya dan merogoh sebuah kotak kecil sambil memegang lembut tangan Nadine.


“Nadine.. aku tahu kita baru ketemu lagi setelah sekian tahun, tapi perasaan aku ke kamu nggak pernah berkurang selama ini.. Nadine, aku mau kita ke tahap yang lebih serius..


Nadine.. will you marry me ?” tanya Nicholas tersenyum hangat


“Nicho.. I will” jawab Nadine menitikkan air mata


Nicholas bangun lalu memeluk erat Nadine setelahnya dia memakaikan cincin berlian di jemari tangan Nadine.


“Kak, mereka.. ?” tanya Michelle menggantung


“Hemm, Kak Nicho melamar Kak Nadine, you happy honey ?” tanya Xavier balik


Michelle berbalik, membenamkan wajahnya di dada Axel dan menangis disana.


“Kamu sedih ?” tanya Axel


Michelle menggelengkan kepalanya.


“Kamu seneng Nicho mau nikah ?” tanya Axel lagi


Michelle kembali menggelengkan kepalanya lalu mendongakkan kepalanya membuat Axel mengelap air mata Michelle dengan ibu jarinya yang terbungkus sarung tangan.


“Sekarang aku cuma punya kamu, Kakak udah bahagia” ucap Michelle


“Kata siapa kamu cuma punya Axel sekarang ?” tanya Nicholas


Tidak menjawab, Michelle kembali membenamkan wajahnya di dada Axel.


“Honey.. Kakak kan nggak kemana-mana” ucap Nicholas mengelus lembut rambut Michelle


“My Michelle..” panggil Xavier


“Baby, ayo temuin Kakak kamu dulu” bujuk Axel


Michelle melepaskan pelukannya lalu berbalik menatap kedua Kakaknya yang berdiri di depannya. Nicholas langsung memeluk erat Michelle sementara Xavier mengelus lembut rambut Michelle.


“Jangan ngomong kayak gitu, Kakak nggak pergi ninggalin kamu” ucap Nicholas


“Kakak kalau nikah nanti nggak tinggal di rumah lagi kayak Kak Vier” ucap Michelle


“Kakak tinggal di rumah honey” ucap Nicholas mengecup lembut puncak kepala Michelle


“Beneran ? Kakak nggak ninggalin aku kayak Kak Vier ?” tanya Michelle mendongakkan kepalanya


“Heiii.. Kakak nggak terima ya dibilang ninggalin kamu” protes Xavier


“Tapi kan emang Kakak ninggalin aku, ya kan Kak ?” tanya Michelle


“Hemm, lupain dia, alibinya doang tinggal di rumahnya yang sekarang biar deket ke rumah sakit, padahal dia sendiri pemiliknya” ucap Nicholas menjelekkan Xavier


“Iya Kak, Kak Vier kan anak Mommy nggak kayak kita anak Daddy, Kak” ucap Michelle


“Hei !!” protes Xavier cemberut kesal


Michelle pun berjalan bersama Nicholas sambil berpegangan tangan dengan riangnya dan terus meledek Xavier.


“Kak Nicho, Michelle !” panggil Xavier


“Dokter marah Kak” ledek Michelle


“Sebentar lagi pasti ngancem mau operasi organ tubuh kita” ledek Nicholas


“Heeiii !!” teriak Xavier


Xavier berjalan cepat mengejar Kakak dan adiknya itu membuat Nicholas menarik tangan Michelle berlari menjauhi Xavier sambil meledek dan menertawakannya di bawah hujan salju yang ringan.


“Kok jadi gue yang terharu ya” ucap Ezra


“Sama, kalau dijadiin novel seru kali ya” ucap Joshua


Kakak beradik itu sibuk saling melempar bola salju satu sama lain sambil tertawa sampai lupa kalau mereka liburan bersama yang lainnya.


“Kakak.. hahahahaha..” Michelle tertawa takut saat Xavier berhasil mendapatkannya


“Sini kamu” ketus Xavier


“Jangan ganggu adik kesayanganku lagi Vie” ucap Nicholas

__ADS_1


“Wllleeeeeee” ledek Michelle menjulurkan lidahnya ke Xavier sambil melempar bola salju tepat mengenai dada Xavier


“Issshh” gumam Xavier gemas


“Mommy, aku mau nyusul Daddy” pinta Zeira


Zeira pun berlari ke arah Kakak beradik itu.


“Daddyyyy..” panggilnya


Michelle mengisyaratkan meminta Nicholas menggendongnya di punggung membuat Zeira minta ikutan ke Xavier. Mereka berputar sambil tertawa bersama.


“Nick, turunin pacar gue !” protes Axel


“Nggak-mau !” jawab Nicholas


“Nniiichhooo !!” teriak Axel mendekati Nicholas


Nicholas berlari menghindari Axel membuat Michelle menertawakan Axel.


..


Mereka puas bermain-main disana sambil menikmati pemandangan, berfoto ria, juga saling lempar salju.


Di dalam gerbong kereta yang mengantar mereka kembali, Zeira memilih duduk di samping Michele.


“Aunty, ajalin aku belajal bahasa Kolea” ucap Zeira


“Emang kamu mau ngomong apa sayang ?” tanya Michelle


“Eum.. tapi Daddy ngelti nggak Aunty ?” tanya Zeira


“Nggak, kalau kamu mau Daddy ngerti, kamu belajar bahasa Italia, karena Grandpa berasal dari Italia” jawab Michelle


“Oke, ajalin aku Aunty” pinta Zeira penuh semangat


..


Zeira langsung berjalan ke arah orang tuanya yang duduk bersama Nicholas dan Nadine setelah Michelle membisikkan sesuatu ke telinga Zeira lalu duduk di pangkuan Xavier


“papà, mi manchi


(Daddy, aku merindukanmu)” ucap Zeira menatap wajah Xavier dalam-dalam


“Anche a papà manchi, mio caro figlio


(Daddy merindukanmu juga anakku sayang)” ucap Xavier tersenyum lembut


“Daddy kangen sama kamu juga sayang” jawab Michelle


Zeira kembali ke dekat Michelle lalu membisikkan sesuatu membuat Michelle tersenyum tipis dan memberitahukannya dalam bahasa Italia.


“papà, mi manca giocare con papà a casa (Daddy, aku kangen main sama Daddy di rumah)” ucap Zeira


“papà andava sempre in ospedale e tornava a casa quando dormivo


(Daddy selalu pergi ke rumah sakit dan pulang pas aku udah tidur)” ucap Zeira lagi


“Mi manca papà (aku kangen Daddy)” ucap Zeira cemberut


“Cel, kasih tahu artinya apaan, gue nggak ngerti” ucap Kyra dari balik tempat duduk Michelle


Michelle tersenyum dan menyuruh Zeira memeluk Xavier yang menatap haru anaknya itu.


“Zeira kangen main sama Kakak, dia bilang Kak Vier selalu pergi ke rumah sakit dan pulang setiap Zeira udah tidur” ucap Michelle


“Oh god keponakan gue pinter banget udah ngerasain kesepian” ucap Kyra tersenyum haru


“Nggak ada keponakan lo ya, Zeira itu keponakan gue !” protes Michelle


“Ayolah Kakak ipar, keponakan lo keponakan gue juga” rayu Kyra


“Cih, minta sama Kakak lo sana” ketus Michelle


“Baby, kalau gitu aku butuh bantuan kamu buat kasih Kyra keponakan” goda Axel


“Ish, mesum” ucap Michelle memicingkan matanya


“My Michelle..” panggil Xavier


“Kenapa Kak ?” tanya Michelle


“Apa kamu mau sampaiin sesuatu buat Kakak ? kayak Zeira ?” tanya Xavier


“Eum.. nggak ada” jawab Michelle


“Ayolah honey” rayu Xavier

__ADS_1


“Nanti aja ya” ucap Michelle


Xavier menatap Michelle dengan cemberutnya membuat Michelle mengalah dan menyampaikan keluhannya selama ini.


“Fratello, mi manca anche giocare con te, mi manca il fitness con te, cucinare nuovi esperimenti, guardare film, giocare a ps, camminare, accompagnarti ogni volta che dormi, mi manchi


(Kakak, aku juga kangen main sama Kakak, aku kangen fitness sama Kakak, masak eksperimen baru, nonton film, main ps, jalan jalan, ditemenin setiap mau tidur, aku kangen Kakak)” ucap Michelle


Xavier menjulurkan tangannya ke Michelle membuat Michelle duduk di sampingnya lalu memeluknya.


“Maafin Kakak honey” ucap Xavier


“Nggak apa-apa Kak, aku ngerti” ucap Michelle


“Kak, kalau keluarga kita selain bahasa Indonesia terus bahasa apa Kak ?” tanya Kyra


“Bahasa Jerman” jawab Axel


“Kok Daddy sama Mommy nggak pernah ajarin kita sih Kak ?” tanya Kyra lagi


“Lupa ya ? waktu kecil Kakak sering ajarin kamu bahasa Jerman tapi kamu selalu ngeluh susah, ribet” ketus Axel


“Masa sih Kak ? bohong kaliii” ucap Kyra


“Terserah kamu” jawab Axel


“Iceberg” panggil Michelle yang kembali duduk di samping Axel


“Hemm” gumam Axel


“Ich liebe dich (aku mencintaimu)” ucap Michelle memamerkan senyum manisnya


“Ich liebe dich auch (aku mencintaimu juga)” jawab Axel tersenyum hangat


“Hei, kalian ngomong bahasa apaan ?” gerutu Fares


“Bahasa keluarga Oliver” jawab Michelle


“Michelle, lo bisa bahasa apaan lagi sih ? banyak banget” gerutu Kyra


“Kenapa ? iri ya ?” ledek Michelle


“Ajarin dong” pinta Kyra


Michelle duduk di samping Kyra lalu membisiki sesuatu.


“Schatz, deine Fürze stinken


(sayang, kentutmu bau)” ucap Kyra sambil tersenyum


“Hahahahahahahahaha..” Michelle, Nicholas, Xavier, dan Axel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kyra


“Gue yakin artinya ngeledek nih” ucap Saddam curiga


“Gue sampai rekam pas Kyra ngomong, nih artinya” ucap Daffin menunjukkan layar ponselnya


“Hahahahahaha..” Saddam, Daffin, Fares, dan Joshua pun menertawakan Ezra


“Sayang maaf ya, aku kan nggak tahu artinya apa” ucap Kyra


“Nggak apa-apa, ini kan ulahnya si bos mafia itu” gerutu Ezra


“Dih Ezra gitu aja ngambek” goda Michelle


“Lo ngeselin lagian, pengen gue lempar ke tengah salju sekalian” ketus Ezra


“Ayo aja, tapi sama Kyra” tantang Michelle


“Enak aja bawa-bawa Istri tercinta gue” protes Ezra langsung merangkul bahu Kyra


“Lebay banget lo Zra” celetuk Daffin


“Lo baru tahu ? dia kan emang kayak gitu” ledek Michelle


“Bucin tuh temen lo” ledek Saddam


“Temen siapa ?” tanya Michelle dan Daffin


“Temen lo berdua lah” jawab Saddam


“Emang lo temennya Ezra, Daf ?” tanya Michelle


“Sejak kapan ? jangan hoax, lo kali temennya Ezra” ucap Daffin


“Pembohongan publik tuh” protes Michelle


“Idih bisa darah tinggi gue satu circle sama lo pada” gerutu Ezra

__ADS_1


“Hahahahahaha..” tawa Michelle, Saddam, dan Daffin


**


__ADS_2