Ms. Perfect

Ms. Perfect
Luka Tembak


__ADS_3

Michelle mengeluarkan air gun lainnya yang dia simpan di balik celananya dan langsung menembak tangan Clara.


“Aaaaaarrrgghhhhhhhh !!” teriak Clara kesakitan


“Michelle stop, ini nggak akan ada habisnya” ucap Nicholas menenangkan Michelle


“Dia yang mulai.. Alec, lanjutin tugas lo” ucap Michelle dengan dinginnya


“Tapi Nona.. bagaimana dengan Nona ?” tanya Alec


“Urusan gue belum selesai sama dia” ucap Michelle menunjuk Clara dengan ujung senjatanya


“Michelle, bahaya.. lo nggak inget sama kejadian sebelumnya ?” tanya Axel khawatir


“Oke, gue nggak pakai senjata” ucap Michelle melemparkan senjatanya ke Axel


“Nggak gini maksudnya Cel” ucap Axel


“Hahahahaha !! cewek murahan kayak lo bisa apa sih ? lo mau bunuh gue ? silahkan” pancing Clara


“Oh, udah siap mati ?” tanya Michelle datar


Michelle menendang wajah Clara sekencang mungkin.


“Gue udah berbaik hati nggak akan main tangan karena tangan lo sendiri luka, gimana ?” tawar Michelle


“Cih.. gue nggak peduli ! sekarang gue udah tahu lo siapa ! lo tahu ? gue udah kirim orang buat mata-mata di rumah Melviano, ternyata lo cuma adik Nicholas ! selain itu, gue dapet keuntungan lain, gue bisa lihat Nicholas setiap hari.. mau lihat ? lo cuma lihat Nicholas sampai pakai handuk doang kan ? gue, gue lihat Nicholas nggak pakai apa-apa..


Ternyata Nicholas selalu mandi shower setiap pagi dan sorenya berendam di bathup dulu sebelum mandi shower, astaga lo bener, tubuhnya manggil-manggilin” jelas Clara dengan senyum liciknya


Tidak tahan, Michelle mencekik Clara dan menariknya ke atas sampai kedua kaki Clara hampir tidak menyentuh lantai.


“Michelle.. honey.. please stop it” pinta Nicholas


“Gue.. selangkah lebih deket tentang Nicholas” ucap Clara lirih


Michelle melempar tubuh Clara begitu saja dan langsung menghajarnya habis-habisan.


Tanpa sadar air mata Michelle keluar.


Dia bangun dan berjalan ke arah Kakaknya.


“Boleh aku bunuh dia sekalian ?” tanya Michelle sesegukan


“Jangan lakuin itu Cel” bujuk Joshua


“Michelle, lo bukan pembunuh” bujuk Fares


“Michelle.. bukan, lo bukan Michelle” ucap Axel lirih


“Alec, urus dia !” perintah Nicholas


Nicholas membawa adik dan teman-temannya beserta sekertaris mereka berjalan keluar dari sana.


Dorr..


“Mampus lo sialan !” teriak Clara dengan tubuh lemasnya


Peluru berhasil tertanam di bahu belakang Michelle.


Tanpa pikir panjang, Michelle mengambil senjata di tangan Axel tadi lalu menembak kedua mata Clara dan kepalanya tanpa ampun.


Tangan Michelle bergetar dengan air matanya yang terus menerus terkuras.

__ADS_1


Nicholas langsung menggendong tubuh Michelle yang hampir jatuh dan sudah pingsan itu.


“Kita ke rumah sakit Kak, aku bakalan operasi Michelle” ucap Xavier menitikkan air matanya


Fares menghubungi kenalannya untuk membuka jalan mereka menuju rumah sakit.


Sementara para sekertaris menangani Clara dan Christian bersama para pengawal.


..


Sampai rumah sakit, Nicholas langsung menggendong Michelle sementara Xavier berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


“Siapin ruang operasi khusus VVIP ! dan panggil Nathan, Arkan, sama Devan ke ruang operasi, sekarang !!” perintah Xavier dengan mata berkaca-kaca


Semua karyawan rumah sakit langsung gemetar ketakutan dan menuruti perintah Xavier.


Michelle langsung direbahkan di ranjang pasien dengan para suster sigap membantu Nicholas dan Xavier yang langsung turun tangan mendorong ranjang pasien adik kesayangannya itu.


..


Michelle sudah berada di dalam ruang operasi bersama Xavier dan dokter pilihannya sementara Corradeo dan Leonore baru datang bersama Daniel dan Paula


“Michelle kenapa Nick ?!!!” teriak Leonore yang sudah menangis kencang


Nicholas tidak menjawab dan Corradeo menarik tangan Nicholas.


“Ini darah siapa Nick ? bukan darah Michelle kan ? baju kamu juga penuh darah, bilang sama Daddy ini bukan darah Michelle !!” bentak Corradeo


“Im sorry Dad” jawab Nicholas menundukkan kepalanya


Daniel dan Paula pun langsung memeluk Kyra dengan tangisannya.


..


Xavier keluar ruang operasi dengan tergesa-gesa membuat semuanya panik.


“Ayo ! ambil darah Kakak sebanyak-banyaknya” ucap Nicholas tegas


Nicholas langsung dibawa masuk ke dalam ruang operasi dan lengkap mengenakan seragam scrub lalu berbaring di samping Michelle membiarkan darahnya langsung mengalir ke dalam tubuh adik kesayangannya melalui selang yang menyambung dari tangannya ke tangan Michelle.


Nicholas menegarkan dirinya menatap adik kesayangannya yang pucat dan lemah.


Kamu harus selamat adik kesayangan Kakak.. kamu nggak boleh ninggalin Kakak.. -batin Nicholas dan Xavier


Sementara keluarga dan teman-teman Michelle tengah berdiri menatap kaca besar dan bisa melihat langsung proses operasi.


“Lo harus selamat Cel, lo harus bangun, lo kuat.. temen gue cewek terkuat.. lo masih punya janji buat liburan bareng gue lagi.. lo janji Cel.. lo harus bangun..” ucap Kyra terisak dalam pelukan Ezra


“Michelle kuat Ra, Michelle pasti bangun” ucap Ezra menenangkan Kyra


“Kyra” panggil Corradeo lirih


Ezra melepaskan pelukannya membiarkan Kyra berbicara dengan Corradeo.


“Siapa yang lakuin ini ? kasih tahu Uncle, Ra” ucap Corradeo dengan tubuh bergetar menahan tangisannya pecah


“Mereka.. mereka Christian.. dan Clara, Uncle” jawab Kyra terisak


Corradeo mengepalkan kedua tangannya.


“Siapa mereka ?” tanya Corradeo tajam


“Clara perempuan yang selama ini ngejar Nicho, anak pemilik perusahaan XX” jawab Axel

__ADS_1


“Dan Christian adiknya” lanjut Kyra


“Dimana mereka yang berani celakain anak-anak Melviano ?!!” bentak Corradeo


“Uncle.. Christian udah aman sama para sekertaris” jawab Joshua


“Dan yang perempuan brengsek itu ?!” tanya Corradeo dengan aura gelapnya


“She is dead.. Michelle killed her” jawab Axel menunduk sedih


“Michelle ? nggak mungkin Michelle bunuh orang Axel” ucap Daniel tidak percaya


“Kenyataannya begitu Dad, aku sendiri yang lihat” jawab Axel sungguh-sungguh


“Dad.. my daughter..” ucap Leonore lirih


“Mommy takut sama anak sendiri ?” tanya Corradeo


“No ! its just..” jawab Leonore langsung membenamkan wajahnya di dada Corradeo


Corradeo mengambil ponselnya lalu menelefon Dion.


“Dion, kamu masih disana ?” tanya Corradeo


“Masih Tuan Besar, kami menunggu perintah selanjutnya karena disini banyak musuh yang mati” lapor Dion


“Kirim foto tentang dua orang yang memimpin mereka sekarang” perintah Corradeo


“Baik Tuan Besar.. bagaimana dengan mayat mereka Tuan ?” tanya Dion


“*Kalian bakar mereka beserta semua barang buktinya, jangan tinggalkan jejak sedikitpun dan bawa pemimpinnya ke tempat biasa, buat dia berharap kematian menjemputnya..


Buat seluruh keluarganya jadi gelandangan dan bikin nggak ada satupun yang berani bantu mereka” perindah Corradeo dengan tajamnya*


“Laksanakan Tuan Besar” jawab Dion


Tidak seperti biasanya Tuan Besar semarah dan sekejam ini.. -batin Dion


“Uncle.. Uncle yakin mau lakuin hal itu ?” tanya Axel tercengang


“Selama ini Uncle selalu bersikap baik walaupun tahu kesalahan orang lain, tapi kali ini nggak ! mereka udah berani-beraninya ngusik Uncle dan celakain anak-anak Uncle ! mereka harus tanggung akibatnya” ucap Corradeo dengan aura gelapnya


“Dad.. Daddy bukan mafia, jangan lakuin hal itu” pinta Leonore


“Corre, nggak biasanya kamu sekejam ini” ucap Daniel memegang bahu Corradeo


“Aku belajar dari Michelle, selama ini aku terlalu baik ke setiap orang sampai aku telat beresin semuanya dan bikin anak-anakku terluka” ucap Corradeo menatap kaca ruang operasi


Tingg..


Corradeo melihat foto yang dikirim dari Dion.


“Oh shit ! Michelle is really cruel !” gumam Corradeo


Axel bersama Fares dan Joshua memilih menjaga Leonore dan Paula agar tidak ikut melihatnya sementara Kyra bersama Daniel, Ezra, Saddam, dan Daffin langsung mendekati Corradeo untuk melihat fotonya.


“Oh god ! Michelle bener-bener bos mafia” gumam Daffin


“Astaga, she is like her grandpa” ucap Daniel


“Yaa, kamu bener Daniel.. Michelle sekejam Daddy” ucap Corradeo


“Maksud Uncle ?” tanya Kyra mencoba berpikir jernih

__ADS_1


“Belum waktunya kamu tahu Kyra" ucap Daniel


**


__ADS_2