Ms. Perfect

Ms. Perfect
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Michelle mengajak Ezra masuk ke ruang kerja Nicholas karena sebelumnya Michelle sudah bilang ke kedua Kakaknya itu akan ucapan Ezra tempo hari.


Seperti biasa, Michelle dilarang masuk ke ruang kerja Nicholas kalau ada laki-laki yang minta ijin dari kedua Kakaknya itu.


Arya yang sudah ditugaskan oleh kedua Kakaknya langsung mengusir halus Michelle dari depan pintu ruang kerja Nicholas.


Michelle turun dan bolak balik di bawah tangga, gelisah akan jawaban dari kedua Kakaknya.


Semoga omongan Kak Nicho sama Kak Vier nggak nyakitin Ezra.. semoga mereka dengerin ucapan gue yang sedikit ngancem mereka buat nggak galak-galak sama Ezra -batin Michelle gelisah


..


Ezra menuruni tangga dengan senyum yang bisa Michelle tahu jawabannya apa, sementara kedua Kakaknya berdiri di atas tangga mengantar kepergian Ezra.


Michelle mengajak Ezra ke gazebo di halaman samping rumahnya.


“Tenang aja Cel, gue udah janji buat nggak ganggu hubungan pertemanan kita” ucap Ezra dengan senyum getirnya


“Tapi lo pasti tersinggung kan sama semua ucapan Kakak gue ? gue tahu persis mereka pasti dingin, nggak ada rasa kasihannya sama sekali.. itu juga yang bikin gue khawatir sama lo Zra” ucap Michelle dengan tatapan sendu


“Nggak kok.. kedua Kakak lo baik.. mereka bener-bener sayang sama lo.. gue balik ya Cel” pamit Ezra bangun dari duduknya


“Ezra” panggil Michelle cemberut


Michelle bangun dan Ezra langsung memeluk Michelle erat, begitu juga Michelle yang membalas pelukan Ezra.


“Please jangan pernah berubah.. senyaman itu gue temenan sama lo Zra.. please” ucap Michelle memohon dalam pelukannya


“Iya Cel, gue nggak bakalan berubah.. gue penasaran sama cowok yang akhirnya bisa luluhin hati lo dan kedua Kakak lo itu” ucap Ezra dengan tenangnya sambil melepaskan pelukannya


“Gue sama sekali nggak kepikiran itu.. gue nggak mau kehilangan lo” ucap Michelle serius


“Udah Cel, gue beneran nggak kenapa-napa.. gue balik ya” ucap Ezra tersenyum lembut


“Ya udah” jawab Michelle mengalah


Michelle mengantar Ezra ke halaman rumahnya dan masuk rumah saat motor Ezra sudah keluar gerbang tinggi rumahnya.


..


Michelle langsung mencari kedua Kakaknya lalu membicarakan apa yang mereka bicarakan sama Ezra.


“Michelle, jawab Kakak.. apa kamu suka sama Ezra ?” tanya Nicholas tegas


“Nggak, aku cuma anggap Ezra temen doang” jawab Michelle dengan tegasnya


“Kenapa kamu penasaran dan gelisah banget sama Ezra ?” tanya Xavier serius


“Karena aku takut apa yang terjadi setelah ini bikin hubungan pertemanan aku sama Ezra jadi hancur” jawab Michelle tertunduk sedih


..


Setelah Michelle keluar ruang kerja Nicholas dan masuk kamar, Nicholas dan Xavier melanjutkan obrolannya di ruang kerja Nicholas.


“Ezra beneran tulus sama Michelle, Kak” ucap Xavier merasa sedih


“Sayangnya Michelle nggak suka sama Ezra, Vie.. kalau Michelle suka sama Ezra pasti udah Kakak ijinin” ucap Nicholas ikut merasa sedih


“Iya sih Kak.. kelihatan banget selama ini kalau sikap Michelle nggak ngebeda-bedain temen-temennya itu, tapi tatapan dan sikap Ezra ke Michelle yang bikin aku bisa terima Ezra” ucap Xavier menyandarkan kepalanya di sofa


**


Hampir satu bulan berlalu, Michelle masih belum mulai bekerja di perusahaan Melviano Corp. karena selain Nicholas, Corradeo juga memberikan waktu untuk Michelle istirahat.


..

__ADS_1


“Woi, lo dimana ?” tanya Ezra menelefon Michelle


“Di kamar, kenapa Zra ?” tanya Michelle balik


“Ada kerjaan banyak nih, gue mau ajak lo lihat lokasinya” jawab Ezra seperti biasanya


“Ayo ! di mana Zra ?” tanya Michelle bersemangat


“Di jalan G, gue samper lo ya” jawab Ezra tenang


“Tapi gue bawa motor sendiri ya, gue kangen banget ngendarain motor gue Zra” ucap Michelle sesedih mungkin


“Iya iya atur aja.. ya udah sana lo siap-siap, gue mau jalan” ucap Ezra ketus


“Cih, ketua ketus” gumam Michelle


“Gue denger ya wakil judes” balas Ezra tidak mau kalah


“Hahahaha.. ya udah bye” ucap Michelle mematikan telefonnya


Michelle langsung ganti baju dan bersiap menunggu kedatangan Ezra dirumahnya.


..


“Mau kemana darling ?” tanya Leonore yang baru turun tangga


“Mau lihat lokasi painting sama Ezra, Mom” jawab Michelle dengan tenangnya di bangku mini bar


“Dimana ?” tanya Leonore penasaran


“Di jalan G, Mom” jawab Michelle melihat layar ponselnya


“Ya udah, baru juga Mommy mau ajak kamu belanja” keluh Leonore kecewa


“Anak Mommy kamu apa Kyra ? Mommy mau belanja mau ke salon sama kamu” ucap Leonore mengacak-acak rambut Michelle


“Duhh.. bukan aku banget Mom” keluh Michelle merapihkan rambutnya


..


Arya datang menghampiri Michelle dan Leonore.


“Nona muda, Tuan Ezra sudah datang dan menunggu Nona di halaman depan” lapor Arya


“Loh, dia nggak mau masuk dulu Pak ?” tanya Michelle bingung


“Tidak Nona.. Tuan Ezra bilang ingin langsung pamit saja” jawab Arya


“Hemm, oke deh.. Mom, aku berangkat ya” pamit Michelle memeluk Leonore


“Hati-hati dijalan ya darling” ucap Leonore lembut


“Aye aye kapten” jawab Michelle dengan semangatnya sambil hormat


Michelle berjalan cepat ke sofa depan, memakai sepatunya lalu berjalan keluar diikuti Arya dan beberapa pelayan rumahnya.


Michelle tos ala kelompoknya dengan Ezra lalu mulai memakai perlengkapan motornya dan mengendarai motornya keluar rumah.


Para pengawal Michelle tetap mengikuti dari jarak yang aman di belakang Michelle.


..


Sampai di lokasi, Michelle dan Ezra memarkir motornya dan melepas helmnya.


“Beneran lokasinya disini Zra ?” tanya Michelle berdecak kagum

__ADS_1


“Iya, gue udah dikasih lihat beberapa fotonya sebelum kesini” jawab Ezra mengedarkan pandangannya mencari seseorang


Seorang pria ber jas abu-abu dengan gagahnya berjalan menghampiri Michelle dan Ezra diikuti dua orang laki-laki ber jas hitam dengan penampilan seperti pengawal.


“Selamat sore, perkenalkan saya sekertaris Evan” ucap laki-laki ber jas abu-abu yang bernama Evan itu


“Sore, saya Z selaku ketua kelompok mural dan dia Mi, wakil saya” ucap Ezra dengan ramahnya


“Ah ya.. mari ikut saya ke dalam” ajak Evan sopan


Michelle dan Ezra berjalan di belakang Evan sambil melepaskan slayer dan sarung tangannya diikuti kedua pengawal tadi.


..


Masuk ke dalam ruangan yang besar, Michelle dan Ezra duduk di sofa berdampingan sedangkan sekertaris Evan duduk di depan mereka dengan beberapa lembar kertas berisi surat perjanjian dan design yang mereka inginkan.


“Sepertinya kalian sudah melihat lokasinya.. bagaimana menurut kalian ?” tanya Evan


“Apa pekerjaan kami di tembok besar di depan tadi ?” tanya Michelle penasaran


“Ya Nona..” jawab Evan terpotong


“Maaf, tolong panggil Mi aja” ucap Michelle memotong ucapan Evan


“Baiklah, Mi.. selain dua tembok besar disana, saya juga menyiapkan tembok di halaman belakang, tapi saya minta dengan design yang berbeda” ucap Evan


“Kalau boleh tahu tempat ini mau dipakai jadi apa ya ?” tanya Ezra sopan


“Toko otomotif, dan di halaman belakang akan dibuat kafe kecil untuk para pengunjung” jawab Evan menjelaskan


Evan menjajarkan beberapa kertas di atas meja menghadap Michelle dan Ezra sambil menjelaskan detail pekerjaan mereka.


Michelle, Ezra, Daffin dan Saddam diberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Mereka juga akan diberikan wearpack untuk bekerja.


“Dan untuk upah kalian, saya akan berikan setengahnya di awal dan setengah lagi di akhir” ucap Evan


“Di akhir dengan catatan di hari yang sama setelah anda menilai hasil pekerjaan kami” ucap Michelle menekankan


“Dan pembayaran nggak diterima tunai, bagaimana ?” tanya Ezra tegas


“Baiklah saya setuju.. dan silahkan kalian baca isi surat perjanjiannya dulu” jawab Evan sambil menjulurkan selembar kertas ke tangan Ezra


Michelle dan Ezra membacanya dalam hati bersama-sama, lalu..


“Hah ? serius ini segini bayarannya ?” tanya Michelle kaget


“Kaget sialan” bisik Ezra memegang dadanya


“Sorry” bisik Michelle tersenyum kaku


“Apa terlalu kecil Mi ? saya bisa tambahkan.. dan itu tidak termasuk perlengkapan kalian.. semua perlengkapan yang kalian butuhkan akan kami siapkan, kalian tinggal bilang saja” jelas Evan


“Terima kasih banyak sekertaris Evan, ini sudah lebih dari cukup bagi kami” jawab Ezra ramah


Setelah membaca detail isi surat perjanjian itu, Ezra menyetujuinya dan tandatangan disana.


Michelle dan Ezra bersalaman dengan Evan lalu pamit dari sana.


Di atas motor, Ezra menelefon Daffin dan Michelle menelefon Saddam, mereka janjian bertemu di kedai soto tempat langganan mereka selain di kedai bakso dekat kampusnya itu.


Sudah lengkap dengan perlengkapannya, Michelle keluar halaman yang besar itu diikuti Ezra, sementara Evan dan dua pengawal tadi masih berdiri di depan halaman menunggu kepergian Michelle dan Ezra.


**

__ADS_1


__ADS_2