
Paginya, meeting dimulai dengan wajah penuh ketegangan tapi tidak pada Emily yang sudah terbiasa dengan sikap Michelle itu.
Michelle mengajukan banyak pertanyaan di setiap presentasi para managernya yang membuatnya makin tegang dan gugup.
“Kalian masih jauh di bawah yang saya harapkan ! memalukan !” ucap Michelle datar namun terdengar tajam di telinga para managernya juga pada Liam
“Maafkan kami Nona Michelle” ucap Liam memberanikan diri
“Saya nggak terima kata maaf, saya minta perubahan yang lebih baik dan mendekati kata sempurna dari kalian yang masih mau bertahan di bawah kepemimpinan saya” ucap Michelle tegas
“Saya ijinkan siapa saja mengundurkan dirinya saat ini juga kalau nggak bisa mengimbangi cara kerja saya” ucap Michelle mengedarkan pandangan
Tidak ada satupun yang mengajukan hal itu dan memilih duduk menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Saya anggap kalian menerima kepemimpinan baru, saya akan ubah semuanya dari awal” ucap Michelle bangun dari duduknya
Michelle keluar ruangan diikuti Emily yang mengisyaratkan meeting hari ini selesai.
..
Michelle masuk ke dalam ruangannya lalu membanting tubuhnya ke sofa seperti orang kelelahan dan banyak pikiran.
“Panggil Liam kesini” perintah Michelle
“Baik Nona” jawab Emily
..
Liam segera masuk lalu duduk di sofa setelah Emily mempersilahkannya duduk sesuai isyarat Michelle.
“Saya minta mulai hari ini kamu wajib terima setiap laporan dari para manager satu jam sebelum jam kerja berakhir, cek dan lakukan kerjaan kamu lebih teliti lagi.. biasakan setiap pagi baru datang langsung serahkan berkas laporan ke saya..
Perintahkan ke yang lainnya kalau mereka harus siap lembur setiap pekerjaannya hari itu belum selesai, biarkan mereka belajar dan bekerja lebih cepat karena selama ini hasil masih sangat jauh dari perkiraan saya, paham ?” jelas Michelle panjang lebar
“Paham Nona Michelle, tapi bagaimana dengan dua posisi manager yang kosong ?” tanya Liam
“Sekertaris Emily yang akan mengurusnya, jadi jangan ganggu dia, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya” jawab Michelle
“Tapi Nona..” ucap Emily mencoba protes
“Terima aja, gue minta lo fokus sampai gue bawa gantinya” ucap Michelle
“Baik Nona Michelle” jawab Emily
**
Hampir selama satu minggu lamanya Michelle berkutat membereskan tatanan hotelnya itu.
Pekerjaan yang menumpuk dan mengharuskan Michelle ikut serta lembur bersama Emily dan karyawannya berusaha agar mendapatkan hasil terbaik.
Setiap harinya Emily juga melaporkan hasil kerjanya ke Dion setiap jam kerja selesai.
**
Di minggu berikutnya Corradeo mengirim pengganti para pengkhianat itu sesuai posisi dan jabatan masing-masing.
Emily langsung sigap memberikan instruksi tegas ditemani Liam yang sedang dalam masa percobaan menjadi general manager, pengganti Ilyas.
**
Hari ini setelah pulang kerja Emily menemani Michelle membeli beberapa perlengkapan melukis untuk mengisi waktu luangnya mengingat pekerjaannya mulai ringan.
“Ly, tolong tanyain kuas merk arte manglon yang satu set ada nggak, gue tunggu sini sambil nyari kanvas” ucap Michelle
“Tunggu sebentar Nona” ucap Emily
__ADS_1
Emily segera berjalan mencari petugas disana sambil mengawasi Michelle.
“Joesonghabnida (maaf, silahkan)” ucap Michelle yang tidak sengaja mengambil kanvas yang sama dengan seorang perempuan lainnya
“Aniya, gyesoghae (nggak, silahkan kamu duluan” ucap perempuan itu sebelum melihat Michelle
“Nona” panggil Emily sekembalinya ke sisi Michelle
Perempuan ini.. dia.. jangan-jangan.. -batin perempuan itu menebak
“Sillyehabnida (permisi Nona)” pamit Michelle tersenyum tipis menatap perempuan tadi
Michelle berbalik diikuti Emily mencari perlengkapan lainnya.
Sementara perempuan tadi masih menatap punggung Michelle, dia masih penasaran dengan perkiraannya tentang Michelle.
..
Perempuan itu telah duduk di dalam rumahnya sambil menatap ke luar jendela.
“Apa dia beneran pacarnya ? kalau dia disini berarti..?” gumam perempuan itu
..
Di tempat lain, Michelle tengah mengisi waktu luangnya dengan melukis keindahan malam itu dari balkon ruang pribadinya dimana ruangan itu khusus untuk Michelle mengekspresikan seninya.
Emily sendiri memberikan waktu sendiri untuk Michelle mengingat besok akhir pekan.
**
Besok harinya untuk menghilangkan penat, Michelle memutuskan untuk jogging di sepanjang sungai Han yang tentu saja bersama Emily.
Selesai jogging yang menguras tenaga dan keringat, mereka sarapan di sebuah kafe.
“Kalau saya bilang betah pasti Nona akan memindahkan saya kesini” jawab Emily
“Hahaha, enak Ly, gue bakalan minta Daddy buat naikin jabatan lo jadi CEO kayak gue” ucap Michelle
“Tidak Nona Michelle, saya bersyukur menjadi sekertaris pribadi Nona” ucap Emily menolak
“Dikasih jabatan tinggi nolak, malah maunya jadi sekertaris gue, padahal capek kan kerja sama gue” ucap Michelle menyandarkan punggungnya ke kursi
“Hanya yang lemah yang mengeluh bekerja bersama Nona, saya tangguh seperti Nona” ucap Emily penuh keyakinan
“Pftt, lo ngambil kata-kata itu dari mana ?” tanya Michelle menahan tawanya
“Saat sekertaris Gery terlihat lelah karena tugas yang Tuan Nicholas berikan tidak ada habisnya Nona” jawab Emily
“Pftt, hahahahaha, kapan ?” tanya Michelle penasaran
“Waktu Nona baru saja dipindah ke cabang perusahaan yang sekarang, saya kan masih harus bolak balik kesana untuk menyelesaikan tugas ke sekertaris Gery” jawab Emily
“Mungkin dia waktu itu kaget karena biasanya kerjaannya nggak bertumpuk-tumpuk banget” ucap Michelle mengira-ngira
“Iya Nona.. apa Nona tahu ? sekertaris Gery selalu bersyukur kalau meeting Nona Michelle yang memimpin, karena katanya tidak bikin ngantuk” ucap Emily mengadu
“Hahahahaha, pantesan dia selalu paling semangat ngingetin gue, pas udah selesai meetingnya juga bilang makasih, ternyata gitu” ucap Michelle tersenyum menggelengkan kepalanya
Di sudut lain terlihat perempuan cantik tengah menyeruput minumannya sambil matanya terus melirik Michelle.
Dia adalah Nadine, perempuan kemarin yang tidak sengaja bertemu Michelle. Berperawakan putih bersih bak model, rambut ombre sebahu dengan mata sedikit sayu.
Nadine keluar kafe dengan pikiran entah kemana sampai hampir menyebabkan dirinya celaka tertabrak mobil kalau saja Michelle tidak segera menariknya.
“Josimhaseyo (hati-hati Nona)” ucap Michelle khawatir
__ADS_1
Nadine membenarkan posisi berdirinya lalu melihat Michelle.
“Makasih banyak” ucap Nadine
Michelle maupun Emily sedikit terkejut, memang Nadine terlihat seperti orang Indonesia namun karena penampilan dan riasannya seperti orang Korea jadi Michelle maupun Emily menganggapnya sebagai orang Korea yang mungkin blesteran Indonesia.
“Sama-sama, kayaknya kamu lagi bengong, hati-hati di jalan ya” ucap Michelle tersenyum ramah
Michelle dan Emily berbalik meninggalkan Nadine menuju mobilnya yang terparkir di sekitar sana.
Nadine lagi-lagi menatap punggung Michelle yang menjauh lalu segera menyusul Michelle sebelum kesempatannya hilang.
“Tunggu” ucap Nadine menghentikan langkah Michelle dan Emily
Nadine menjulurkan tangannya ke arah Michelle yang sudah berdiri menghadapnya.
“Namaku Nadine” ucap Nadine sedikit ragu
“Hai Nadine, aku Michelle, dia Emily, temen aku” sapa Michelle menjabat tangan Nadine
“Selamat pagi Nona Nadine” sapa Emily
Nadine tampak bingung dipanggil Nona sesopan itu oleh Emily.
“Emily ini selain temen ku tapi juga sekertaris pribadi ku” ucap Michelle menjelaskan isi pikiran Nadine
“Oh, hai Emily.. eum, mau sarapan bareng sebagai tanda terima kasih ku ?” tawar Nadine yang padahal jelas-jelas dia sudah lihat sendiri Michelle dan Emily sarapan
“Makasih banyak, kita baru aja habis sarapan, dan nggak usah sungkan aku nolongin nggak berharap imbalan” ucap Michelle tersenyum ramah
“Tapi aku ngerasa nggak enak, boleh minta nomor ponsel kamu aja ? gimana kalau makan siang bareng ? atau makan malem bareng ?” tawarnya menyodorkan ponselnya
Emily segera mengambil ponsel Nadine dan mengetikkan nomor bisnis Michelle lalu mengembalikannya lagi ke pemiliknya.
“Atur aja, hubungin aja ya ke nomor itu, aku sama Emily pergi duluan, hati-hati di jalan ya, bye” pamit Michelle
Michelle berbalik bersama Emily menjauh dari Nadine yang tersenyum menggenggam ponsel nya berharap dengan begini bisa menggali sesuatu yang mengganggu pikirannya selama beberapa tahun ini.
..
Di rumah, Michelle tengah duduk di mini bar sambil memakan potongan buah-buahan yang sudah disediakan.
“Nona Nadine berusia 28 tahun Nona, dia di adopsi oleh salah satu teman orang tuanya disini, pindah kesini sejak berusia 18 tahun” lapor Emily yang duduk di samping Michelle dengan Ipad di tangannya
“Padahal gue nggak pengen curiga sama dia Ly, kelihatannya dia orang baik” ucap Michelle
“Tunggu, dia di adopsi ? keluarganya kemana ?” tanya Michelle
“Orang tua dan Kakaknya meninggal saat perjalanan kesini Nona, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan” jawab Emily
“Astaga, gue jadi kepikiran kalau gue jadi dia, lo bayangin Ly orang tua sama Kakak-Kakak gue ninggalin gue seorang diri” ucap Michelle dengan mata berkaca-kaca
“Tenanglah Nona, nasib Nona berbeda dengan Nona Nadine, saya percaya keluarga Nona nggak akan meninggalkan Nona hidup sendirian” ucap Emily menenangkan Michelle
“Thanks Ly” ucap Michelle masih sedih membayangkan kehidupan Nadine
Nona masih mempunyai satu orang keluarga yang akan menjaga Nona.. saya sudah tahu kalau Nona memerintahkan seseorang untuk mengawasi orang tersebut selama ini, tidakkah Nona tahu kalau beliau sebenarnya tahu akan hal itu namun beliau sengaja pura-pura tidak tahu karena merasa senang keluarganya peduli padanya ? -batin Emily
“Gimana perlakuan keluarga angkatnya ? apa dia baik-baik aja ?” tanya Michelle penasaran
“Orang tua angkatnya baik Nona, mereka menganggap Nona Nadine seperti anaknya sendiri, namun sekarang mereka tinggal berpisah karena Nona Nadine tidak mau membebani mereka lagi” jawab Emily
Kalau gue di posisi Nadine pasti udah nggak kuat, selama ini gue dikelilingin sama keluarga yang utuh dan sayang banget sama gue, apa jadinya gue kalau mereka nggak nemenin gue lagi ? -batin Michelle takut
**
__ADS_1