
Saat jam istirahat Axel dan Roy berangkat ke perusahaan yang Michelle pimpin dengan tujuan yang berbeda.
Tidak sampai sore keduanya sudah kembali lagi ke perusahaan yang Axel pimpin karena sebelumnya dia sudah ada janji menemui klien sore harinya.
..
Karena bagi Michelle ini adalah hari terakhir untuknya melihat Emily bekerja bersamanya di perusahaan jadi dia menggunakan sisa waktunya selesai kerja untuk jalan-jalan menemani Emily.
Sementara itu Axel sudah dalam perjalanan pulang diantar Roy.
"Mulai besok lo nggak usah masuk kerja" ucap Axel datar sambil menatap foto di layar ponselnya yang tidak jauh foto istrinya sendiri
"Tapi Tuan, salah saya apa ?" tanya Roy yang terkejut bahkan sempat hampir hilang kendali
"Jadi lo mau apa nggak ?" tanya Axel melirik tajam ke spion
"Tidak Tuan, saya memilih untuk terus bekerja bersama Tuan muda" jawab Roy dengan penuh keyakinan menatap Axel dari spion mobil
"Sayang banget, padahal mulai besok Emily cuti selama satu minggu" ucap Axel kembali menatap foto istrinya yang menggemaskan di layar ponselnya
"Tu Tuan" ucap Roy terbata
"Hem" gumam Axel
"Apa saya boleh ganti jawabannya ?" tanya Roy penuh harap
"Cih" gumam Axel menghela nafas pelan
"Demi mendapatkan hatinya, Tuan" pinta Roy memohon
"Hem" gumam Axel
"Terima kasih banyak Tuan muda" ucap Roy mencengkeram kemudinya saking senangnya
**
Hari ini Emily sudah berada di bandara internasional, dia tetap menolak penawaran Michelle yang meminjamkan jet pribadinya karena bagi Emily dia mau menikmati setiap perjalanan selama masa cutinya sebagai orang biasa.
Di tempat yang sama, Roy baru saja tiba sambil mendorong troli kopernya dan sengaja mencari keberadaan Emily disana yang dia ketahui dari Michelle semalam.
Senyum tipis Roy terbit saat matanya menemukan sosok yang dicarinya tengah duduk sendirian ditemani troli koper di sampingnya.
Sengaja Roy tidak menghampiri Emily, dia duduk di tempat yang tidak jauh dari Emily sampai waktu check in tiba.
Dengan sedikit bocoran dari Michelle, Roy berhasil mendapatkan data penerbangan Emily dari orang suruhannya sampai keberhasilannya itu membuatnya bisa duduk di kursi samping Emily.
"Roy !" ucap Emily yang terkejut saat melihat siapa yang duduk di sampingnya
__ADS_1
"Hei Emil" sapa Roy sambil membenarkan posisi duduknya
"Kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Emily penasaran
Tanpa menjawab Roy cuma melempar senyum pada Emily lalu beralih mendengarkan instruksi dari pramugari agar dia tidak terjebak berbicara dengan Emily.
**
Satu hari lamanya perjalanan untuk sampai di Chicago, tempat dimana Emily menumpahkan semua kenangan bersama keluarganya.
Sudah ada mobil yang menjemput mereka yang tentunya tanpa sepengetahuan Emily karena itu adalah ide Roy sendiri.
Mereka masuk ke dalam mobil, dengan pasti sang supir mulai melajukan mobil yang dikendarainya ke sebuah rumah sederhana yang membuat mata Emily tidak berkedip menatap bangunan itu.
"Kita sudah sampai" ucap Roy
Emily tersadar dan segera keluar dari mobil.
"Roy, apa kamu ..?" tanya Emily menggantung
"Ya, aku terpaksa cari tahu semuanya, dan alasanku ada disini saat ini untuk menemani masa cuti mu itu" jelas Roy
Mereka memasuki rumah sederhana itu. Emily mengedarkan pandangan, setiap sisi dan sudut ruangan tidak ada yang berbeda sejak kepergiannya saat itu.
"Aku menginap di hotel, kalau kamu butuh sesuatu atau mau pergi kemanapun kamu bisa menghubungiku agar aku bisa menemanimu" ucap Roy
Roy membalasnya dengan senyum tipis dan mengangguk pelan lalu berbalik dan masuk mobil meninggalkan Emily yang masih mengingat kembali setiap kenangan yang tergambar jelas di kepalanya.
Emily memasuki satu persatu ruangan yang ada di rumahnya itu sampai dia masuk ke dalam kamar orang tuanya yang sudah tiada, dia duduk di tepi tempat tidur dan meraih bingkai foto yang berada di atas nakas, air matanya langsung terjun bebas.
Dulu dia hanyalah anak yang pendiam dan tidak banyak menuntut karena tahu kondisi orang tuanya yang miskin, namun dia senang karena bisa membantu orang tuanya untuk menjaga ketiga adiknya yang masih kecil saat dia baru beranjak remaja.
Setiap malam ketiga adiknya pasti memilih tidur bersamanya karena bagi mereka, kakaknya itu sangat peduli dan melindungi mereka sehingga mereka selalu merasa aman di dekat Emily.
Emily yang sudah puas menguras air matanya itu langsung kelelahan dan tertidur di tempat tidur orang tuanya sambil memeluk bingkai foto keluarganya saat itu.
"*Kakak"
"Kakak aku takut*"
Suara ketakutan dan isak tangis ketiga adiknya kembali menghantui Emily sampai akhirnya Emily terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan keringat membanjiri tubuhnya.
Emily segera bangun dan cuci muka untuk menetralkan pikirannya lalu dia hendak keluar untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan malam itu, namun sebelum dia sempat keluar pintu rumahnya sudah terketuk lebih dulu.
"Roy, ayo masuk" ajak Emily saat melihat siapa tamu pertamanya
"Aku bawakan makan malam untukmu, karena aku yakin kamu sudah mulai kelaparan" ucap Roy tersenyum meledek
__ADS_1
"Sudah, makan saja, aku tidak akan merebutnya darimu" ledek Roy memberikan paper bag ke tangan Emily
Emily yang sedari tadi tersenyum kecut mendengar ucapan Roy pun menerima paper bag itu dan membawanya ke meja makan untuk disajikan.
"Apa kamu mau secangkir kopi sebagai bayarannya ?" tawar Emily
"Memangnya kamu punya ? makan saja kamu akan membelinya di luar sana" ledek Roy
"Cih, kamu selalu saja menyebalkan" gerutu Emily
Roy cuma terkekeh sambil matanya terus memperhatikan gerakan Emily yang tengah membuatkannya kopi itu.
Maklum saja, mulai dari ruang tamu, ruang makan, dan dapur cuma dibatasi dengan sofa sehingga Roy yang duduk di sofa ruang tamu itu bisa melihat jelas kegiatan Emily.
Roy pun pindah ke meja makan agar dia bisa menemani Emily makan malam disana.
"Hei, pelan-pelan makannya, sudah kukatakan aku tidak akan merebutnya karena aku sudah makan tadi" ucap Roy lalu menyeruput kopinya
"Aku lapar, kamu pikir aku tumbuhan kaktus yang tidak butuh makanan dan air yang sedikit ?" gerutu Emily
Lagi-lagi Roy terkekeh, rasanya mereka sudah lama sekali tidak berbicara sedekat ini.
"Apa setelah ini kamu mau menemaniku ke pasar tradisional ?" tanya Emily disela makannya
"Habiskan saja dulu makanmu itu" ucap Roy menunjuk makanan di atas meja dengan ujung matanya
Emily memutar bola matanya, dia sendiri pun merindukan hal-hal kecil seperti ini bersama Roy dulu.
..
Selesai makan, mereka pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan masakan maupun minuman selama tinggal disana.
Maklum, Emily hanya menggunakan jasa untuk membersihkan dan merawat rumahnya sejak dia pergi dan dibawa oleh Dominico dan Hugo tanpa harus menyiapkan segala kebutuhannya sebelum dia sampai di Chicago.
..
"Kamu belanja banyak sekali, apa kamu akan menjualnya lagi ?" tanya Roy sambil menahan tawa
"Teruslah menertawaiku, aku ingin menikmati masa cutiku dengan detik-detik berharga di rumahku, tidak sepertimu yang jauh-jauh ke desa ini tapi menginap di hotel dan makanan selalu sudah tersedia" ucap Emily
"Baiklah kalau begitu aku akan menginap di rumahmu tapi kamu tetap harus menyediakan makan untukku, sebagai gantinya aku yang akan menemanimu belanja" ucap Roy dengan entengnya
"Hei !" ucap Emily menatap tajam Roy
"Hei juga" ucap Roy tersenyum menahan tawanya
**
__ADS_1