My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 102 Tersentak Kaget


__ADS_3

Keesokan harinya…


‘’Kamiya-kun kau di sini?’’ tanya Putri Rakia yang menuruni tangga.


Dokter Wo tersenyum sambil membungkuk memberi hormat. Tapi wanita itu kegirangan langsung memeluknya. ‘’Hehe, Tuan Putri tidak baik kalau orang lain sampai melihatnya.’’


‘’Eii tidak apa-apa, mereka tahu kita memiliki hubungan yang sangat dekat sejak aku kecil,’’ kata Putri Rakia santai.


‘’Melihat Anda ada di sini. Sepertinya masa hukuman Tuan Putri sudah selesai, ya?’’ tanya Dokter Wo.


Putri Rakia mengangguk sambil tersenyum. ‘’Kau sendiri kenapa ada di sini?’’


‘’Seperti biasa. Saya datang melakukan tes kesehatan kepada para saudara Anda. Tapi karena saya tidak tahu Anda sudah kembali, saya baru saja akan mengambil penerbangan,’’ kata Dokter Wo.


‘’Kenapa buru-buru? Aku masih belum melakukan tes kesehatan, tinggallah sebentar dulu. Jika tahu kau akan datang, aku harusnya keluar kamar sejak tadi,’’ kata Putri Rakia.


Dokter Wo tersenyum lembut. ‘’Baiklah, sesuai permintaan Tuan Putri.’’


......................


Kamar Putri Ketiga


Berbeda dengan para saudaranya yang melakukan tes kesehatan di klinik kesehatan kerajaan, Putri Rakia melakukannya di dalam kamarnya sendiri, sekalian sambil para pelayan membawakan lunch tea.


‘’Kondisi Anda baik-baik saja, tapi sepertinya nutrisi di dalam Tuan Putri menurun selama 3 bulan. Ini pasti saat Anda menjalankan hukuman menjadi seorang pelayan karena gizi makanan Anda berbeda,’’ kata Dokter Wo.


‘’Ahaha yang kau katakan benar. Semenjak di sana, aku tidak bebas makan apa pun. Aa! Aku hampir lupa ... Setelah aku pulang, bagaimana kondisi Ramos?’’


Dokter Wo yang hendak meminum teh terhenti sesaat, sebelum akhirnya ia mencicipi teh tersebut.


Putri Rakia hanya diam menunggu setelah pria di depannya meletakkan cangkir teh.

__ADS_1


‘’Bagaimana saya bisa mengatakannya, ya?’’ bingung Dokter Wo.


Dahi Putri Rakia berkerut. ‘’Apa maksudmu? Apakah penyakitnya kembali menjadi parah?’’


Dokter Wo hanya diam sambil menatap jamuan.


‘’Kamiya-kun?’’ panggil Putri Rakia.


‘’Pangeran Keempat … Mungkin tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini,’’ kata Dokter Wo akhirnya.


Prank!


Cangkir yang dipegang Putri Rakia terjatuh ke lantai dan berserakan. ‘’Apa?’’


Putri Rakia masih terpaku di kursi duduknya. ‘’Ka-Kau bilang apa?’’


Dengan berat hati, Dokter Wo menunduk sambil memasang raut wajah sedih. ‘’Beberapa hari yang lalu, Pangeran Shinsuke membawa Pangeran Keempat ke rumah saat tengah ma—‘’


‘’Tuan Putri?’’


Wanita itu langsung bergegas keluar meninggalkan kamar, membuat Dokter Wo hanya menghela nafas sambil melihat pecahan cangkir di lantai.


......................


Ruang Pribadi Kaisar


Bugh!


Kaisar dan pengawal pribadinya tersentak melihat pintu terbuka dengan kasar.


‘’Ayahanda, segera siapkan pesawat untukku! Aku akan mengambil penerbangan ke Kerajaan Rivazreich saat ini juga!’’ seru Putri Rakia.

__ADS_1


‘’Mengetuklah terlebih dahulu sebelum masuk!’’ tegur Kaisar Helios.


‘’Ayahanda! Ini bukan saatnya!’’


Kaisar Helios tertegun melihat putrinya sudah menangis. Dengan perasaan bingung dan cemas membuatnya tidak punya pilihan. ‘’Segera siapkan pesawat untuk Putri Ketiga! Pengawal Maru, kau juga akan ikut dengannya.’’


Pengawal Maru membungkuk. ‘’Hamba mengerti Yang Mulia.’’


‘’Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Putri Rakia membungkuk lalu bergegas keluar.


‘’Tunggu! Ceritakan padaku setelah kau kembali,’’ kata Kaisar Helios mencegah kepergian putrinya itu.


Putri Rakia yang membelakangi hanya mengangguk dan segera pergi, begitu juga pengawal Maru yang membungkuk lalu menyusul wanita tadi.


......................


Kerajaan Rivazreich


📞‘’Kau bilang Putri Ketiga sedang menuju kemari?’’


📞‘’Benar. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya datang dalam kondisi menangis. Apakah terjadi sesuatu di sana?’’


📞‘’Tidak ada. Semuanya baik-baik saja.’’


📞‘’Kalau begitu, kenapa dia mengambil keputusan mendesak seperti ini? Ya sudah, aku akan menunggu penjelasannya saat pulang nanti.’’


📞‘’Baiklah, serahkan semuanya kepadaku.’’


Raja Rivazreich meletakkan gagang telepon. ‘’Mori?’’


‘’Hamba mengerti Yang Mulia. Saya akan segera memberitahu Haruka,’’ kata Pengawal Mori membungkuk lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2