
Melihat wajah Pangeran Keempat membuat Pangeran Shinsuke tidak tega. ‘’Ini mengenai pernikahanmu dengan Putri Ketiga.’’
Dahi Pangeran Ramos berkerut. ‘’Memangnya ada apa Paman? Apakah semuanya baik-baik saja?’’
Pangeran Shinsuke memasang raut wajah bingung.’’ Ramos, itu … Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.’’
‘’Uhuk! Paman jangan bertele-tele. Cepat beritahu aku, ada apa dengan pernikahanku?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Untuk saat ini … Pernikahanmu dibatalkan,’’ kata Pangeran Shinsuke akhirnya.
Deg!
‘’A-Apa?’’ tanya Pangeran Ramos tertegun.
‘’Sampai pernikahan Ereri dan Ren belum dilaksanakan, pernikahanmu tidak akan berlangsung,’’ sedih Pangeran Shinsuke.
‘’Apakah Rakia baik-baik saja dengan keputusan ini?’’ tanya Pangeran Ramos.
Pangeran Shinsuke memilih diam. Ia benar-benar bingung mengatakannya kepada salah satu keponakannya itu.
Melihat kediaman pamannya, membuat Pangeran Ramos mengerutkan dahi tanda kesal.
‘’Paman!’’ tegas Pangeran Ramos dengan suara lemah.
‘’Putri Rakia dikurung karena mengajukan pernikahannya tanpa izin Kaisar Helios terlebih dahulu. Tapi, saat Raja Rivazreich menuju ke Kerajaan Helios untuk membahas pernikahan kalian, ternyata Putri Rakia memasang alat sadap ruangan sehingga dia mengetahui kejadian di luar. Karena hal itu, Putri Rakia terkena masalah,’’ kata Pangeran Shinsuke.
‘’Masalah?’’ tanya Pangeran Ramos.
__ADS_1
Pangeran Shinsuke memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. ‘’Putri Ketiga berniat bunuh diri dan kondisinya sekarang sedang sekarat.’’
Deg!
‘’A-Apa yang Paman katakan?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Shewfelt dan yang lainnya. Sepertinya di tengah pembicaraan, Putri Ketiga mendengarnya dari kamar sehingga dia nekat bunuh diri,’’ kata Pangeran Shinsuke.
‘’Ha … Huha … Huha,’’ kata Pangeran Ramos dengan nafas terengah-engah.
Ia bangkit untuk duduk. ‘’A-Aku harus pergi.’’
‘’Ramos, kau mau ke mana? Kondisimu masih belum pulih,’’ kata Pangeran Shinsuke.
Tidak peduli kondisi tubuhnya sangat lemah, Pangeran Keempat melepaskan infus di tangannya.
‘’Aku, ha … Ingin … Huha … Menemui Rakia,’’ kata Pangeran Ramos terengah-engah sambil berjalan ke arah pintu.
Pangeran Shinsuke menghadang salah satu keponakannya itu. ‘’Tidak boleh! Kondisimu belum stabil.’’
‘’Jangan hentikan aku untuk bertemu dengan Rakia, uhuk!’’ kata Pangeran Ramos berusaha mendorong pamannya agar memberi jalan.
‘’Ramos, kondisimu sangat lemah!’’
‘’Tapi Rakia sedang sekarat Paman!’’
Pangeran Shinsuke terbelalak. Ini pertama kalinya Pangeran Ramos membentaknya hanya demi melihat kondisi Putri Rakia. ‘’Ramos, aku tidak melarangmu untuk menemui Putri Rakia. Tapi kondisi tubuhmu benar-benar sangat lemah. Kumohon dengarkan permintaan pamanmu ini.’’
__ADS_1
Pangeran Ramos mengabaikan. Ia mendorong pamannya sehingga dirinya keluar dari pintu. Dengan sekuat tenaga, ia berjalan menyusuri koridor istana.
‘’Ramos tunggu!’’ teriak Pangeran Shinsuke.
‘’Tidak, uhuk! Aku harus segera melihat keadaan Rakia,’’ kata Pangeran Ramos lemah.
......................
‘’Kita lanjutkan besok saja,’’ kata Raja Rivazreich.
Ratu Rivazreich dan kedua putranya masih memasang raut wajah sedih.
‘’Bagaimana kondisi Pangeran Keempat?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Kakak ipar mengecek kondisinya setiap 1 jam, dan katanya kondisi Pangeran Keempat sangat lemah,’’ jawab Ratu Rivazreich.
Raja Rivazreich merasa bersalah karena merepotkan kakaknya terus menerus. Ia menghela nafas sambil memegang tengkuk hidungnya. ‘’Jangan biarkan Pangeran Keempat tahu hal ini dulu, terutama mengenai Putri Rakia yang berniat bunuh diri.’’
Dari luar, Pangeran Ramos terengah-engah dan berdiam sejenak di depan pintu. ‘’Haa ... Huhahuha.’’
Ceklek!
Deg!
Keempat orang di dalam ruang tadi tertegun melihat kedatangan pria itu.
‘’Pangeran Keempat kenapa Anda ada di sini?’’
__ADS_1