My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 42 Mengunjungi Saudara Part 1


__ADS_3

Kamar Pangeran Keduabelas


‘’Ka-Kakak Ramos?’’


‘’Pangeran Reonharu memiliki waktu luang, kan?’’ tanya Rakia.


‘’I-Iya, tapi kenapa Kakak Ramos bisa ada di sini?’’ bingung Pangeran Reonharu.


‘’Dia ingin melihatmu bermain piano,’’ jawab Rakia polos.


‘’Ha?!’’ seru kedua pangeran itu bersamaan menatap ke arah Rakia.


Pangeran Reonharu terbelalak hingga akhirnya mempersilahkan kedua orang itu masuk. ‘’Ba-Baiklah, kalau begitu silahkan masuk.’’


Pangeran Ramos menatap Rakia tajam. "Kapan aku berkata seperti itu?"


‘’Hehe, sana,’’ kata Rakia mendorong masuk.


Pangeran Reonharu mulai memainkan piano. Meskipun jantungnya berdebar, ia tetap berusaha tenang.


‘’Tunggu! Kau salah di bagian ini,’’ kata Pangeran Ramos mendekat.


‘’Eh, benarkah?’’ tanya Pangeran Reonharu tidak percaya.


Padahal tidak ingin membuat kesalahan, tapi karena merasa gugup, ia tetap melakukannya.


Pangeran Ramos ikut duduk di sampingnya dan mulai menekan tuts piano.


‘’Seharusnya di bagian ini kau melambatkan temponya sambil menekan nada ini bersamaan,’’ kata Pangeran Ramos.


Pangeran Reonharu tercengang mendengar arahan itu.


Aku kira selama ini Kakak Ramos lebih suka menyendiri dan tidak mempedulikan saudaranya, kata Pangeran Reonharu dalam hati.


‘’Kakak Ramos! Bisakah mengajariku lagu ini? Ada bagian nada yang tidak aku mengerti,’’ pinta Pangeran Reonharu.


Setelah menghabiskan waktu mengajari Pangeran Reonharu, kedua orang itu pergi.


......................


Taman Bunga

__ADS_1


‘’Kenapa membawaku ke taman?’’ bingung Pangeran Ramos.


‘’Tentu saja untuk bertemu dengan saudaramu,’’ jawab Rakia.


Pangeran Ramos menatap salah satu adiknya yang sedang melukis.


‘’Pangeran Zelho!’’ teriak Rakia.


Pria yang dipanggil itu menoleh dan terbelalak.


‘’Kakak Ramos!’’ kaget Pangeran Zelho langsung memberi hormat.


‘’Itu lukisanmu?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’I-Iya.’’


‘’Sangat indah. Aku tidak tahu kau memiliki bakat seperti ini.’’


‘’Eh? Bakat Kakak Ramos yang bisa bermain biola juga tidak kalah keren.’’


‘’Jika ada waktu, buatkan juga satu untukku.’’


‘’Eh, ah tentu.’’


Pangeran Zelho melihat kepergian dua orang tadi.


Kakak Ramos tersenyum, dan bahkan memujiku? Wah, pikir Pangeran Zelho tidak percaya.


Terukir senyuman di bibirnya. ‘’Yosh! Aku tidak akan mengecawakan Kakak Ramos! Ternyata perkiraanku selama ini mengenai dirinya salah.’’


Rakia menatap Pangeran Ramos di sampingnya.


‘’Selesaikan ini dengan cepat. Jika tahu kau akan mengajakku untuk menemui mereka satu persatu, seharusnya aku tidur saja tadi,’’ gerutu Pangeran Ramos.


‘’Ini semua juga aku lakukan agar pandangan mereka terhadapmu berubah,’’ jawab Rakia.


......................


Kamar Pangeran Kesepuluh


Ceklek!

__ADS_1


‘’Siapa yang berani menginjakkan kakinya di surga makananku?!’’


Pangeran Bamie tertegun melihat orang yang datang..


‘’Kakak Ramos,’’ ucapnya segera memperbaiki posisi.


Pangeran Ramos menatap isi kamar itu. ‘’Apa kau yang memakan semua ini?’’


‘’Iya, Kakak Ramos,’’ jawab Pangeran Bamie menunduk.


‘’Kau sampai repot membuat koleksi dessert, kawai desu-ne(lucunya).’’


Pangeran Bamie hanya merona mendengar kalimat tersebut.


‘’Apakah Pangeran Bamie hanya diam tanpa menyuguhkan hidangan kepada kami?’’


Heh, bilang saja kau yang ingin dilayani, sampai menggunakan Kakak Ramos. Rakia ini, kata Pangeran Bamie dalam hati.


Dengan cepat, ia mengambil 2 dessert.


‘’Douzo(Silahkan),’’ kata Pangeran Bamie menyuguhkan kue apel Ratu.


‘’Tidak biasanya Kakak Ramos datang berkunjung.’’


‘’Apakah salah jika mengunjungi saudaraku?’’


‘’Ti-Tidak.’’


‘’Seorang Pangeran seharusnya tidak menundukkan kepala saat berbicara. Angkat kepalamu!’’


Perlahan, Pangeran Bamie mendongakkan kepala sampai melihat wajah kakaknya. Ia begitu takut dengan wajah dingin dari Pangeran Keempat.


‘’Baka(Bodoh),’’ senyum Pangeran Ramos mengejek.


Pangeran Bamie terbelalak.


Eh? Kakak Ramos tersenyum meskipun selama ini terlihat menakutkan, ucapnya dalam hati.


‘’Aku tidak bisa belama-lama. Terima kasih atas jamuannya. Aku menantikan kunjunganku lain kali.’’


Pangeran Bamie menatap kepergian dua orang itu.

__ADS_1


‘’Karena terlalu takut padanya, aku sering menunduk. Ha, seharusnya aku memberanikan diri mengajak Kakak Ramos bicara tadi.’’


__ADS_2