
Malam pun tiba...
Sebuah mobil melaju masuk ke dalam istana. Pria yang berada di dalam mobil menatap keluar jendela kaca. "Kenapa jendela kamarku terbuka?"
Mobil hitam itu berhenti sambil sang supir turun dan membukakan pintu. "Silahkan Pangeran."
......................
Kamar Pangeran Kelima
"Sungguh melelahkan. Tapi siapa yang membuka jendela kamarku?"
Pria itu menoleh ke samping dan melihat seorang wanita tertidur di sofa. "Astaga! Seperti mayat saja."
Karena lampu kamarnya tidak menyala membuat wajah Rakia tidak jelas.
Pria itu menghela nafas lega. "Kukira seseorang memasuki kamarku dengan sembarangan, ternyata dia, ya? Jadi dia sudah pulang."
Ia mengangkat Rakia ke kasur. Begitu Rakia ditidurkan, saat itu juga wanita itu menariknya.
Cup!
Pangeran itu tertegun setelah Rakia menciumnya tetap di bibir.
"Haa, mattaku(dasar)."
Pangeran menyelimuti Rakia, lalu menuju ke arah jendela dan menutupnya. Ia berjalan ke sofa untuk istirahat.
......................
Keesokan harinya...
Pangeran bangkit dari sofa sambil merentangkan tangannya. Ia berdiri menuju ke salah satu jendela lalu membukanya.
__ADS_1
Saat berbalik dan menatap ke arah kasur, matanya membulat besar. "Dia bukan Mezool?!"
Pandangannya menuju ke arah seragam Rakia.
"Seragam maid? Jangan bilang dia adalah pelayan pribadi yang pernah dikatakan Ayahanda."
Pria itu menunduk sambil memegang tengkuk hidungnya. Sinar matahari yang masuk dari jendela mengenai wajah Rakia.
"M ... mmm...."
Wanita itu membuka matanya dan melihat seorang pria di depannya. Hal itu membuatnya langsung bangkit.
"Ah! Siapa kau? Kenapa bisa ada di kamarku?!" pekiknya.
Sebelah alis pangeran terangkat sebelum akhirnya mengkode wanita itu untuk melihat kasur.
"Eh?" bingung Rakia menatap pangeran berambut abu-abu itu dan kasur secara bergantian.
Terukir senyuman tidak bersalah. "Hehe, Pangeran, itu...."
"Ini salah paham! Saya hanya menunggu Pangeran sampai tidak sadar saya keti—"
"Salah paham? Setelah apa yang kau lakukan padaku kemarin malam?" tanya pangeran itu memotong ucapan Rakia.
"Memangnya apa yang sudah saya lakukan?" tanya Rakia ragu-ragu.
Pangeran itu mengingat ciuman mereka membuat wajahnya merona. Ia menutupi bibirnya dengan punggung tangan sambil memalingkan wajah.
Apakah dia ingin aku yang mengatakannya? Apa dia sungguh tidak ingat? Apalagi wanita ini reaksinya biasa saja, kata Pangeran dalam hati.
"Ah! Mengenai soal itu saya tidak bermaksud," kata Rakia.
Dia mengingatnya, ya? Hm, kata Pangeran dalam hati.
__ADS_1
"Karena kamar Anda begitu gelap, saya membuka satu jendelanya tanpa izin," kata Rakia menunduk.
"Jen ... dela? Haa, sepertinya dia sungguh tidak ingat. Lupakan soal itu, aku?"
"Godaime Ouji(Pangeran Kelima), Rui von Rivazreich."
"Saya Rakia."
Pangeran Rui menatap Rakia setelah mendengar namanya.
"Um, apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Rakia merasa tidak nyaman.
"Namamu Rakia, kan? Entah kenapa kau mirip dengan seseorang yang kukenal, bahkan nama kalian berdua sama persis."
Rakia tertegun.
Apakah dia tahu soal diriku? Jika iya maka habislah aku. Tapi aku belum pernah bertemu dengannya, jadi bagaimana mungkin dia mengenaliku? Ssttt, cemas Rakia dalam hati.
Wanita itu menelan saliva saat Pangeran Rui mengitarinya.
"Um mungkin perasaanku saja. Tidak mungkin orang yang kukenal itu tampangnya seperti ini."
"Maaf saja kalau tampangku seperti ini," kata Rakia tersenyum mengernyitkan alis.
"Kalau begitu saya akan ke kamar dulu, dan kembali sebentar lagi," lanjut Rakia.
"Oh iya, buatkan sarapan untukku dan bawa ke kamarku!"
"Shitsurei shimasu(Permisi)."
Pangeran Rui menatap kepergian Rakia. "Haa, tidak kusangka ciuman pertamaku kuberikan padanya. Ayss seharusnya aku tidak mengangkatnya ke kasur!"
...Visual Pangeran Kelima, Rui von Rivazreich...
__ADS_1