
Setelah pengumuman resmi 2 acara pertunangan sekaligus, kini giliran Raja Rivazreich yang berkunjung. Kaisar Helios beserta keluarganya tersenyum melihat rombongan mobil yang datang itu dari balik jendela koridor istana.
......................
Aula
‘’Selamat datang,’’ sambut Kaisar Helios.
12 Pangeran Rivazreich membungkuk memberi hormat begitu juga kelima keturunan Kerajaan Helios. Salah satu pangeran mengerutkan dahi.
‘’Apakah Putri Ketiga masih menjalankan studi tata kramanya? Kenapa masih ada 3 seorang putri?’’ tanya Pangeran Aron.
Lima pangeran yang sudah mengetahui identitas Putri Rakia hanya saling bertatapan.
Kaisar Helios tersenyum dengan kepala menunduk mendengar pertanyaan itu. ‘’Mari.’’
......................
Ruang Aula
Para pelayan datang membawa hidangan untuk jamuan. Sama seperti saat mereka mendapat sambutan yang istimewa di Kerajaan Rivazreich, Kaisar Helios juga memberi pelayanan yang memuaskan.
‘’Kudengar Pangeran Shinsuke dan Putri Kagura sudah kembali dari Eropa. Kenapa tidak ikut berkunjung?’’ tanya Kaisar Helios.
‘’Kakak bilang ingin menjaga istana selagi kami pergi. Jadi aku serahkan semua urusan kepadanya. Dia hanya menitip salam kepadamu dan meminta maaf karena tidak bisa datang,’’ kata Raja Rivazreich.
Kaisar Helios mengangguk mengerti. ‘’Tidak apa-apa. Kalau mengenai kemampuan, Pangeran Shinsuke tidak perlu diragukan untuk mengurus Kerajaan.’’
__ADS_1
Raja Rivazreich tersenyum tipis. ‘’Ya, aku sangat merasa bersalah karena merebut haknya menjadi seorang Raja. Aku tidak mengerti kenapa semuanya menunjukku padahal ini bukan posisiku.’’
‘’Mau bagaimana lagi, itu sudah takdirmu untuk menjadi Raja. Selain itu, Pangeran Shinsuke juga mendukungmu,’’ kata Kaisar Helios sedikit menghibur.
Raja Rivazreich hanya mengangguk dan tersenyum.
‘’Kita bertemu lagi, Ratu Christhy,’’ senyum Permaisuri Helios.
‘’Benar Permaisuri Youru, senang bertemu dengan Anda kembali,’’ balas Ratu Rivazreich tersenyum.
Ceklek!
‘’Rakia!’’ pekik ketujuh pangeran yang belum mengetahui identitasnya.
Putri Rakia yang datang dengan mahkota kecil di rambut panjang emasnya mengenakan gaun mewah pink terbalutkan bunga mawar pink tersenyum memasuki ruangan itu.
‘’Jadi, setelah pergi kau menerima ajakan Kaisar Helios?’’ tanya Pangeran Goyu.
‘’Kau tega sekali meninggalkan keluargamu di Inggris yang sedang sekarat,’’ kata Pangeran Reonharu.
Dahi Kaisar Helios mengerut mendengar ucapan pangeran termuda Rivazreich. ‘’Sekarat?’’
‘’Benar Yang Mulia, katanya dia menjadi pelayan pribadi karena sedang butuh uang untuk biaya pengobatan keluarganya yang sedang sekarat. Ayah dan ibunya jatuh sakit, begitu juga saudaranya,’’ kata Pangeran Reonharu.
Putri Rakia membuang muka saat semua keluarganya menatap ke arahnya.
‘’Sekarat? Apa maksud Anda mengatakan hal seperti itu mengenai kami semua yang masih sehat ini?’’ tanya Pangeran Kairi dengan alis berkerut meskipun senyuman terukir di bibirnya.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan," kata Putri Rakia dengan wajah kaku.
Pangeran Akakuro tersadar mendengar pertanyaan Pangeran Kairi. ‘’Jangan bilang dia adalah Putri Ketiga yang selama ini tidak kita ketahui?’’
‘’Putri Ketiga? Rakia?!’’ pekik Pangeran Bamie.
Lima pangeran yang sudah mengetahui identitas Putri Rakia hanya terkikik.
Pangeran Anon terbelalak. ‘’Tunggu, jangan bilang hanya kami yang tidak mengetahui identitasnya selama ini?’’
‘’Tidak mungkin. Kenapa selalu kami yang tidak mengetahuinya dan ketinggalan?’’ tanya Pangeran Reonharu.
Putri Rakia tersenyum jahat. ‘’Jadi, haruskah aku melaporkan semua perlakuan kasar kalian kepada Kaisar Helios?’’
Para pangeran itu langsung diam membisu , berbeda dengan Pangeran Ren yang masih mencerna keadaan.
‘’Aa! Sekarang aku mengerti kenapa kau tidak merasa takut saat berniat membatalkan rencana pertunangan waktu itu.’’
Deg!
Pangeran Ren tersadar akan keceplosannya. Ia menatap Putri Rakia yang sudah mengeluarkan aura membunuh membuat bulu kuduknya naik.
‘’Hee~ jadi saat itu yang menyamar menjadi Pangeran Pertama adalah kau, ya?’’ tanya Kaisar Helios.
Putri Rakia hanya tersenyum kikuk merasakan aura mengintimidasi dari ayahnya. ‘’Hehe.’’
‘’Pantas saja aku bingung waktu itu melihat Pangeran Pertama melawanku untuk pertama kalinya,’’ kata Raja Rivazreich.
__ADS_1
‘’Maafkan saya,’’ kata Putri Rakia menunduk.