
Pangeran Ramos tidak sengaja bertemu Rakia.
‘’Aku melihat kalian semua menuju ke aula, ada apa? Apakah sesuatu terjadi?’’ tanya Rakia.
‘’Ayahanda memanggil kami untuk menyampaikan sesuatu, dan kami diutus mewakili beliau di pesta ulang tahun Nona Mezool,’’ jawab Pangeran Ramos.
Wajah Rakia langsung kusut sambil memutar bola matanya malas.
‘’Puff! Kau segitunya tidak menyukai Mezool?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Haa, jangan sebut namanya, aku jadi tambah kesal,’’ kata Rakia.
‘’Kebetulan hari itu Ayahanda juga akan keluar, jadi istana mungkin akan sepi. Tapi jangan khawatir, aku akan akan pulang cepat di antara yang lainnya,’’ kata Pangeran Ramos.
Dahi Rakia mengerutkan dahi. ‘’Kenapa? Bukankah itu kesempatan yang langka, karena bisa berkumpul dengan para saudaramu setelah sekian lama?’’
Pangeran Ramos menghela nafas sambil menatap Rakia dengan wajah bodohnya. ‘’Kau lupa, ya? Bagaimana kalau aku tiba-tiba muntah darah di sana?’’
‘’Ah, benar juga. Seluruh dunia akan dihebohkan kalau hal itu sampai terjadi. Lalu bagaimana? Aku tidak bermaksud untuk melarangmu, mungkin sebaiknya kau tidak pergi dan ambil alasan saja untuk tinggal,’’ usul Rakia.
‘’Jangan khawatir. Aku akan membawa botol kecil sebagai cadangan untuk jaga-jaga. Lagi pula yang kau katakan benar, ini kesempatan langka karena berkumpul bersama mereka setelah sekian lama,’’ senyum sendu Pangeran Ramos.
‘’Kalau begitu, aku akan menunggu di kamarmu dan meramu obat. Jadi saat kau pulang dan kebetulan penyakitmu kambuh, kau bisa langsung meminumnya,’’ kata Rakia.
Pangeran Ramos tersenyum sambil mengusap pucuk rambut Rakia. ‘’Terima kasih.’’
__ADS_1
Wajah Rakia memerah sambil menunduk, ia menepis tangan pria itu. ‘’A-Aku lupa. E-Ereri sepertinya menyuruhku tadi, ahaha, aku pergi dulu.’’
Melihat tingkah lucu Rakia membuat Pangeran Ramos terkekeh.
......................
Raja Rivazreich dan yang lainnya akan segera pergi. 12 Pangeran dan para pelayan membungkuk setelah beberapa rombongan mobil itu pergi.
1 menit kemudian, beberapa rombongan mobil datang lagi.
‘’Kami juga akan segera berangkat, dan mungkin pulangnya malam. Karena tidak ada orang di istana, aku percayakan semuanya kepadamu Rakia,’’ kata Pangeran Ereri.
Rakia mengangguk mengerti. ‘’Saya tidak akan mengecewakan Anda.’’
Pandangan Pangeran Ereri beralih ke belakang wanita itu. ‘’Haruka?’’
‘’Bantu Rakia mengawasi istana. Kalau ada seseorang yang tidak berkepentingan, jangan biarkan mereka melewati gerbang sampai kami pulang. Aku akan memberitahu penjaga agar tidak membuka gerbang selain kami yang datang,’’ kata Pangeran Ereri.
‘’Sesuai perintah Pangeran,’’ kata Haruka.
‘’Kalau begitu, kami pergi.’’
Para pelayan membungkuk saat 12 Pangeran berjalan dan memasuki limousine. Rombongan mobil itu melaju keluar. Setelah memastikan rombongan mobil itu sudah hilang, Haruka menatap Rakia.
‘’Jangan kira karena Pangeran menunjukmu, maka kau bisa berbuat seenaknya. Di sini aku adalah Kepala Pelayan, jadi perintahku mutlak.’’
__ADS_1
Rakia menggeser tangan Haruka dengan kasar di lengannya. ‘’Sudah aku bilang, jangan menyentuhku sembarangan!’’
Haruka mencemohnya berulang kali.
‘’Terserah kau mau bilang apa. Tapi akan kuberitahu kabar baik,’’ kata Rakia membuat Haruka mengerutkan dahi.
‘’Tidak lama lagi aku akan meninggalkan istana ini dan pergi. Dari awal aku tidak pernah lupa dengan perlakuanmu kepadaku sampai sekarang. Jadi, pastikan mulut dan tanganmu tidak berulah lagi sampai aku benar-benar pergi.’’
Haruka tersenyum remeh. ‘’Kau pikir aku takut? Selama ini kau hanya membual, itu karena kau sangat angkuh.’’
Rakia tersenyum dengan kepala menunduk. ‘’Haruka, aku baru memberitahumu kabar baiknya, belum kabar buruknya.’’
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Haruka dengan wajah kusut.
‘’Kabar buruknya ... Aku tidak sabar melihat mulut dan tanganmu itu terlepas dari posisinya setelah kita bertemu kembali dengan diriku yang sebenarnya,’’ senyum Rakia berlalu pergi.
Diriku sebenarnya? Apa maksudnya dia berkata seperti itu? Tunggu dulu, kata Haruka dalam hati.
‘’Nona Haruka tidak perlu meladeninya.’’
‘’Mental Rakia sepertinya benar-benar terganggu.’’
‘’Bagaimana dia bisa berkata seperti itu dengan santainya?’’
"Dia benar-benar psikopat."
__ADS_1
Meskipun menerima beberapa kali ancaman dari Rakia, entah kenapa kali ini perasaan Haruka tidak enak.
‘’Ahaha, benar juga. Dia hanya seorang pembual yang angkuh,’’ kekeh Haruka lalu kembali memasang raut wajah cemas.