
"Mohon maaf," kata Pangeran Ramos menyeka air matanya.
Putri Rakia berusaha menahan air matanya. "Maaf telah membuat Yang Mulia sampai datang kemari."
"Tidak. Ini murni kemauanku sendiri untuk mendatangi Anda," kata Raja Rivazreich.
"Terima kasih Yang Mulia," kata Putri Rakia.
"Mari ke ruang pertemuan untuk melanjutkan jamuannya, dan memberi Putri Ketiga waktu istirahat," kata Kaisar.
"Tidak perlu. Bawa di sini saja," kata Raja Rivazreich.
Melihat Putri Rakia bangkit, membuat Raja menghentikannya.
"Tapi Yang Mulia? Ini akan dianggap sebagai penghinaan untuk Yang Mulia," kata Putri Rakia.
"Kondisi Anda masih belum stabil. Aku bisa memakluminya," senyum Raja.
"Sekali lagi saya minta maaf Yang Mulia," kata Putri Rakia.
Kaisar Helios memerintahkan pelayan untuk membawa jamuan ke kamar Putri Ketiga. Semuanya menikmati hidangan sambil berbincang. Sedangkan Putri Rakia hanya mendengar dari kasur.
"Kurasa saatnya kita membahas mengenai itu," kata Raja.
"Benar, aku harus menebus kesalahanku," kata Kaisar.
"Jadi kapan kita akan mengadakan pernikahan Pangeran Keempat dan Putri Ketiga?" tanya Kaisar.
"Kita harus melihat hari yang baik untuk tanggalnya," saran Raja.
Beberapa saat kemudian setelah melihat peruntungan, mereka semua mengangguk.
"Kita tunggu kondisi Putri Ketiga pulih, baru adakan pernikahan mereka," kata Kaisar.
"Benar. Tepat tanggal 25 Desember mendatang. Mori, aku serahkan pengumuman mengenai pernikahan ini padamu!" perintah Raja.
"Sesuai perintah Yang Mulia," kata Pengawal Mori.
"Yang Mulia?" panggil Permaisuri.
"Hem! Aku dan Raja Rivazreich akan membahasnya lebih lanjut di ruang pertemuan," kata Kaisar.
Semua membungkuk memberi hormat. Masing-masing pengawal mengikuti mereka.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian," kata semuanya memberi ucapan.
Putri Rakia dan Pangeran Ramos tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Aku, Pangeran Ren, Putri Yuriki dan Putri Ukii ingin membahas sesuatu. Jadi kami pergi dulu," kata Pangeran Ereri.
"Kami bertiga juga punya urusan," kata Pangeran Kairi menarik Pangeran Yuga dan Putri Nikki.
"Oh iya. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Ini sangat penting," kata Pangeran Kurotsukki mengkode sembilan adiknya.
Putri Rakia dan Pangeran Ramos hanya diam melihat tingkah mereka, sampai akhirnya mereka berdua terkikik.
"Mereka semua peka juga, sampai memberi kita waktu berdua," kata Putri Rakia.
"Iya," senyum Pangeran Ramos.
"Ramos ... Aku minta maaf," sedih Putri Rakia.
Pangeran Ramos tersenyum. "Aku merindukanmu."
Mata Putri Rakia berkaca-kaca. "Aku juga merindukanmu."
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Pangeran Ramos dengan wajah baby face.
Pangeran Ramos memeluk Putri Rakia dengan erat.
"Kau seperti anak kecil saja," kata Putri Rakia.
Tidak ada jawaban dari pria itu.
"Hei?" panggil Putri Rakia.
"Ramos?" panggilnya sekali lagi.
Tetap tidak ada jawaban dari pria berambut putih itu.
Putri Rakia mengelus pucuk rambut Pangeran Ramos dengan lembut. "Aku baik-baik saja."
"Tapi kau membuatku seperti tercekik setiap detik. Saat mendengar kau bunuh diri, jantungku rasanya terhenti sampai akhirnya aku langsung datang kemari. Melihatmu terbaring saat itu membuatku gemetar. Aku berpikir kau akan meninggalkanku. Aku terus memanggilmu tapi kau tidak sadar, rasanya a--"
Deg!
Pangeran Ramos tertegun saat Putri Rakia mengecupnya di bagian kening.
__ADS_1
"Aku tahu. Karena itulah aku berterima kasih," senyum Putri Rakia.
"Eh?" bingung Pangeran Ramos.
"Aku berada di dalam kegelapan. Tidak ada cahaya di sana sampai aku mendengar suara. Suara yang membuatku tenang, suara yang memanggilku, suara yang menarikku dari kegelapan itu. Iya, itu suaramu Ramos."
Pangeran Ramos menarik pelukannya dan menatap Putri Rakia lekat. "Kau mendengarnya?"
"Aku bahkan merasakan sentuhan dan air matamu di tanganku. Kau telah membuatku siuman," kata Putri Rakia.
Putri Rakia membingkai wajah pria di depannya. "Jika suatu saat kau juga sekarat dan aku memanggilmu, kau harus berjuang untuk kembali demi diriku, sama seperti yang kau lakukan, aku berjuang kembali kepadamu."
Butiran air mata dari kedua orang itu berjatuhan.
"Rakia, bisakah aku?" tanya Pangeran Ramos.
Putri Rakia terbelalak hingga akhirnya tersenyum. "Tentu."
Keduanya memejamkan mata dan saling mendekatkan wajah. Hanya beberapa senti saja sebelum kedua bibir mereka bersentuhan.
Ceklek!
"Eh?" bingung Pangeran Kairi melihat kedua orang itu saling membuang muka.
"Ka-Kakak Kairi ada apa?" tanya Putri Rakia.
"Aku datang untuk memanggil Pangeran Keempat. Raja memberitahu kalau Anda harus istirahat, jadi mereka akan pulang," jawab Pangeran Kairi.
Terlihat raut wajah kecewa di wajah kedua orang di atas kasur itu.
"Baiklah kalau begitu. Rakia aku pergi dulu," kata Pangeran Ramos bangkit.
"Iya," jawab Putri Rakia.
Pangeran Ramos berlalu duluan.
"Maaf karena aku menyela moment kalian tadi," kata Pangeran Kairi mengedipkan kedua matanya.
"Kakak sengaja?"
Pangeran Kairi tersenyum puas sambil berbalik pergi. "Tunggu sampai kalian menikah baru melakukannya"
"Kakak menyebalkan!" kesal Putri Rakia.
__ADS_1