My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 159 Menyelamatkan Diri


__ADS_3

“Kejam, benar kejam. Pangeran Shinsuke … Anda benar-benar kejam!” seru Raja.


Pangeran Shinsuke tidak peduli. “Sekarang waktunya Anda turun takhta, Shewfelt von Rivazreich.”


“Awalnya aku berpikir ingin menyerahkan takhta ini kepada Anda semenjak Pangeran Keempat meninggal. Tapi, mengetahui kejahatan sebesar ini, bahkan jika Anda adalah saudaraku, aku tidak akan segan sebagai Raja … Aku akan memberi hukuman kepada Anda!” tegas Raja.


Mata Pangeran Shinsuke memicing. “Kau dengar itu Putri Rakia?”


Deg!


Semua orang tersentak mendengar ucapan Pangeran Shinsuke. Pangeran pertama generasi ketujuh mengeluarkan remot kontrol.


“Karena gagal sebagai kunci keberhasilan, aku harus membuang kalian. Saat ini, Putri Ketiga, Rui, Dokter Wo, Mezool, dan … Pangeran Ezekiel ada di tempat lain. Sekali saja aku menekan tombol ini, maka bom dalam bangunan itu akan meledak menyapu bersih mereka, sama seperti 19 tahun yang lalu.”


“Pangeran Shinsuke!” seru Kaisar.


“Turun takhta atau tidak sama sekali,” tatap Pangeran Shinsuke ke arah Raja.


Raja Rivazreich mengepalkan tangan. Ia tidak punya pilihan lain. “Ba—”


“Tidak! Sebagai calon Raja selanjutnya, saya menentang keputusan Yang Mulia!” seru Pangeran Ereri yang didukung oleh semuanya.


Pangeran Shinsuke berdecih. “Karena itulah aku memilih Ramos yang lebih penurut, daripada pembangkang seperti kalian.”


“Shewfelt, berikan pilihanmu!” seru Pangeran Shinsuke.


Tangan Raja Rivazreich begitu gemetar. Ia tidak bisa memberikan takhta kepada kriminal seperti kakaknya, tapi di sisi lain ada 5 nyawa yang menjadi taruhannya.


“Raja Rivazreich tidak akan turun takhta!” tegas Kaisar.


Pangeran Shinsuke mengerutkan dahi tanda kesal. Ia kembali meminta jawaban kepada adiknya, tapi yang ia lihat, perkataan Kaisar adalah jawaban adiknya.


“Kalau begitu, Kaisar dan Permaisuri, aku akan membuat kalian mengingat rasa trauma karena kehilangan Putri Ketiga sekali lagi,” kata Pangeran Shinsuke menekan tombol.

__ADS_1


"Tidak!" seru semuanya.


Boom!


Pangeran Rui yang berlari langsung terjatuh karena guncangan itu. “Tidak, tidak boleh!”


......................


Ruang Eksekusi


Pangeran Shinsuke menjetikkan jari sehingga keluar asap. Tidak lama kemudian, asap itu menghilang sedikit demi sedikit.


“Paman tidak ada!” pekik Pangeran Kurotsukki.


“Pangeran Keempat juga menghilang!” pekik Pangeran Kairi.


Raja menggertak gigi. “Kerahkan semua prajurit ke penjuru kota untuk mencari Pangeran Shinsuke!”


“Yang Mulia!” teriak Pengawal Mori memperlihatkan layar ponselnya.


......................


Pria berambut putih itu memegang kepalanya. “Pa-Paman?”


“Kau sudah sadar? Sudah kubilang, aku akan datang menjemputmu,” kata Pangeran Shinsuke.


Ramos menulis angka-angka, lalu meminum racun itu. Namun, ia langsung menggigit sebuah kapsul yang sudah dipasang di giginya, jadi meskipun dia meminum racun itu, penangkal racun itu bisa mencegahnya.


“Karena racun itu dinetralkan dalam tubuhmu, mungkin kau akan merasa sedikit pusing dan sakit kepala. Kalian berdua benar-benar nekat demi orang yang dicintai, heh,” kekeh Pangeran Shinsuke.


“Jadi kita akan pergi ke mana Paman?” tanya Ramos.


“Bergabung bersama kunci lainnya,” senyum Pangeran Shinsuke.

__ADS_1


......................


Bangunan Tua


“A-Apa itu?” tanya Putri Rakia.


Dokter Wo hanya santai dan baring sambil menyangga kepalanya di atas kedua tangannya .


“Ka-Kamiya-kun! Apa itu?!” jerit Putri Rakia.


“Tidak perlu takut. Itu hanya persiapan untuk kita semua. Anda tidak dengar perkataan Pangeran Shinsuke tadi? Bergabung bersama kunci lainnya. Karena rencana gagal, berarti kunci harus dibuang,” kata Dokter Wo.


Putri Rakia mengerutkan dahi tanda bingung.


“Kita semua akan mati di sini setelah Pangeran Shinsuke tiba bersama mayat Pangeran Keempat. Itu artinya ini rencana bunuh diri massal yang sudah dipersiapkan,” kata Pangeran Ezekiel muda.


Dokter Wo tersenyum sendu. “Sempurna.”


“Kamiya-kun! Kita harus pergi menyelamatkan yang lainnya,” mohon Putri Rakia.


“Tidak ada yang bisa keluar dari bangunan labirin ini. Jadi santai saja sampai ajal menjemput,” kata Dokter Wo.


“Tidak, Ezekiel masih punya masa depan yang belum dia capai. Kalau aku memang harus mati maka baiklah, tapi tidak dengan Ezekiel. Kamiya-kun, aku tahu kau mengenal bangunan labirin ini, jadi aku memohon kepadamu untuk membawanya keluar. Aku akan menunggumu kembali dan diam bersamamu menunggu kematian,” kata Putri Rakia.


Mata Pangeran Ezekiel membulat besar. “Tidak! Aku tidak akan keluar dari sini tanpa i—”


“Ini adalah perintah dari Putri Ketiga, Rakia de Gabrielle Helios! Anda tidak punya hak untuk menolaknya!” tegas Putri Rakia.


Dokter Wo berjalan melepaskan tali yang mengikat tubuh Pangeran Ezekiel, lalu berjalan ke arah Putri Rakia.


“A-Apa yang kau lakukan?” tanya Putri Rakia.


“Aku akan membawa kalian berdua keluar. Tidak, aku akan membawa semuanya keluar dari bangunan labirin ini,” kata Dokter Wo.

__ADS_1


“Tapi kenapa? Bukankah kau ingin ki—”


“Cepatlah sebelum aku berubah pikiran,” kata Dokter Wo.


__ADS_2