
Raut wajah Rakia berubah drastis melihat senyuman itu. ‘’Rui, kau tidak tahu bagaimana sosok teman masa kecilmu ini.’’
Rakia berjalan menghampiri Mezool yang mulai merasa gugup.
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Pangeran Rui.
‘’Dia hanya berpura-pura dan ingin menyalahkan diriku. Biar aku buktikan,’’ kata Rakia mengeluarkan lap tangan dari saku seragamnya.
Dahinya berkerut melihat bekas memar itu tidak hilang setelah dirinya menggosok bekas memar itu berulang kali. ‘’Eh?’’
‘’Hiks … Hiks … Rasanya sakit sekali,’’ isak Mezool.
‘’Cukup! Aku sungguh tidak percaya kau melakukan ini Rakia. Padahal Mezool begitu baik kepadamu,’’ marah Pangeran Rui.
Sebelum pria tadi menarik Mezool pergi, ia menatap Rakia. ‘’Kau bukan siapa-siapa yang berhak memukuli teman masa kecilku.’’
Rakia tertegun melihat kepergian 2 orang tersebut. Ia menunduk sambil meremas lap tangan yang dipakainya tadi. ‘’Kenapa bisa seperti itu?’’
Ia kembali menatap ke arah 2 orang tadi sambil terdiam.
‘’Rakia?’’
Dengan cepat, Rakia berbalik ke belakang. ‘’Ramos? Kenapa kau ada di sini?’’
‘’Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini?’’ tanya balik Pangeran Ramos.
Rakia menggeleng sambil memasukkan lap tangan ke saku seragam pelayannya. ‘’Aku dari kamar Ereri, kau sendiri?’’
‘’Dari taman,’’ jawab Pangeran Ramos.
‘’Oh, kalau begitu aku akan mengantarmu ke kamar,’’ kata Rakia.
......................
__ADS_1
Kamar Pangeran Keempat
‘’Terima kasih, kau boleh pergi,’’ senyum Pangeran Ramos.
Rakia mengangguk mengerti dan berbalik. Pangeran Ramos yang hendak membuka pintu langsung terjatuh.
‘’Ramos!’’ pekiknya yang menyadari pria tadi terjatuh, sehingga ia kembali menghampiri pria itu.
Pangeran Ramos meringis. ‘’Akh!’’
Rakia dengan pelan memapah pria tadi menuju ke arah kasur. Namun, belum sempat sampai, batuk Pangeran Ramos menjadi-jadi.
‘’Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uh—‘’
Brack!
Mata Rakia membulat besar melihat pria itu kembali memuntahkan darah.
‘’Ra-kia,’’ panggil Pangeran Ramos.
Pangeran Ramos meremas dadanya ‘’Rasanya sangat sakit di sini.’’
‘’Kenapa seperti ini lagi?! Kau meminum sesuatu?’’ tanya Rakia gusar.
‘’Ti-Tidak. Aku hanya minum teh saat di taman tadi,’’ jawab Pangeran Ramos.
Rakia begitu frustasi. Ia ingin meminta bantuan, tapi harus menjaga rahasia mengenai penyakit pria ini juga. Tidak mungkin, ia meninggalkan pria itu dalam kondisi seperti ini. ‘’Ah, apa yang harus kulakukan?’’
Mata Rakia mulai berkaca-kaca karena tidak tahu harus melakukan apa.
Ceklek!
‘’Ramos, apakah kau ada di kamar? Aku ingin membahas sesuatu,’’ kata Pangeran Shinsuke.
__ADS_1
Deg!
‘’Ramos!’’ pekiknya.
Pangeran Shinsuke menghampiri mereka berdua. ‘’Ada apa ini? Bukankah kondisimu sudah membaik?!’’
‘’Pangeran Shinsuke,’’ tatap Rakia memelas.
Rakia gemetar ingin menangis melihat sekali lagi pria itu sekarat.
‘’Rakia, kenapa dia tiba-tiba batuk dan muntah darah lagi?’’ cemas Pangeran Shinsuke.
‘’Sa-Saya juga tidak tahu. Dia baik-baik saja saat aku mengantarnya tadi. Setelah Pangeran Ramos menyuruhku pergi, kondisinya sudah seperti ini,’’ jawab Rakia.
Pangeran Shinsuke mengerutkan dahi. ‘’Tidak mungkin. Kalau begitu tenanglah, jangan menimbulkan suara mencurigakan, aku segera kembali!’’
Pangeran Ramos menggenggam tangan Rakia begitu erat karena merasa kesakitan.
‘’Ramos, bertahanlah,’’ tatap Rakia cemas.
Tidak lama kemudian, Pangeran Shinsuke datang membawa botol kecil. Ia mengambil mangkuk mini keramik berisikan air lalu meneteskan isi botol itu. ‘’Untunglah aku tetap membawanya.’’
‘’Apakah itu penawar yang telah Pangeran Shinsuke dapatkan?’’ tanya Rakia.
‘’Ya. Kudengar Ramos menjalani pemeriksaan sehingga kondisinya membaik. Tapi aku tetap membawanya untuk jaga-jaga,’’ jawab Pangeran Shinsuke.
Rakia terbelalak mendengar ucapan pria yang merupakan paman dari keduabelas pangeran.
‘’Sepertinya Ramos sudah merasa sedikit tenang, aku percayakan dia kepadamu.’’
Wanita tadi hanya diam tanpa memberi respon.
‘’Rakia?’’
__ADS_1
‘’Eh, ah, saya mengerti Pangeran Shinsuke.’’
Sesuatu mengganggu pikiran Rakia. Ia kembali menatap Pangeran Shinsuke yang khawatir itu.