My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 136 Siuman


__ADS_3

Alam bawah sadar


Semua tampak gelap tanpa ada cahaya sedikitpun.


Aku di mana? (Rakia)


Apakah aku sudah meninggal? (Rakia)


Tiba-tiba terasa sesuatu yang aneh di tubuhnya.


Eh? Apa ini? Ada seseorang yang memegang tanganku? (Rakia)


Siapa? (Rakia)


Rakia, aku juga sama terlukanya saat paman memberitahuku mengenai pernikahan kita yang dibatalkan.


Dia memanggilku? (Rakia)


Tapi yang lebih membuatku terluka kenapa kau nekat bunuh diri? Apakah kau ingin menyiksaku?


Terluka? Menyiksanya? (Rakia)


Siapa pemilik suara ini? (Rakia)


Plink!


Eh? Tetesan air sepertinya mengenai tanganku. Tunggu … Apakah dia menangis? (Rakia)


Bahkan jika akhir bulan ini hidupku akan berakhir, aku akan melawannya sekuat tenaga demi dirimu, agar kita berdua resmi menikah. Tapi jangan lakukan tindakan bodoh seperti ini.


Tangannya gemetar. (Rakia)


Kumohon, sadarlah. Sadarlah Rakia, aku ada di hada—


Hilang? Suara itu menghilang, di mana? Di mana suara itu? (Rakia)


Semua masih tampak gelap.


 Di-mana? Haa, rasanya aku mengantuk. Aku ingin ti-dur. (Rakia)


Tepat sebelum kesadaran Rakia menghilang, tiba-tiba suara itu datang kembali.


Akh! Sakit, sangat sa—

__ADS_1


Suara itu akhirnya kembali lagi. (Rakia)


Brack!


Brack!


Ra-kia, haa … Huha….


Apa yang terjadi? Dia seperti sangat kesakitan. (Rakia)


Pangeran Keempat!


Deg!


‘’Hha!’’ pekik Putri Rakia membuka mata.


‘’Rakia! Akhirnya kau sadar juga!’’ pekik Pangeran Kairi.


‘’Kakak Rakia!’’ seru Pangeran Yuga.


‘’Wuah Kakak Rakia! Hiks!’’ isak Putri Nikki.


Dengan nafas tersengal dan keringat dingin yang menyelimuti kening dan lehernya, Putri Rakia menatap ke sekitar dan melihat dirinya terinfus sambil memakai alat bantu pernafasan.


‘’Eh?’’ tatap Pangeran Kairi tidak percaya.


Apakah karena Pangeran Keempat dia akhirnya tersadar? Kalau itu memang benar, aku sangat tidak percaya hal ini. Cinta kalian berdua sungguh kuat, kata Pangeran Kairi dalam hati.


......................


Ruang Pribadi Kaisar


Sudah hampir sebulan, Pengawal Maru sedih melihat Kaisar seperti ini. Banyaknya masalah membuat pria di depannya itu terjerumus ke dalam kesedihan.


‘’Yang Mulia, kita semua telah mendoakan Putri Ketiga jadi Tuan Putri akan baik-baik saja. Saya yakin hal itu,’’ kata Pengawal Maru mencoba menghibur.


Namun, Kaisar Helios hanya diam sambil tersenyum tipis.


Yang Mulia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Jarang makan, membuatnya semakin kurus, bahkan lingkaran hitam semakin terlihat di bawah kantung mata Yang Mulia. Haa, semoga Putri Ketiga segera siuman, dengan begitu Yang Mulia tidak perlu merasa bersalah, dan kembali hidup rukun dengan keluarganya, kata Pengawal Maru dalam hati.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu membuat Pengawal Maru menoleh, berbeda dengan Kaisar Helios yang tidak peduli sama sekali.

__ADS_1


Ceklek!


Prajurit itu membungkuk setelah pengawal Maru membuka pintu. ‘’Saya datang membawa pesan dari Pangeran Pertama.’’


Mendengar hal itu, membuat pandangan Kaisar beralih ke pintu.


‘’Ada apa?’’ tanya pengawal Maru.


‘’Putri Ketiga telah siuman.’’


Deg!


Kaisar Helios spontan berdiri. ‘’Apa?’’


‘’Benar Yang Mulia, Putri Ketiga telah siuman, karena itulah Pangeran Pertama mengutus saya untuk menyampaikan hal ini kepada Yang M—‘’


Kaisar Helios hendak bergegas, namun ia langsung terjatuh karena lemah bukan main.


"Yang Mulia!" pekik Pengawal Maru membantu Kaisar berdiri.


‘’Jangan pedulikan aku. Segera beritahu Permaisuri!’’


Meski berat, Pengawal Maru membungkuk. "Sesuai perintah Yang Mulia."


......................


Kamar Kaisar & Permaisuri


‘’Sudah aku bilang, tidak ada yang boleh menemuiku sampai Putri Ketiga siuman! Kenapa kau tetap datang Pengawal Maru? Apakah kau tidak menghormati perintahku?’’ tanya Permaisuri Helios.


Kondisi Permaisuri juga sepertinya sangat buruk seperti Yang Mulia. Permaisuri juga pasti tidak bisa tidur dan jarang makan, kata Pengawal Maru dalam hati.


‘’Mohon maaf Yang Mulia. Tapi saya datang menyampaikan kabar yang begitu penting,’’ kata pengawal Maru.


Permaisuri Helios menarik nafas dengan urat leher yang menegang. ‘’Katakan!’’


‘’Pangeran Pertama baru saja mengirim kabar kalau Putri Ketiga telah siuman. Dan Yang Mulia menyuruh hamba menyampaikan hal ini kepada Permaisuri.’’


Deg!


‘’Apa? Putri Rakia sudah siuman? Putriku sudah siuman?’’ tanya Permaisuri tidak percaya.


Permaisuri Helios langsung bergegas pergi. ‘’Rakia!’’

__ADS_1


__ADS_2