My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 115 Permintaan Pangeran Keempat


__ADS_3

Tidak terasa, malam semakin larut setelah kesebelas pria itu menghabiskan waktu seharian penuh di kamar Pangeran Keempat. Mereka pun berpamitan dan berjalan keluar kecuali Pangeran Kelima.


Pangeran Ramos mengerutkan dahi melihat salah satu adiknya itu masih berdiri di tempatnya dengan kepala menunduk. ‘’Kau kembalilah juga ke kamarmu.’’


‘’Kenapa Kakak Ramos menyembunyikannya?’’ tanya Pangeran Rui.


Pangeran Keempat tidak menjawab dan hanya diam membuat Pangeran Rui menggertak gigi.


‘’Kakak Ramos!’’ seru Pangeran Rui.


‘’Diam lebih baik,’’ jawab Pangeran Ramos datar.


‘’Lalu bagaimana dengan sekarang? Kami semua dipenuhi rasa penyesalan yang besar karena tidak mengetahui hal sebesar ini,’’ kata Pangeran Rui.


Pangeran Ramos menatap adiknya dengan tatapan sendu. ‘’Maaf.’’


Namun, Pangeran Kelima diam untuk sesaat sambil menatap ke arah lantai.


‘’Kalau tahu seperti ini … Heh, hahaha ... Ahahaha, ada apa denganku? Kenapa aku malah menangis?’’ kekeh Pangeran Rui mengusap matanya berulang kali.


Kenapa aku menangis? Ini bukan diriku, ucapnya dalam hati.


‘’Aku benar-benar gila, begitu banyak kejadian yang terjadi dan aku? Aku … Eh?’’

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Pangeran Rui terbelalak melihat Pangeran Keempat menangis. Butiran air mata terjatuh dari kedua pria itu. Keduanya saling berdiri dan berhadapan.


‘’Kalau aku benar-benar tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini, maukah kau berjanji sesuatu padaku?’’ tanya Pangeran Ramos.


‘’Apa yang Kakak Ramos katakan?’’ bingung Pangeran Rui.


Pangeran Ramos terdiam. Ia mengepalkan tangan meskipun tidak sudi mengatakan hal ini kepada adiknya. Perasaannya begitu terluka tapi ia tidak punya pilihan lain. ‘’Tolong jaga Rakia untukku.’’


Deg!


Mata Pangeran Rui membulat besar.


‘’Obat yang aku minum tidak akan menjamin hidupku sampai akhir bu—‘’


‘’Kau akan sembuh! Berhenti bertingkah seolah-olah kau akan mati! Apakah kau tidak memikirkan perasaan Rakia?!’’ seru Pangeran Rui memotong ucapan kakaknya.


‘’Kalau itu memang benar, seharusnya saat ini aku sudah sembuh. Tapi, sampai sekarang tidak ada satu pun obat yang berhasil bekerja di dalam tubuhku. Penyakitku malah semakin parah. Bagaimana aku memper—‘’


Bugh!


Ucapannya terpotong saat Pangeran Kelima melayangkan pukulan membuat dirinya tersungkur ke lantai.


"Rui?"

__ADS_1


‘’Kakak Ramos akan sembuh! Semuanya juga mengatakan hal ini. Jangan membuatku berubah pikiran terhadap Rakia. Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Pangeran Rui berlalu meninggalkan kamar.


Apakah dia merestui hubunganku dengan Rakia? Kupikir dia tidak akan melepaskan wanita itu, kata Pangeran Ramos dalam hati.


Ia pun bangkit duduk dengan butiran air mata yang masih terjatuh.


‘’Kau tahu apa tentang bagaimana perasaanku? Meskipun aku menikahinya, tapi akhir bulan ini tidak ada yang bisa menjamin nyawaku. Dulu, aku tidak takut akan kematian dan bahkan tidak peduli. Tapi setelah Rakia datang, untuk pertama kalinya aku merasa ketakutan menunggu hari itu tiba.’’


Pangeran Ramos mengepalkan tangan dengan raut wajah sendu. ‘’Rakia, aku tidak ingin meninggalkanmu, bisakah aku?’’


......................


Koridor Istana


Pangeran Rui melangkahkan kakinya dengan cepat. Perasaannya campur aduk. Ia tidak peduli keadaan sekitar sampai dirinya tiba di kamarnya.


Ceklek!


Ia menghela nafas kasar.


Kalau aku benar-benar tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini, maukah kau berjanji sesuatu padaku?


Tolong jaga Rakia untukku. (Pangeran Rui teringat)

__ADS_1


Tangannya mengepal sambil menggertak gigi.


Dasar, ke mana sisi percaya dirimu merebut Rakia selama ini? Sekarang kau menjadi pengecut! Benar-benar membuatku kesal, kata Pangeran Rui dalam hati.


__ADS_2