My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 113 Keheningan di Ruang Makan


__ADS_3

Semua berkumpul untuk sarapan. Ratu Rivazreich mengerutkan dahi saat menyadari salah satu putranya tidak hadir.


"Pangeran Keempat belum datang. Ini pertama kalinya dia terlambat, apakah dia masih di kamar?"


Tidak ada yang menjawab, membuat wanita itu bingung, karena mereka diam sejak tadi.


"Kenapa hari ini semuanya diam? Apakah hanya perasaanku saja?" tanya Ratu Rivazreich.


"Tidak apa-apa, ayo kita sarapan," senyum Raja Rivazreich duduk.


Semua ikut duduk sambil dilayani para pelayan.


"Yang Mulia, kita tidak menunggu Pangeran Keempat?" tanya Ratu.


"Untuk hari ini, dia ingin sarapan di kamar saja," jawab Raja.


Ratu Rivazreich mengangguk mengerti dan mulai menyentuh sarapan. Berbeda dengan para pangeran yang terdiam tanpa menyentuh makanan mereka.


11 Pangeran tersebut diam membisu di ruang makan.

__ADS_1


Ramos punya penyakit karena itulah dia tidak pernah keluar kamar, kata Pangeran Akakuro dalam hati.


Kenapa Ayahanda menyembunyikan berita sebesar ini?! Kami juga berhak tahu, kata Pangeran Ereri dalam hati.


Apakah karena Ayahanda tidak mempercayai kami? Haa, kata Pangeran Kurotsukki dalam hati.


Padahal aku berpikir kalau Kakak Ramos itu tidak mempedulikan kita, ternyata Kakak Ramos sakit parah dan dia memilih diam, kata Pangeran Anon dalam hati.


Kakak Ramos sangat mengkhawatirkan kondisiku, sedangkan aku sama sekali tidak pernah mengkhawatirkan kondisinya, kata Pangeran Ren dalam hati.


Kami malah menganggap Kakak Ramos orang yang dingin dan menyeramkan, kata Pangeran Bamie dalam hati.


Aku akan salah mengerti nada piano kalau bukan Kakak Ramos yang mengoreksinya, kata Pangeran Reonharu dalam hati.


Kami malah menganggap Kakak Ramos lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama saudaranya, kata Pangeran Aron dalam hati.


Saat berkumpul pun, tidak ada yang mengajak Kakak Ramos bicara dan mengabaikannya karena berpikir Kakak Ramos tidak sudi berkumpul dengan kami, cih! Dasar, kata Pangeran Goyu dalam hati.


Pangeran Rui langsung mengingat saat dirinya melihat sebuah botol di meja lampu ketika mengunjungi kakaknya waktu itu.

__ADS_1


Botol itu … Apakah milik Kakak Ramos? Kalau itu benar, seharusnya sejak hari itu aku menyadarinya, kata Pangeran Rui dalam hati.


Ia juga mengingat saat Rakia menamparnya karena menjelekkan nama kakaknya , begitu juga saat penculikan yang direncanakan oleh Mezool di hari ulang tahu wanita itu.


Hari itu, Kakak Ramos tiba-tiba memuntahkan darah, apakah mungkin karena penyakitnya kambuh? Lalu kemarin, apakah Kakak Ramos berusaha memberitahuku mengenai dirinya tapi aku malah terus memotong ucapannya, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Haa, bingungnya dalam hati.


Untuk pertama kalinya, meja makan ini menjadi hening padahal biasanya mereka akan berbincang. Semua pandangan langsung menuju ke arah kursi kosong milik Pangeran Keempat. Mereka jadi merasa bersalah setelah mengetahui kebenarannya.


"Kenapa kalian semua hanya diam dan tidak menyentuh sarapan?" tegur Ratu.


Mendengar teguran itu membuat kesebelas putranya menyentuh sarapan meskipun agak sulit mereka menelannya.


Karena sarapan pagi sudah selesai, para pelayan hendak membersihkan meja makan.


‘’Bawakan sarapan pagi ke kamar Pangeran Keempat!’’ perintah Raja Rivazreich.


‘’Sesuai perintah Yang Mulia. Saya akan memberitahu Chef,’’ jawab Haruka.


‘’Tunggu! Biar kami yang membawanya nanti, apakah Ayahanda memberi izin?’’ tanya Pangeran Ereri.

__ADS_1


Raja Rivazreich menghela nafas dan mengangguk. ‘’Setelah Chef selesai membuatnya, biarkan para Pangeran yang membawanya nanti.’’


Haruka mengangguk dan membungkuk. ‘’Sesuai perintah Yang Mulia.’’


__ADS_2