
"Apa yang kau katakan? Aku ini adalah Aron," senyum pria itu selembut mungkin.
Rakia menggertak gigi. "Cukup! Aku sudah bersabar menghadapi kalian berdua yang selama ini mempermainkanku."
Pangeran itu terbelalak mendengar ucapan Rakia. Wanita itu lalu menatap ke arah pintu yang terbuka sedikit.
"Pangeran Aron, apakah Anda akan tetap berdiri di balik pintu itu?"
Deg!
Pangeran Aron tersentak. Ia membuka pintu perlahan dan menampakkan dirinya.
Rakia tersenyum miring melihat kedua pria itu berada di ruangan yang sama.
"Kepribadian yang tiba-tiba berubah dalam waktu singkat mustahil dilakukan oleh seseorang. Harus butuh alasan kuat agar membuat kepribadian seseorang bisa berubah. Tapi di saat seseorang bisa berada di tempat yang sama dengan kepribadian yang berbeda hanya bisa dilakukan, itu jika mereka adalah anak kembar."
Kedua pria itu memandangi Rakia datar. Karena sudah terungkap, Pangeran Aron hanya menghela nafas sambil menghampiri Rakia.
"Jadi, kapan kau menyadarinya?" tanya Pangeran Aron.
Rakia tersenyum dengan sebelah alis terangkat. "Sejak awal datang kemari, dan itu berkat Anda sendiri yang hampir keceplosan waktu itu."
Pangeran Aron mengingat pertemuan pertama mereka saat dirinya membahas Optimus dan hampir keceplosan.
"Lalu, aku mulai memperhatikan Optimus."
"Optimus?" bingung Pangeran yang satunya.
__ADS_1
"Guk!"
"Duh, maaf. Dia sering melakukan hal itu jika bertemu dengan lawan jenisnya."
"Guk!"
"Kau merepotkan orang lain lagi, ya?"
"Ayo Optimus."
"Guk!" (Rakia teringat)
"Optimus yang sering menyalak di waktu tertentu bukankah sangat aneh?" tanya Rakia.
Namun, kedua pria itu tidak mengerti maksud ucapan Rakia.
Pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan Pangeran Aron hanya tersenyum.
"Dia bisa mengenaliku bahkan jika kami kembar, ya?"
Rakia menatap kedua pria itu.
Wajah mereka benar-benar identik. Pantas saja aku kewalahan oleh mereka, kata Rakia dalam hati.
Pangeran berambut kuning menghela nafas, lalu berdiri. "Sepertinya permainan sandiwara ini sudah berakhir. Tidak ada alasan lagi untuk meneruskannya."
Pria itu tersenyum. "Dai Roku Ouji(Pangeran Keenam), Anon von Rivazreich."
__ADS_1
"Pangeran Anon, ya?" tatap Rakia.
Pangeran Aron menghela nafas dengan perasaan tidak puas sambil mengalungkan kedua tangannya di kepala. "Kau sudah mengetahuinya sejak awal tapi masih bersikap seperti biasa, kurasa malah kau yang terdengar mempermainkan kami berdua."
Rakia tersenyum puas. "Setidaknya aku harus membongkar drama kalian lebih dulu sebelum melayani Pangeran selanjutnya."
Kedua Pangeran kembar itu saling bertatapan lalu beralih menatap Rakia.
"Padahal aku berniat akan mengerjaimu dengan cara yang lain, tapi waktumu melayani kami juga sudah habis," kata Pangeran Aron.
"Dasar si kembar pembuat ulah," cibir Rakia dan mereka bertiga hanya terkekeh.
"Tapi, kalau sudah tahu sejak awal, kenapa kau tidak mencari Kakak Anon?" penasaran Pangeran Aron.
"Tidak perlu mencarinya, karena aku tahu dia berada dimana," jawab Rakia santai.
"Memangnya Kakak Anon ada di mana? Kau terlalu percaya diri mengetahui keberadaannya," ledek Pangeran Aron.
"Mudah saja. Pangeran Anon lebih suka membaca saat aku bertemu dengannya, dengan kata lain, selama kalian berdua bergiliran kulayani, Pangeran Anon berada di Perpustakaan Kerajaan untuk membaca. Apakah perkataanku salah Pangeran Anon?"
Pangeran Anon hanya terkekeh pelan melihat Rakia.
"Eyy, berhenti berbicara angkuh seperti itu, kau itu hanya pelayan," kata Pangeran Aron.
"Terima kasih atas pujiannya," senyum Rakia.
...Visual Pangeran Keenam, Anon von Rivazreich...
__ADS_1