
Pangeran Rui keluar dengan raut wajah murung. Ia berjalan menghampiri Rakia yang menunggu di sekitar.
‘’Rui, bagaimana?’’ tanya Rakia melihat pria itu datang.
‘’Kakak Ramos memang marah padamu,’’ jawab Pangeran Rui.
‘’Jadi, apa alasan dia marah kepadaku?’’ tanya Rakia.
Pria itu diam sejenak. ‘’Kakak Ramos tidak mau kita berdua selalu dekat, itulah kenapa dia marah kepadamu dan mengacuhkanmu.’’
Rakia habis pikir. ‘’Hanya karena itu?’’
‘’Mm. Dia akan memaafkan dirimu kalau aku menjauhimu,’’ sedih Pangeran Rui.
‘’Kenapa sampai begitu?’’ bingung Rakia.
Pangeran Rui tersenyum tipis. ‘’Aku juga tidak tahu. Kita berdua tidak usah saling bicara lagi. Aku tidak masalah, selama kau dan Kakak Ramos berhubungan baik.’’
‘’Apa yang kau katakan?! Aku mengira Ramos mengacuhkan diriku karena aku melakukan kesalahan. Aku tidak menyangka dia kekanak-kanakan seperti ini!’’ kesal Rakia.
‘’Kalau hanya itu yang bisa mendekatkan kalian lagi, aku akan melakukannya,’’ kata Pangeran Rui.
‘’Ha? Aku sendiri yang akan bicara padanya,’’ gerutu Rakia pergi.
‘’Tapi, Rakia?’’ panggil Pangeran Rui dengan raut wajah sedih, hingga akhirnya tersenyum.
......................
__ADS_1
Kamar Pangeran Keempat
Bugh!
Pangeran Ramos menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan kasar. ‘’Rakia, mengetuklah sebelum kau masuk.’’
‘’Kau tidak perlu memaafkan diriku dengan syarat menyuruh Rui menjauhiku!’’ omel Rakia.
Pria itu menatapnya dengan tanda tanya.
‘’Kupikir kau marah padaku karena aku melakukan kesalahan, tapi ternyata hanya karena aku dan Rui begitu dekat,’’ kata Rakia.
Dahi Pangeran Ramos berkerut. ‘’Apa yang katakan?’’
‘’Aku sedih karena kau mengacuhkan diriku, jadi Rui membantuku untuk berbicara denganmu. Tapi aku tidak menyangka kau sangat tega berkata seperti itu kepada adikmu sendiri,’’ kata Rakia.
Pangeran Ramos menghela nafas, dan tersenyum sambil menundukkan kepala. ‘’Jadi begitu....’’
‘’Apa?’’ tanya Rakia.
‘’Aku dan Rui....’’
Keduanya terdiam.
‘’Tidak ada apa-apa,’’ kata Pangeran Ramos memalingkan wajah.
‘’Ha? Tunggu, bukankah barusan kau i—‘’
__ADS_1
‘’Maaf,’’ kata Pangeran Ramos memotong ucapan Rakia.
Rakia terbelalak melihat raut wajah pria itu. Entah kenapa rasanya sedikit sakit melihatnya.
‘’Maaf karena mengacuhkanmu. Jadi bisakah kau keluar?’’
Rakia hanya mengangguk mengerti tanpa bertanya lagi. Tidak tahu, kenapa dirinya hanya menurut.
Ceklek!
‘’Apakah hanya perasaanku saja? Kenapa tatapannya begitu menusuk?’’
Begitu Rakia keluar, Pangeran Rui ternyata masih ada di sana.
‘’Bagaimana?’’ tanya pria itu.
‘’Dia sudah meminta maaf, dan aku menerimanya,’’ jawab Rakia.
Pangeran Rui terbelalak. ‘’Secepat itu? Kenapa kau memaafkan Kakak Ramos dengan mudah? Rakia, kau ini terlalu baik jadi o—‘’
‘’Itu,’’ kata Rakia memotong ucapan Pangeran Rui.
Rakia menatap pria di depannya. ‘’Aku bukannya tidak percaya padamu, tapi … Apakah Ramos mengacuhkan diriku memang karena kita berdua dekat, atau kau berbohong agar hubungan kami berdua semakin renggang?’’
Pangeran Rui tersentak mendengar ucapan Rakia.
‘’Kau meragukanku?’’ kekehnya dengan raut wajah kecewa.
__ADS_1
‘’Ahaha, tidak, tidak. Maksudku bukan seperti itu, um … Ya sudah, masalahku sudah selesai berkat bantuanmu. Aku seharusnya tidak berkata seperti itu tadi, jadi terima kasih,’’ kata Rakia lalu bergegas pergi.
Pangeran Rui menatap kepergian wanita itu dengan tatapan tidak suka. ‘’Kau memang meragukanku.’’