My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 85 Keraguan Terpastikan


__ADS_3

Setelah mampir ke kamar Pangeran Keempat, Rakia teringat dengan Pangeran Rui. ‘’Aku belum pernah melihat kondisinya setelah hari itu ... Mungkin sebaiknya aku mampir sebentar. Ada hal yang ingin aku pastikan juga.’’


......................


Kamar Pangeran Kelima


Ceklek!


Seperti biasa, kamar itu gelap gulita saat Rakia masuk.


‘’Kenapa kemari?’’


Langkah Rakia spontan berhenti begitu ia mendengar suara tersebut. ‘’Rui?’’


Ia menatap ke arah pria yang sedang duduk di kasur dengan kepala menunduk.


‘’Aku tidak mengerti, kenapa semua orang menganggap kematian Mezool disebabkan kecelakaan?’’ tanya Rakia.


Pangeran Rui terdiam sesaat. ‘’Kau tidak perlu khawatir. Paman sudah mengurus masalah Mezool.’’


‘’Begitu? Oh iya, bagaimana lukamu? Apakah sudah sembuh?’’ tanya Rakia.


Pria itu tersenyum remeh. ‘’Kau masih peduli?’’


‘’Kenapa kau berkata seperti itu?’’ tanya Rakia merasa tidak nyaman.

__ADS_1


‘’Aku selalu menunggumu tapi kau tidak pernah datang,’’ jawab Pangeran Rui.


‘’Haruka bilang tidak ada orang yang boleh mengunjungimu se—‘’


‘’Aku memang berkata seperti itu, tapi kau seharusnya mengerti kalau dirimu tidak termasuk!’’ kesal Pangeran Rui memotong ucapan Rakia.


Ia kembali mengingat kejadian di kamar kakaknya barusan.


‘’Kenapa?’’ tanya Pangeran Rui berdiri dengan kepala menunduk menghampiri Rakia.


Rakia dibuat bingung.


‘’Bahkan sampai saat ini kau masih belum menyadari keberadaanku. Kau yang bersikap peduli kepadaku sehingga membuat diriku berharap banyak. Kupikir kau sudah membalas perasaanku dengan memperlakukan diriku seperti itu ... Tapi kenapa harus dia?!’’


‘’Kau datang kepadaku untuk menangis saat merasa sedih, lalu datang kepada Kakak Ramos saat kau merasa senang.’’


Pangeran Rui terdiam sejenak menatap wajah Rakia lekat. ‘’Heh, kau yang bersikap seperti ini membuat 2 pria sekaligus berada di genggaman tanganmu, bukankah sangat serakah?’’


Deg!


Rakia merasa sesuatu menusuk dadanya setelah mendengar ucapan Pangeran Rui. Perlahan matanya memerah.


‘’Selamat! Karena besok, kau akhirnya sudah pulang. Aku jadi sedih karena tidak ada yang merawat Kakak Ramos yang manja itu lagi,’’ kata Pangeran Rui.


Rakia menatap pria itu tidak percaya.

__ADS_1


‘’Aku tahu selama ini kau selalu pergi ke kamarnya kalau ada waktu luang saat melayani para saudaraku. Sepertinya kalian berdua cukup bersenang-senang tanpa ada orang lain yang tahu di kamar itu. Kalau kau mau, aku juga akan melakukannya sebelum kau pulang. Anggap saja ini adalah bonus dariku meskipun aku tidak sebaik Kakak Ramos di atas ran—‘’


Plak!


Wajah Pangeran Rui menghadap ke satu sisi. Setelah menerima tamparan, pria itu menolehkan kepalanya dan tertegun melihat Rakia ternyata sedang menangis.


‘’Kau pikir aku semurahan itu?!’’ marah Rakia.


Pangeran Rui terbelalak, sambil Rakia tersenyum remeh.


‘’Terima kasih karena aku sudah mendapatkan jawaban dari keraguanku. Kurasa keputusanku sudah benar dengan tetap memilih Ramos.’’


Rakia berbalik untuk pergi. ‘’Gokigenyou(Sampai jumpa lagi).’’


Pangeran Rui menjatuhkan dirinya sambil menutup sebelah matanya. ‘’Apa yang kulakukan? Kenapa aku bersikap seperti ini? Aku … Aki membuatnya menangis dengan tutur kataku yang kasar. Ada apa dengan diriku?’’


Hanya butiran air mata yang mengalir dari sudut matanya.


‘’Rakia, aku tidak bermaksud berkata seperti itu kepadamu. Kenapa kau memaksaku bersikap seperti ini?’’


......................


Koridor Istana


Haruka mengerutkan dahi melihat Rakia menangis setelah keluar dari kamar Pangeran Kelima. ‘’Wanita itu, aku sudah memberitahunya untuk tidak mengunjungi Pangeran Kelima sebelum kondisinya sembuh total. Tapi sepertinya dia dimarahi karena tetap datang. Humph! Itu pantas untuknya.’’

__ADS_1


__ADS_2