My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 116 Terkurung


__ADS_3

Pavilion gaya Eropa klasik


‘’Sudah satu minggu Rakia dikurung di kamar. Padahal dia baru saja pulang dari masa hukumannya, dan dia sekarang menjalani hukuman lagi. Aku jadi merindukannya,’’ kata Putri Yuriki.


‘’Ayahanda benar-benar memberinya hukuman kurungan di kamar, ya?’’ pikir Putri Ukii.


‘’Aku mau mengunjungi Kakak Rakia. Tapi Ayahanda tidak memperbolehkan siapa pun menemuinya,’’ kata Putri Nikki.


‘’Jangankan menemuinya. Mendekati kamar Kakak Rakia saja sudah dianggap melanggar perintah. Haa, aku jadi kasihan dengan Kakak Rakia,’’ kata Pangeran Yuga.


‘’Aku juga khawatir. Kira-kira bagaimana keadaannya sekarang?’’ sedih Pangeran Kairi.


Kelima orang itu memasang raut wajah sedih.


......................


Kamar Putri Ketiga


Putri Rakia terbaring di kasur mewahnya sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan datar.


‘’Ayahanda benar-benar tidak main memberiku hukuman. Kupikir Ayahanda akan luluh dalam beberapa hari ini tapi ternyata aku salah,’’ ucapnya dengan raut wajah bodoh.


Flashback on


Ceklek!


"Eh?"


Ceklek!

__ADS_1


"Kenapa pintunya terkunci?"


Ia berusaha menggeser pintu kamarnya.


"Jangan bilang...."


Tok! Tok! Tok!


"Apakah ada orang di luar?!"


Tok! tok! tok! tok! tok!


Pengawal Maru yang mendengar ketukan pintu, hanya menghela nafas. ‘’Tuan Putri?’’


"Pengawal Maru?! Kenapa pintu kamarku terkunci?" tanya Putri Rakia dari dalam.


Pria itu hanya tersenyum di depan pintu kamar. ‘’Bukankah Tuan Putri sedang menjalankan hukuman dari Yang Mulia?’’


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Bukankah harus ada izin dari Ayahanda untuk mendekati kamarku?" tanya Putri Rakia.


"Karena Tuan Putri tidak berhenti menimbulkan keributan, salah satu prajurit datang melapor dan Yang Mulia mengutus saya kemari."


Flashback off


‘’Argh! Dasar pria yang tidak berperasaan!’’ gerutu Putri Rakia berteriak.


......................


Ruang Pribadi Kaisar

__ADS_1


‘’Hatchi!’’


‘’Yang Mulia baik-baik saja?’’ tanya Pengawal Maru.


Kaisar Helios hanya menghela nafas. ‘’Ya, aku baik-baik saja. Ini pasti karena ada singa betina yang sedang mengaum kepadaku.’’


‘’Eh?’’ bingung Pengawal Maru.


......................


Kamar Putri Ketiga


Putri Rakia masih memasang raut wajah bodohnya. Ia menghela nafas panjang. ‘’Tapi tidak apa-apa. Untung aku sudah mempersiapkan semuanya.’’


Wanita itu mengeluarkan perlengkapan alat sadap ruangan di bawah kolong kasurnya. Terukir senyuman puas di bibirnya. ‘’Hihi ... Saat Ayahanda memanggilku untuk menghadap, aku sudah memasang alat ini di ruangannya. Jadi, meskipun aku dikurung, aku akan tahu kondisi di luar sana.’’


‘’Tapi untuk jaga-jaga, sebaiknya aku cek di waktu tertentu, karena akan bahaya kalau pintu kamarku tiba-tiba terbuka sementara aku menyalakan alat ini. Bisa gawat kalau aku sampai ketahuan,’’ kata Putri Rakia.


......................


Ruang Pribadi Kaisar


‘’Apakah Putri Rakia baik-baik saja?’’ tanya Kaisar Helios.


Pengawal Maru mengangguk dan melaporkan kondisi salah satu putri tersebut bahwa tidak ada tanda-tanda yang aneh.


‘’Begitu? Aku hanya heran karena dia berdiam diri dengan tenang saat dirinya dikurung di kamar. Padahal kau tahu sendiri kalau sejak kecil Putri Rakia tidak suka dikurung.’’


‘’Mungkin karena Tuan Putri sudah tumbuh dewasa. Jadi dia sudah bisa mengontrol pikirannya Yang Mulia.’’

__ADS_1


Dewasa? Gadis angkuh itu masih kekanak-kanakan. Kata dewasa masih jauh dari dirinya. Meskipun aku tidak tahu apakah ada pengaruh untuk sikapnya setelah menjalankan hukuman di Kerajaan Rivazreich, kata Kaisar dalam hati.


__ADS_2