
Pintu kamar tertutup. Kedua orang itu terdiam sampai akhirnya Kaisar Helios menghampiri putrinya. Tanpa disuruh, Putri Rakia mempersilahkan Kaisar untuk duduk, sebelum ikut duduk.
Kaisar Helios terdiam begitu juga Putri Rakia.
Apakah dia hanya diam saja tanpa mengajakku bicara? Haa, kata Kaisar Helios dalam hati.
Ayahanda ingin mengajakku bicara atau mengajakku lomba tatapan seperti ini? Haa, kata Putri Rakia dalam hati.
‘’Hem! Sepertinya kau tampak baik-baik saja,’’ kata Kaisar Helios akhirnya.
He~ memangnya Ayahanda mengharapkan aku sakit? Pria dewasa ini apakah benar adalah ayahku? Dasar, kata Putri Rakia dalam hati sambil memasang raut wajah bodohnya.
‘’Saya sehat seperti biasa, hanya saja sedikit merasa bosan,’’ jawab Putri Rakia.
‘’Bukankah kau sendiri yang meminta hukuman apa pun?’’ tanya Kaisar Helios.
I-Itu memang benar. Aku hanya tidak percaya kalau Ayahanda akan benar-benar mengurungku. Apakah aku sungguh putri kesayanganmu? Aku jadi meragukan hal itu, kata Putri Rakia dalam hati.
‘’Jadi apa yang sampai membawa Ayahanda kemari?’’ tanya Putri Rakia.
Kaisar Helios sekali lagi terdiam untuk sesaat. ‘’Ini mengenai pernikahanmu.’’
‘’Ke-Kenapa dengan pernikahanku? Ayahanda tidak berniat membatalkannya, kan?’’ tanya Putri Rakia merasa tidak enak.
Sebelah alis Kaisar terangkat. ‘’Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?’’
__ADS_1
‘’Terlihat jelas di raut wajah Ayahanda,’’ jawab Putri Rakia.
‘’Bagaimana kalau itu benar?’’ tanya Kaisar Helios dengan tatapan dingin.
Deg!
Bugh!
Putri Rakia spontan memukul meja sambil berdiri. ‘’Ayahanda sudah berjanji kepadaku!’’
‘’Haa ... Duduklah dulu, karena itulah aku datang kemari,’’ kata Kaisar.
Wanita tadi kembali duduk meskipun dirinya tidak tenang.
‘’Masalahnya kedua kakakmu masih status bertunangan, dan kau yang sebagai Putri Ketiga bagaimana bisa kau mendahului mereka?’’ tanya Kaisar.
‘’Kalau begitu cepat adakan pernikahan Kakak Ukii dan Kakak Yuriki!’’ desak Putri Rakia.
Kaisar Helios menghela nafas panjang. ‘’Rakia, mengadakan pernikahan begitu saja tidaklah mudah seperti yang kau pikirkan. Apalagi ini pernikahan antara 2 Kerajaan, tentu saja kita tidak ingin mengambil resiko dan harus berhati-hati.’’
‘’Tapi Ayahanda tahu sendiri bagaimana kondisi Pangeran Keempat. Kalau nyawanya akan benar-benar melayang akhir bulan ini dan pernikahanku dengannya belum terjadi … Maka saat itu juga Ayahanda akan kehilangan putrimu ini.’’
Deg!
Kaisar Helios tersentak. Ia mulai menatap Putri Rakia dengan serius. ‘’Rakia, kau berani menggertak Kaisar Kerajaan Helios, apakah kau tahu konsekuensinya apa?’’
__ADS_1
‘’Tapi saya tidak bermain-main,’’ kata Putri Rakia tidak kalah dingin.
‘’Putri Ketiga, jangan memancingku. Aku sedang tidak berniat berdebat dengan Anda,’’ kata Kaisar dengan aura mengintimidasi.
‘’Saya tidak akan mengulang perkataanku tadi,’’ jawab Putri Rakia.
Bugh!
‘’Berhenti bersikap egois! Kalau Pangeran Keempat tidak bertahan sampai akhir bulan ini, maka itu sudah kehendak Tuhan! Kau tidak bi—‘’
‘’Ramos tidak akan mati!’’ seru Putri Rakia memotong ucapan ayahnya.
‘’Kau?’’ tatap Kaisar Helios habis pikir.
Kaisar menghela nafas lalu berdiri dan beranjak pergi.
‘’Ayahanda?’’ panggil Putri Rakia ikut berdiri.
Kaisar tetap diam tanpa merubah posisinya hingga pintu kamar itu terbuka.
‘’Ayahanda!’’ seru Putri Rakia.
‘’Tutup pintunya kembali!’’ perintah Kaisar yang berlalu pergi tanpa peduli panggilan putrinya.
Putri Rakia menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangan. ‘’Tidak ... Tidak akan kubiarkan.’’
__ADS_1