
"Rakia!" seru Kaisar Helios datang.
"Ayahanda," tatap Pangeran Kairi.
Kaisar Helios segera menghampiri putrinya. "Rakia, Anda sudah sadar? Bagaimana keadaan Anda? Apakah Anda merasa baikan?"
"A-ya-handa," kata Putri Rakia begitu lemah.
"Hiks ... Hiks ... Rakia, maafkan aku. Seharusnya aku menepati janjiku untuk mengabulkan permintaan Anda," isak Kaisar.
Kaisar Helios menggenggam tangan Putri Rakia. "Pernikahan kedua saudari Anda sudah dilaksanakan. Jadi cepatlah sembuh agar pernikahan Anda dan Pangeran Keempat segera dilaksanakan."
Putri Rakia mengangguk lemah. Pandangannya teralihkan ke pintu. "Ibunda."
Semua menoleh ke arah pintu, melihat Permaisuri Helios menangis.
"Permaisuri," tatap Kaisar.
Permaisuri Helios berjalan cepat dan langsung mendekap Putri Rakia. "Hiks ... Hiks ... Kenapa Anda melakukan hal ceroboh seperti itu?! Anda ingin menyiksa kami?! Mendengar kabar Anda telah siuman, aku baru merasa hidup kembali. Semenjak Anda nekat bunuh diri, aku sama sekali tidak bisa tidur atau makan."
"Ini kesalahanku. Setelah Anda sembuh, aku akan langsung mengadakan pernikahan kalian. Pangeran Pertama, segera hubungi Raja Rivazreich mengenai Putri Ketiga yang sudah siuman!" perintah Kaisar.
"Saya mengerti, Ayahanda. Saya akan memberitahu Putri Ukii dan Putri Yuriki juga," kata Pangeran Kairi.
Semua terdiam setelah kepergian Pangeran Kait
"Ayahanda, Ibunda ... Kondisi Anda berdua terlihat sangat buruk. Apakah ini karena diriku?" tanya Putri Rakia merasa bersalah.
Namun, melihat kedua orangtuanya hanya diam, membuat Putri Rakia memicingkan mata. "Kalian berdua bertengkar?"
Kedua pasangan itu terdiam sampai akhirnya tersenyum.
"Tidak sayang. Kami berdua baik-baik saja," jawab Permaisuri.
"Benar. Tidak ada yang salah dengan kami berdua," jawab Kaisar.
Putri Rakia memalingkan wajah.
"Haa ... Baiklah. Kami memang sedikit bertengkar," kata Kaisar.
"Itu karena Yang Mulia membatalkan pernikahan Anda sehingga Anda bunuh diri. Jadi aku memerintahkan semua orang untuk tidak menemuiku sampai Anda sadar, bahkan itu Yang Mulia sendiri," kata Permaisuri.
"Ibunda kenapa seperti itu? Kalian berdua kenapa saling menyakiti? Saya sudah siuman, jadi ayo baikan. Lihatlah kondisi Anda berdua," kata Putri Rakia.
Kaisar dan Permaisuri saling bertatapan. Kondisi mereka benar-benar buruk. Selain itu, terlihat jelas ada kerinduan di mata mereka.
"Yang mulia," kata Ratu memeluk suaminya.
"Maafkan aku," kata Kaisar membalas pelukan.
......................
__ADS_1
Ruang Pertemuan
Semua berkumpul setelah sekian lama, kecuali Pangeran Ramos yang masih dirawat dalam kamar.
"Yang Mulia, hamba menerima pesan dari Kerajaan Helios," kata Pengawal Mori.
"Katakan!" perintah Raja Rivazreich.
"Putri Ketiga telah siuman," kata Pengawal Mori.
Deg!
"Benarkah?!" pekik semuanya.
Pengawal Mori mengangguk membenarkan. Kesepuluh Pangeran merasa senang.
"Syukurlah," lega Ratu.
"Ayo beritahu Pangeran Keempat mengenai kabar ini," kata Pangeran Kurotsukki.
......................
Kamar Pangeran Keempat
"Ramos, wajahmu semakin pucat saja. Apakah kau tidak meminum obat yang diberikan Dokter Wo?" tanya Pangeran Shinsuke sedih.
"Aku meminumnya Paman," jawab Pangeran Ramos sangat lemah.
"Bersabarlah. Aku juga menunggu hasil penawar obatmu yang dibuat para ilmuwan di Eropa."
Ceklek!
"Bagaimana kondisi Anda, Pangeran Keempat?" tanya Raja Rivazreich.
"Saya merasa lebih baik Ayahanda," jawab Pangeran Ramos.
Namun, yang dikatakan pria itu berbanding terbalik dengan kenyataannya. Raja dan semua orang hanya menatap iba, melihat kulit Pangeran Ramos semakin pucat dan kondisinya semakin lemah.
"Kami membawa kabar baik untuk Anda," kata Ratu.
"Kabar baik?" tanya Pangeran Shinsuke.
"Putri Ketiga telah siuman," jawab Ratu.
Deg!
"Sungguh? Haa ... Ayukurlah," lega Pangeran Shinsuke.
Rakia, kata Pangeran Ramos dalam hati.
"Kita semua akan pergi melihat Putri Ketiga. Tapi maaf karena Anda tidak bisa ikut," kata Raja.
__ADS_1
Pangeran Ramos mengangguk mengerti. Semua beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Ia terdiam dengan butiran air terjatuh dari sudut matanya.
......................
"Titipkan saja salamku dan Putri Kagura," kata Pangeran Shinsuke.
"Tentu. Kami pergi dulu," kata Raja.
"Hati-hati," kata Pangeran Shinsuke bersama Putri Kagura di sampingnya.
"Pangeran Pertama dan Pangeran Kesembilan sudah mengetahuinya. Jadi kita akan bertemu di sana," kata Raja.
......................
Bandara
Raja dan yang lainnya hendak menaiki pesawat jet pribadi.
"Tunggu!"
Semua tersentak saat melihat pemilik suara.
"Pangeran Keempat? Kenapa Anda kemari?!" seru Raja.
"Kumohon. Aku ingin ikut bersama dengan kalian," kata Pangeran Ramos.
Ratu menatap suaminya. "Yang Mulia, biarkan dia ikut."
......................
9 jam kemudian...
4 mobil tiba bersamaan.
"Yang Mulia," kata Pangeran Ereri dan Putri Yuriki membungkuk.
"Yang Mulia," kata Pangeran Ren dan Putri Ukii juga ikut membungkuk.
Mereka disambut dengan hormat dan langsung menuju ke kamar Putri Ketiga.
Ceklek!
Kedua keluarga saling memberi hormat satu sama lain. Tatapan mata Putri Rakia dan Pangeran Ramos langsung bertemu.
"Putri Ketiga, bagaimana kabar Anda?" tanya Raja Rivazreich.
"Terima kasih telah menanyakan kabar saya, Yang Mulia. Saya merasa lebih baik," jawab Putri Rakia.
Deg!
"Eh?"
__ADS_1
Putri Rakia terbelalak, membuat semua orang mengikuti arah pandangannya.
"Pa-Pangeran Keempat menangis," tatap Pangeran Kairi.