
Kamar Pangeran Keempat
Putri Rakia menghela nafas sambil bersandar di sofa. ‘’Kenapa kau sampai berpikir aku akan menikah dengan Rui?’’
‘’Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua di koridor tadi,’’ jawab Pangeran Ramos.
‘’Kau tidak mendengar ucapanku sampai selesai?’’
Pangeran Ramos mengerutkan dahi. ‘’Aku langsung pergi saat Rui memelukmu karena merasa senang kau mengajukan pernikahan.’’
‘’Hm, aku memang mengatakan hal itu. Tapi aku membantah ucapan Rui yang mengira kami berdua yang akan menikah,’’ kata Putri Rakia dengan raut wajah bodohnya.
‘’Mana aku tahu. Kau seharusnya mengerti bagaimana perasaanku. Jadi aku lebih memilih pergi,’’ kata Pangeran Ramos membuang muka.
‘’Haa, tapi sekarang sudah jelas, kan? Selain itu perkataanmu di taman tadi membuatku sangat kesal!’’ gerutu Putri Rakia.
Pangeran Ramos hanya terkikik pelan. ‘’Puff!’’
‘’Apanya yang lucu?!’’ kesal Putri Rakia.
‘’Aku hanya tidak menyangka kau dengan berani mengungkapkan perasaanmu di depan kami berdua, berbeda saat aku menyatakan perasaanku waktu itu dengan kau yang terlihat ragu,’’ kata Pangeran Ramos.
‘’Jadi kau meragukanku?’’ tanya Putri Rakia berdiri lalu menghampiri pria yang duduk di ujung kasur tadi.
Pangeran Ramos menatap wajah wanita tadi yang terlihat marah. ‘’Tidak ju—‘’
Bugh!
Ia terbelalak saat Putri Rakia mendorong dan menindihnya di atas kasur. ‘’Ra-Rakia, apa yang kau lakukan?’’
__ADS_1
‘’Kau meragukan diriku. Apa kau ingin aku membuktikannya?’’ tanya Putri Rakia memainkan strap golden milik Pangeran Ramos.
Pangeran Ramos tidak bisa berpikir jernih melihat raut milf wanita ini, apalagi Putri Rakia memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Keduanya memejamkan mata.
Ceklek!
Deg!
2 sosok yang membuka pintu itu tertegun begitu juga dengan Putri Rakia dan Pangeran Ramos yang ada di kasur.
‘’Ahaha! Maaf, kami masuk di waktu yang tidak tepat,’’ kekeh Pangeran Aron kaku.
‘’Hem! Silahkan lanjutkan bisnis Kakak Ramos dan Putri Ketiga. Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Pangeran Zelho menunduk.
Ceklek!
‘’Kalian salah paham!’’ teriak Putri Rakia merasa malu.
‘’Ramos, cepat beritahu adik-adikmu itu kalau ini bukan seperti yang mereka pikirkan! Mereka hanya salah paham’’ desak Putri Rakia.
‘’Apanya yang salah paham? Kau sendiri yang berinisiatif datang kepadaku. Jadi terima akibatnya,’’ senyum Pangeran Ramos menyeringai.
Putri Rakia mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Ramos!’’
......................
Koridor Istana
Kedua pria tadi hanya memasang raut wajah polos mereka mengingat kejadian di kamar Pangeran Keempat.
__ADS_1
‘’Stt, apakah wanita memang lebih bergairah dibandingkan pria?’’ tanya Pangeran Kesebelas.
‘’Apa maksud Anda?’’ tanya Pangeran Ketujuh.
‘’Kau melihatnya sendiri di kamar Kakak Ramos tadi. Seharusnya mereka berdua bertukar posisi, kenapa Rakia malah lebih terlihat yang akan menyerang Kakak Ramos? Apakah status pria sudah digulingkan? Coba bayangkan, jika saja kita tidak masuk tadi, mungkin sejarah baru sudah terukir,’’ kata Pangeran Zelho dengan wajah polosnya.
Pangeran Aron memasang raut wajah bodoh. ‘’Kita juga akan melakukannya kalau sudah menikah. Lalu, status pria yang sudah digulingkan itu apa? Kenapa Anda begitu berlebihan?’’
‘’Tapi aku tidak pernah melihat wanita yang menyerang pria terlebih dahulu,’’ kata Pangeran Zelho.
Dia begitu cerewet hari ini, kata Pangeran Aron dalam hati.
......................
Kamar Pangeran Kelima
"Kenapa?! Jelas-jelas kau tahu kalau aku juga menyukaimu! Perlakuanmu selama ini bagaimana aku mengartikannya? Apa kau mempermainkan perasaanku Rakia?!"
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, percayalah aku tidak ada niat mempermainkan perasaanmu."
"Waktu itu aku juga menyelamatkanmu Rakia!"
"Tapi yang menerobos ke dalam api dan mempertaruhkan nyawanya adalah Ramos!"
"Jadi kau pikir aku tidak mempertaruhkan hidupku juga untuk menolongmu?"
"Kalau tahu sejauh ini akan berakhir seperti ini ... Seharusnya waktu itu aku membiarkan balok itu mengenaimu saja." (Pangeran Rui teringat)
Ia hanya mengepalkan tangan membiarkan air shower itu membasahi tubuhnya yang masih memakai pakaian lengkap.
__ADS_1