
‘’Selain batuk yang disertai darah, apakah Pangeran biasa merasa sesak?’’
Pangeran Ramos mengangguk membenarkan.
‘’Anda mengidap bronchitis, dimana peredangan yang terjadi pada saluran utama pernafasan atau bronkus. Hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri saat Pangeran terbatuk, sampai mengeluarkan darah. 89% orang yang mengidap penyakit ini biasanya berujung kematian.’’
Mata Rakia membulat besar, berbeda dengan Pangeran Ramos yang terlihat biasa saja.
‘’Saya tidak tahu kalau Pangeran mengidap penyakit seperti ini.’’
‘’Kerajaan memutuskan untuk menyembunyikannya, jadi aku melakukan pemeriksaan secara pribadi sesuai arahan pamanku. Tapi aku berhenti tahun lalu, karena pamanku bilang aku tidak akan bertahan sampai setengah tahun ini.’’
Dr.Wo memicingkan mata. ‘’Kalau Pangeran berhenti, kenapa melakukan pemeriksaan kembali?’’
‘’Kamiya-kun, kenapa kau berkata seperti itu?’’ tanya Rakia tidak percaya.
Pangeran Ramos tersenyum. ‘’Mungkin karena keras kepala wanita di sampingku ini.’’
‘’Hei, aku tidak keras kepala!’’ kesal Rakia.
Dr.Wo yang melihatnya merasa tidak suka. ‘’Saya mengerti, maaf atas kelancangan saya barusan.’’
Dokter itu mengantar kedua orang tadi hingga ke teras rumah. Saat mobil melaju keluar, senyumannya menghilang sambil dirinya meraih ponsel di saku untuk menghubungi seseorang.
......................
Beberapa hari kemudian…
Rakia menghela nafas lega. ‘’Akhirnya aku bebas juga dari Pangeran yang merepotkan itu.’’
......................
Kamar Pangeran Kedua
‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, muncul sosok pria yang hanya mengenakan handuk membuat tubuh atasnya terekspos. Keduanya saling bertatapan hingga akhirnya tersadar.
‘’Kyaa!’’ pekik kedua orang itu.
‘’Si-Siapa yang memberimu izin masuk ke dalam kamarku?!’’
‘’Ahh! Sebaiknya tutupi dulu tubuhmu!’’
Pria itu tersadar. ‘’Jangan-jangan kau pelayan pribadi yang akan melayaniku?’’
Rakia membenarkan sambil menatap pria berambut merah dengan tato di bagian kiri lehernya.
Apakah dia sungguh seorang Pangeran? Penampilannya yang begini, lebih terlihat seperti berandalan, kata Rakia dalam hati.
‘’Kenapa melihatku seperti itu?!’’ seru Pangeran merasa malu.
‘’Sebaiknya sesuatu dulu!’’ seru Rakia.
Beberapa menit kemudian…
Heh, itu salahmu sendiri. Lagi pula kenapa hanya memakai handuk? Padahal, saudaramu yang lain mengenakan jubah handuk mandi, omel Rakia dalam hati.
Pria berambut merah menatap Rakia sekilas. ‘’Dai Nii Ouji(Pangeran Kedua), Kurotsukki von Rivazreich.’’
‘’Saya Rakia.’’
‘’Kau tidak perlu datang setiap hari karena tidak ada yang akan kau kerjakan.’’
Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu susah payah menurunkan harga diriku, kata Rakia dalam hati.
‘’Aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakak tertua, karena harus menemaninya mengahadiri pertemuan tertentu.’’
Kakak tertua? Hmm, kata Rakia dalam hati.
Tidak peduli bagaimana kau mengetahui identitasku, tapi aku ingin kau merahasiakannya sampai tugasku selesai.
__ADS_1
Apakah ini sebuah permintaan?
Anggap ini sebagai perintah dariku. (Rakia teringat)
Wajah Rakia langsung kusut mengingat hal itu.
Pangeran Kurotsukki heran melihat raut wajah wanita di depannya. ‘’Ada apa? Kau terlihat tidak suka jika aku menyinggung kakak tertua.’’
‘’Ahaha, itu tidak benar,’’ kata Rakia menyangkal.
‘’Kalau begitu untuk hari ini, kau bersihkan saja kamarku. Setelah selesai, kau boleh pergi,’’ kata Pangeran Kurotsukki berdiri.
‘’Anda mau ke mana?’’ tanya Rakia.
Pria itu mengerutkan dahi sambil berbalik menatap Rakia. ‘’Sejak kapan kau ingin tahu semua aktivitasku? Aku mau pergi kemana itu urusanku. Lakukan tugasmu layaknya seorang pelayan, bukan mencampuri urusan Pangeran.’’
Rakia berdecih melihat kepergian pria tersebut. ‘’Dasar, semua mulut Pangeran di sini tidak ada yang benar.’’
......................
Kamar Pangeran Pertama
Pangeran Ereri menatap ke arah pintu menyadari seseorang datang.
‘’Kau tidak lupa dengan jadwal malam ini, kan?’’ tanyanya sambil menatap berkas.
‘’Malam ini akan bertemu dengan Dewan Direksi. Oh iya, pelayan pribadi yang diutus Ayahanda sudah melayaniku hari ini.’’
‘’Begitu?’’ kata Pangeran Ereri.
‘’Apakah hanya perasaanku saja? Rakia tampaknya tidak terlalu menyukai kakak tertua. Raut wajahnya langsung berubah saat aku membahas Anda.’’
Pangeran Ereri hanya tersenyum menanggapi ucapan salah satu adiknya itu.
...Visual Pangeran Kedua, Kurotsukki von Rivazreich...
__ADS_1