
Masing-masing pangeran menerima e-mail dari ponsel mereka. Tidak lama kemudian, mereka keluar dari kamar dan bergegas pergi.
......................
Master Bedroom Suite Pangeran Pertama
Bugh!
“Ada hal penting apa sampai kita harus rapat Pangeran Pertama?!” seru Pangeran Akakuro.
Pangeran Ereri dan Putri Yuriki yang sedang minum, hampir menyemburkan teh karena terkaget.
“Apa maksudnya rapat penting?” tanya Pangeran Ereri.
“Bukankah Anda mengirimkan kami pesan kalau keadaan istana sedang darurat? Kami semua menerimanya,” kata Pangeran Kurotsukki memperlihatkan layar ponselnya diikuti yang lain.
“Apakah semuanya baik-baik saja?” cemas Putri Yuriki.
Pangeran Ereri mengerutkan dahi. “Tapi aku tidak pernah mengirimkan kalian e-mail sepagi ini.”
“Kalau begitu siapa yang mengirimnya?” tanya Pangeran Anon.
“Aku!”
Semua menoleh melihat kedatangan pria itu. “Pangeran Ketujuh?”
“Aron, apa maksudmu keadaan sedang gawat? Apakah istana dalam bahaya?” tanya Pangeran Anon.
“Kalau begitu kita harus segera pulang, dan membantu Ayahanda,” kata Pangeran Goyu.
“Segera kerahkan prajurit untuk bersiap berperang!” tegas Pangeran Zelho.
Pangeran Akakuro mendorong kacamata miliknya agar sedikit ke atas. “Jangan khawatir. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menyusun strateginya.”
“Sebagai calon Raja selanjutnya, ini sudah tugasku untuk menyiapkan mental di keadaan darurat seperti ini,” kata Pangeran Ereri.
“Aku akan memberitahu Ayahanda untuk mengirimkan bala bantuan,” kata Putri Yuriki.
“Ha? Kalian ini bicara apa?” bingung Pangeran Aron.
Semuanya menatap Pangeran Aron dengan wajah bingung.
“Anda bilang keadaan istana sedang darurat, kan?” tanya Pangeran Bamie.
“Iya. Keadaan istana memang sedang darurat, tapi kita bukan akan berperang,” jawab Pangeran Aron.
Mereka semakin bingung karena tidak mengerti maksud Pangeran Ketujuh, membuat mereka meminta penjelasan.
“Yang aku maksud adalah, Kakak Ramos dan Putri Rakia belum melakukan hal itu. Kalau seperti ini, kerajaan tidak akan memiliki masa depan.”
Semua orang di sana memasang raut wajah bodoh sambil menatap Pangeran Ketujuh.
Pangeran Ereri mengeryitkan alis sambil tersenyum. “Anak dari ketiga Pangeran yang sudah menikah saja belum lahir, dan Anda sudah ingin memberi hak calon Raja kepada anak Pangeran Keempat dan Putri Ketiga? Aku ini calon Raja berikutnya, otomatis yang akan menjadi penerusku tentu saja adalah anakku sendiri. Pangeran Ketujuh apakah Anda ingin menjalani pengasingan?”
Melihat aura mengintimidasi dari Pangeran Pertama membuat semuanya menunduk.
__ADS_1
“Ahaha, aku sama sekali tidak masalah dengan tahta, jadi kalau anakku lahir, mohon Kakak Ereri tidak mengasingkan kami,” kata Pangeran Ren.
Imajinasi Pangeran Aron langsung berjalan, mengingat ia akan diasingkan bersama istri dan anaknya dari istana, sehingga menjalani hidup yang susah sampai dirinya meninggal karena kemiskinan, membuat Pangeran Ketujuh bergidik.
“Puff, dasar. Aku akan melakukan hal itu jika saja aku tokoh antagonis. Haa, lain kali jangan menggunakan namaku untuk masalah kecil seperti ini!” perintah Pangeran Ereri.
Setelah mereka rapat di kamar Pangeran Pertama, akhirnya rencana dijalankan.
......................
Pangeran Ramos dan Putri Rakia menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama.
“Maaf karena kami telat,” kata Pangeran Ramos.
“Tidak apa-apa. Silahkan makan,” sambut Pangeran Kurotsukki.
Kenapa aku merasa mereka saling mengkode pandangan, ya? Mmm, kata Putri Rakia dalam hati.
Pangeran Ramos hendak meraih gelas berisi susu di sampingnya, sampai Pangeran Aron mencegahnya dan menjelaskan kalau susu itu milik Putri Rakia. Namun, Putri Rakia tidak mempermasalahkan hal itu.
“Ahaha susu ini sudah dingin, buatkan susu baru yang hangat untuk Pangeran Keempat dan Putri Ketiga!” perintah Pangeran Rui.
Kedua pasangan itu hanya bingung. Setelah sarapan, mereka bersenang-senang untuk menjalankan rencana, tapi semuanya gagal.
......................
Malam pun tiba, kesebelas pria itu mengeluh.
“Apakah Rakia sedang dilindungi Dewi Keberuntungan? Kita selalu melakukan hal yang konyol untuk menutupi kegagalan kita!” kesal Pangeran Aron.
“Kurasa Dewi Keberuntungan sedang lembur. Kenapa dia melindungi wanita angkuh seperti Rakia sepanjang hari?” bingung Pangeran Zelho.
“Aku tidak sengaja melihat mereka berdua masih di cafe bar dekat kolam,” jawab Pangeran Ren.
“Apa?!” pekik Pangeran Aron.
......................
Cafe Bar
“Aku jadi lelah karena rencana Aron,” kata Pangeran Akakuro.
Ia tidak sengaja melihat 2 koktail di atas nampang membuatnya meraih salah satu gelas.
Pangeran Anon yang melihatnya membulatkan mata. “Tunggu!”
Namun usahanya gagal, Pangeran Akakuro sudah meneguk semuanya.
Pangeran Anon hendak pergi namun tangannya ditarik.
“Kakak Akakuro aku masih normal! Jangan menodai adikmu ini!” pekik Pangeran Anon.
Pangeran Akakuro mendorong Pangeran Anon ke tembok lalu memajukan wajahnya.
......................
__ADS_1
Koridor Kapal
“Kenapa mereka semua tiba-tiba menghilang?” bingung Pangeran Ramos.
“Ramos, tingkah semua saudaramu sangat aneh hari ini, sepertinya mereka memang merencanakan sesuatu,” kata Putri Rakia.
Saat itu juga, mereka melihat kesebelas pria yang dicari berlari bersama dua wanita lainnya.
......................
Cafe Bar
“Kakak Akakuro sadarlah! Jangan merusak masa depan kita berdua!” teriak Pangeran Anon mendorong wajah Pangeran Ketiga.
Akhirnya semua datang dan segera melerai kedua pria itu.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini," kata Pangeran Zelho menyiram wajah Pangeran Ketiga.
“Sepertinya pengaruh obatnya sangat kuat! Tidak ada cara lain,” kata Pangeran Ereri.
Ia memerintahkan Pangeran Kedelapan, Kesepuluh dan Keduabelas untuk menarik Pangeran Ketiga agar menceburkannya ke kolam.
Byur!
Keempat pria itu pun cebur ke kolam dan Pangeran Ketiga sedikit tersadar.
“Kalian ini sedang apa?” tanya Pangeran Ramos yang sudah duduk di kursi meja bar.
“Ramos, Rakia, sejak kapan kalian di sini?” tanya Pangeran Kurotsukki.
“Yang dikatakan Rakia benar, kalian semua aneh hari ini.”
“Akakuro dan Anon berdebat jadi kami melerai mereka,” kata Pangeran Ereri.
“Apakah harus sampai menceburkan Pangeran Ketiga ke kolam dan tiga Pangeran itu ikut?” tanya Putri Rakia.
“Tidak ada cara lain,” kata Pangeran Rui.
“Sejak tadi pagi aku tidak sempat menikmati koktail karena ada terus masalah,” kata Pangeran Ramos.
Mereka hendak menghentikan, tapi gagal lagi. Pangeran Ramos sudah meneguk cocktail itu.
“Cepat seret mereka!” teriak Pangeran Aron.
Ia berserta Pangeran Kesembilan dan Kesebelas menyeret Pangeran Ramos, sedangkan Pangeran Kedua, Kelima dan Keenam menyeret Putri Rakia.
Ceklek! Klek!
“Tunggu! Apa yang kalian lakukan?!” seru Putri Rakia.
“Ramos! Apa maksudnya i—” ucapannya terpotong saat melihat pria itu mengeluarkan nafas berat sambil berjalan ke arahnya.
Jangan-jangan mereka, tebak Putri Rakia dalam hati.
“Tidak!”
__ADS_1
Dari luar master bedroom suite Pangeran Ramos, kesebelas pria dan dua wanita itu hanya tersentak kaget karena mendengar jeritan Putri Rakia.
“Meskipun bukan Rakia yang meminumnya, tapi pilihan ini juga tidak buruk. Biarkan Ramos menyantap makan malamnya,” kata Pangeran Kurotsukki.