
Kamar Pangeran Kelima
‘’Seperti biasa kamarnya gelap gulita. Dia pasti sedang keluar,’’ tatap Rakia.
‘’Itu karena dia seorang model. Ah, aku lupa .. Tadi pagi Rui datang ke kamar mencarimu,’’ kata Pangeran Ramos.
‘’Tapi dia tidak menemuiku, jadi dia ke mana?’’ tanya Rakia.
‘’Entahlah, dia hanya pamit. Ya sudah, kembali ke kamar saja.’’
‘’Eh, tapi masih ada 3 Pangeran lagi,’’ kata Rakia mencegah.
‘’Lain kali saja,’’ kata Pangeran Ramos bergegas pergi.
......................
Kamar Pangeran Keempat
Ceklek!
Saat pintu terbuka, dada Pangeran Ramos kembali terasa sakit. Ia berlutut sambil memegang dadanya. ‘’Uhuk! Uhuk!’’
‘’Ramos!’’ seru Rakia menghampirinya.
Pangeran Ramos terus terbatuk sampai mengeluarkan darah.
‘’Eh, tunggu....’’
Rakia mengingat pria ini sempat terdiam di kamar pangeran kedelapan dan si kembar.
‘’Jangan bilang kau kesakitan saat itu ... Kenapa tidak memberitahuku?!’’
‘’Kau ingin aku bertemu dengan mereka, uhuk! Uhuk!’’
‘’Bodoh! Kesehatanmu lebih utama. Jika kau memberitahuku, kita tidak perlu melanjutkannya.’’
Pangeran Ramos menarik nafas. ‘’Ochitsuite(Tenang).’’
Rakia berdecih dengan mata memerah. ‘’Melihatmu pura-pura sehat di depan mereka lalu tersiksa di kamar membuatku sangat sakit.’’
Pangeran Ramos tidak menyangka melihat wanita itu menangis, membuatnya menarik Rakia ke dalam pelukannya. ‘’Kau sangat khawatir sampai-sampai menangisiku, terima kasih.’’
......................
Keesokan harinya…
__ADS_1
Kamar Pangeran Kelima
‘’Bukankah kau seharusnya di kamar Pangeran Keempat?’’
Rakia bingung melihat perubahan pria itu. ‘’Aku dan Ramos mampir ke kamarmu kemarin.’’
‘’Oh, aku sedang keluar.’’
‘’Ramos bilang kau mencariku, apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?’’
Pangeran Rui menatap Rakia sekilas lalu membuang wajah. ‘’Tidak ada.’’
Apa-apaan itu? Kenapa aku merasa dia sepertinya marah, ya? Dasar, kata Rakia dalam hati.
‘’Apakah kau kemari hanya ingin menanyakan hal itu?’’ tanya Pangeran Rui menyadarkan Rakia yang melamun.
‘’Lupakan itu. Aku punya kabar baik untukmu. Aku sudah menemukan sosok penyelamatku.’’
‘’Jadi kau mengingatnya, karena itulah kau datang?’’ tanyanya dijawab anggukan oleh Rakia.
Pangeran Rui memeluk Rakia dengan senang, membuat wanita itu bingung.
‘’Sudah kubilang kau akan mengi—‘’
Pangeran Rui tertegun lalu menarik pelukannya. "Apa?"
Rakia begitu senang membicarakannya, membuat kepala Pangeran Rui menunduk ke bawah.
‘’Rui? Kena—‘’
‘’Aku menyukaimu.’’
Rakia terbelalak.
‘’Aku menyukaimu dari dulu sampai sekarang. Aku menyukaimu, aku mencintaimu, apakah kau juga merasakan hal yang sama?’’ tanya Pangeran Rui dengan tatapan sendu.
Rakia mundur sedikit demi sedikit sambil memasang wajah terkejut. ’‘Maaf, aku harus ke kamar Ramos.’’
‘’Cih, Kakak Ramos lagi.’’
Rakia melangkahkan kakinya dengan cepat sambil memegang dadanya.
Kenapa Rui tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Apakah dia sengaja ingin membuatku bingung? Tidak, ucapnya dalam hati.
Aku menyukaimu sejak dulu sampai sekarang. Aku menyukaimu, aku mencintaimu, apakah kau juga merasakan hal yang sama? (Rakia teringat)
__ADS_1
Langkah Rakia terhenti.
Jantungku terasa sakit, tapi kenapa berdebar seperti ini? Cih, ringis Rakia dalam hati.
......................
Kamar Pangeran Keempat
‘’Ada apa dengan dirimu?’’
‘’Hanya sedikit lemas.’’
‘’Cepat atau lambat kau akan terbiasa melihatku seperti ini,’’ kata Pangeran Ramos mengelus kepala Rakia.
Bagaimana reaksi Ramos kalau aku memberitahunya mengenai pengakuan Rui tadi? Stt, kata Rakia dalam hati.
‘’Tidak usah memikirkannya. Aku baik-baik saja,’’ kata Pangeran Ramos salah mengartikan kediaman Rakia.
Rakia menunduk sambil memejamkan matanya.
‘’Rakia?’’
Kenapa ini harus terjadi?
‘’Hei, aku sungguh baik-baik saja.’’
Apakah Ramos sungguh akan meninggal? Bukankah itu terlalu cepat setelah aku menemukannya?
Pangeran Ramos hanya bingung melihat Rakia hanya dian. ‘’Segitu tampannya aku sampai membuatmu melamun?’’
‘’Siapa yang terpesona,’’ kata Rakia akhirnya bicara.
‘’Sudah bertemu dengan Rui?’’
‘’Eh, um … Baru saja.’’
‘’Dia memberitahumu sesuatu?’’
‘’Tidak ada hal yang penting, dia hanya memintaku menyiapkan sarapan sebelum ke kamarmu.’’
‘’Buatkan aku sarapan yang sama,’’ kata Pangeran Ramos tiba-tiba.
‘’Eh?’’
‘’Cepatlah, aku menunggumu.’’
__ADS_1