
Rakia yang menyadari keberadaan Pangeran Keempat tidak ada, membuatnya menuju ke sisi taman lainnya. Seperti dugaannya, ia melihat pria itu berdiri menatap kursi teras di tengah taman.
‘’Bukankah ini tempat pertama kali kita bertemu?’’ tanya Rakia datang.
Pria itu sedikit tersentak karena Rakia datang. ‘’Kupikir pertemuan pertama kita saat kau menabrakku di koridor istana.’’
‘’Hari itu aku tidak sengaja mendengar suara biola jadi aku mencari di sekitar. Saat itulah aku melihatmu di sini untuk pertama kalinya,’’ kata Rakia.
Pangeran Ramos memandang ke arah tanah. ’’Sebentar lagi kau akan kembali ke Kerajaan Helios.’’
‘’Ya. Tapi itu bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi. Jangan sedih seperti itu, aku bisa datang mengunjungimu sesekali,’’ senyum Rakia.
‘’Aku sedih bukan karena kau akan pergi, tapi karena tidak ada orang lagi yang meluangkan waktunya untuk mengunjungiku,’’ ungkap pria itu.
Rakia terbelalak. Ia berusaha tersenyum meskipun dalam hatinya ia sedih mendengarnya. ‘’Eii~ bukankah masih ada Pangeran Shinsuke?’’
‘’Paman dan kau itu beda. Aku tidak bisa menyusahkannya terus menerus,’’ kata Pangeran Ramos.
‘’Jadi kau ingin menyusahkan diriku, ya?’’ tanya Rakia dengan raut wajah bodoh.
Pangeran Ramos hanya diam, membuat Rakia juga ikut diam.
‘’Um, maukah kau berjanji padaku?’’ tanya Rakia memecah keheningan.
__ADS_1
‘’Apa?’’ tanya pria itu.
‘’Meskipum aaku tidak ada lagi di sini, tetaplah rutin meminum obat. Kalau kau sampai melewatkannya sedikit saja, aku tidak akan memaafkanmu,’’ kata Rakia.
Pangeran Ramos menatap Rakia lekat sampai akhirnya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
‘’Aku akan memegang janjimu,’’ senyum Rakia meninju dada pria itu dengan pelan.
Wanita itu mendongakkan kepala menatap ke arah langit. ‘’Aku akan merindukan kalian.’’
Tangan Pangeran Ramos terulur memegang dagu wanita itu. Mata Rakia membulat besar merasakan bibirnya bersentuhan dengan pria tadi. Jantungnya langsung berdegup cepat sambil mengerjapkan mata berulang kali.
Pangeran Ramos yang melihatnya tanpa melepaskan ciuman, menarik pinggang Rakia agar merapat kepadanya. Dari jauh, Pangeran Rui terpaku melihat pemandangan itu.
Tidak lama kemudian, Pangeran Ramos menarik ciumannya.
Rakia dan Pangeran Rui bersamaan tertegun.
‘’Aku sangat mencintaimu,’’ ulang Pangeran Ramos.
Melihat wanita itu menunduk, membuat Pangeran Ramos menghela nafas. ‘’Sepertinya Rui juga pernah mangatakan hal itu kepadamu, ya?’’
Dengan cepat, Rakia mendongakkan kepala menatap pria itu, tak lama kemudian ia kembali menunduk.
__ADS_1
‘’Kau menerimanya?’’ tanya Pangeran Ramos.
Rakia menggelengkan kepala. "Aku belum menjawabnya."
‘’Aku akan menunggu jawabanmu,’’ kata Pangeran Ramos.
‘’Eh?’’ tatap Rakia tidak percaya.
‘’Sampai kau memutuskan untuk memilih di antara kami berdua, aku akan menung—‘’
‘’Rakia!’’ panggil Pangeran Rui memotong ucapan kakaknya.
Kedua orang itu menoleh melihat kedatangan Pangeran Rui.
‘’Kau pernah bilang tujuanmu datang ke istana ini karena mencari sosok penyelamatmu, kan? Tapi, kau berpikir kalau orang yang menyelamatkanmu adalah Kakak Ramos. Kalau begitu aku akan jujur saat ini juga. Orang yang menyelamatkan dirimu saat insiden 19 tahun yang lalu itu … Adalah aku!’’ kata Pangeran Rui.
Rakia menatap Pangeran Ramos berharap ucapan Pangeran Rui tidak benar, tapi pria ini hanya diam. ‘’Ramos?’’
Pangeran Ramos menatap Rakia lekat. Tangannya mengepal lalu menatap adiknya. Urat-urat di lehernya menegang sambil dirinya memejamkan mata. ‘’Itu benar.’’
Deg!
Rakia terpaku berbeda dengan Pangeran Rui yang tersenyum. Perlahan ia mundur menjauhi Pangeran Keempat.
__ADS_1
‘’Jadi … Rui....‘’
Rakia langsung berlari pergi meninggalkan kedua pria itu.