
Putri Rakia hanya diam sejak tadi tanpa menyentuh teh dan dessert di piringan keramik bertingkat. Para pelayan yang menemaninya juga hanya diam menunggu.
......................
Malamnya…
Koridor Istana
‘’Hei, kenapa kita bersembunyi seperti ini?’’ tanya Putri Nikki.
‘’Ush, tunggu sampai waktunya tiba,’’ kata Putri Yuriki.
‘’Tapi ini sudah 8 jam setelah kita keluar dari kamar Rakia! Para pelayan bahkan kebingungan melihat kita bertingkah seperti ini,’’ bisik Pangeran Kairi mulai kesal.
Putri Yuriki berdecih yang juga mulai merasa kesal. ‘’Sudah kubilang, tunggu sampai waktunya tiba.’’
‘’Oh! Cepat bersembunyi!’’ seru Putri Yuriki menindih para saudaranya.
‘’Kakak Yuriki, kau menindihku,’’ kata Pangeran Yuga mengeluh.
‘’Aku juga,’’ kata Putri Nikki.
Pangeran Kairi dan Putri Ukii juga sama halnya. ‘’Yuriki, kau berat sekali.’’
Mereka melihat Kaisar menuju ke salah satu kamar. Tidak lama kemudian, kelima orang tadi langsung menghampiri pria dewasa itu.
......................
Kamar Putri Ketiga
Putri Rakia termenung tanpa menyadari kedatangan Kaisar Helios.
‘’Memikirkan sesuatu?’’
Mendengar suara itu membuat Putri Rakia segera berbalik. ‘’A-Ayahanda?’’
__ADS_1
‘’Apa kau masih marah mengenai perlakuanku?’’
Wanita itu tidak menjawab dan hanya diam membuat Kaisar Helios menghela nafas.
‘’Aku menganggap kediamanmu adalah iya. Tapi kau seharusnya mengerti, aku melakukannya demi ke—‘’
‘’Kebaikan? Hehe, jangan membuatku tertawa. Kalau itu memang demi kebaikanku kenapa harus memilih cara seperti itu?’’ tanya Putri Rakia tersenyum remeh.
‘’Kau tahu sendiri kenapa aku tidak bisa memberitahumu secara langsung, mengenai sosok penyelamat yang sudah kau cari sejak kecil. Itu karena aku ingin kau sendiri yang menemukan jawabannya. Selain itu, kau seorang putri, jangan bersikap angkuh kepada semua orang, tapi harus saling menghormarti. Kalau kau seperti itu terus, semua orang akan menilaimu buruk, dan berbalik melawanmu. Aku tidak mau hal itu terjadi. Jadi, aku minta maaf, aku tidak ingin melihat wajah putriku yang selalu murung semenjak pulang. Kami semua merindukanmu bahkan setiap hari. Tapi semuanya selalu bersabar menunggu kepulanganmu.’’
Butiran air mata Putri Rakia berjatuhan membuat Kaisar Helios. ‘’You stupid dad!’’
‘’Yes, I’m stupid dad,’’ kata Kaisar membenarkan.
Kaisar menyeka air mata putrinya. ‘’Kau pasti sudah tahu siapa sosok penyelamatmu, kan?’’
Wajah Putri Rakia spontan menjadi murung kembali. ‘’Ya, dia adalah Pangeran Kelima.’’
‘’Kau pernah bilang, setelah menemukan sosok penyelamatmu, kalian berdua akan menikah. Jadi haruskah segera kuurus pernika—‘’
‘’Aku menolak,’’ kata Putri Rakia memotong ucapan Kaisar.
‘’Apa yang kau katakan?’’ tanya Kaisar Helios.
‘’Ayahanda tidak perlu berpura-pura. Aku sedang membicarakan Pangeran Keempat, Ramos von Rivazreich,’’ kata Putri Rakia.
Kaisar Helios hanya diam membuat putrinya merasa kesal.
‘’Ayahanda!’’ seru Putri Rakia.
Pria itu memejamkan mata sampai akhirnya menghela nafas. Ia duduk di kasur sambil ditatap oleh Putri Rakia yang terlihat menunggu.
‘’Kalau saja hari itu aku tidak ceroboh, mungkin kau tidak akan diculik. Semuanya berawal tepat di hari ulang tahunmu,’’ kata Kaisar Helios.
Flashback 19 years ago
__ADS_1
‘’Mohon maaf Yang Mulia, jendela kamar Putri Ketiga terbuka dan kami hanya menemukan surat ini sudah ada di atas meja,’’ lapor Pengawal Maru.
Kaisar Helios merebut kertas itu. Matanya membulat besar sambil menggertak gigi setelah membacanya.
‘’Ada apa, Yang Mulia? Apa yang tertulis di dalam surat itu?’’ tanya Permaisuri.
‘’Beraninya dia,’’ kata Kaisar Helios tertahan sambil menyerahkan kertas itu ke istrinya.
Ia bergegas untuk pergi, tapi langkahnya terhenti saat Raja dan Ratu Rivazreich sudah berdiri di hadapan mereka.
‘’Sesuatu terjadi kepada Putri Ketiga?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Ada apa, Permaisuri?’’ tanya Ratu Rivazreich.
‘’Putri Ketiga diculik dan akan dibunuh hari ini juga,’’ jawab Permaisuri Helios.
Deg!
‘’Rakia diculik?!’’
Semua pandangan menuju ke arah anak laki-laki berumur 5 tahun itu.
‘’Pangeran Keempat, apa yang Anda lakukan di sini?’’ tanya Raja Rivazreich.
‘’Ayahanda, aku mendengarnya. Rakia diculik dan akan dibunuh,’’ kata Pangeran Ramos muda.
‘’Pangeran Keempat, mungkin Anda salah dengar, maksud Yang Mulia se—‘’
‘’Aku tidak bodoh dengan usiaku sekarang ini. Izinkan aku ikut untuk menolong Rakia,’’ kata Pangeran Ramos muda memotong ucapan.
......................
Semua undangan dibatalkan. Kaisar dan Raja beserta puluhan prajurit hendak meninggalkan istana. Namun, seorang anak laki-laki seumuran Pangeran Ramos muda berlari menghampiri mereka.
‘’Kakak Ramos dan Ayahanda mau ke mana?’’
__ADS_1
...Visual Pengawal Maru...