
Dapur Istana
Semua orang memandang Rakia dengan sinis.
‘’Kenapa?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Kau menarik perhatian semua orang,’’ jawab Rakia ketus.
Pangeran Ramos menoleh sambil melontarkan tatapan dingin, membuat semuanya menunduk ketakutan dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
‘’Bagaimana?’’ tanya pria itu.
‘’Puff! Siapa yang tidak takut jika menerima tatapan seperti itu?’’ kikik Rakia.
Pandangan Pangeran Ramos tidak pernah teralihkan dari Rakia.
Sampai kapan dia akan melihatku terus? Membuat jantung berdebar saja, gerutu Rakia dalam hati.
Beberapa menit kemudian…
‘’Kau tidak memasak Venison Roast?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Tampilannya mungkin sedikit berbeda, tapi rasanya jauh lebih enak. Apakah kau tidak berniat mencicipi hidangan lain?’’ tanya Rakia.
‘’Rui tidak menyukai kau menghidangkan makanan yang sama kepadaku, ya?’’
Rakia terbelalak karena pria itu peka sekali. ‘’Ahaha tentu saja tidak, aku hanya ingin kau merasakan hidangan lain. Tapi kalau kau tidak mau, akan kubuatkan Venison Ro—‘’
‘’Tidak perlu. Aku akan memakannya,’’ kata Pangeran Ramos memotong ucapan Rakia.
Maaf, kata Rakia dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu, mereka berdua menuju ke taman.
‘’Ada apa?’’ tanya Rakia menyadari Pangeran Ramos memandangi langit.
‘’Aku ragu apakah bisa sembuh dan kembali ke kehidupanku seperti semula.’’
‘’Selama kau berusaha, maka hasil tidak akan membohongi. Aku akan terus berada di sampingmu sampai kau sembuh total.’’
Pangeran Ramos terdiam, lalu menolehkan kepalanya ke arah Rakia. "Sungguh?"
"Aku sudah berjanji, dan tidak akan mengingkarinya," jawab Rakia.
‘’Kalau begitu, apakah kau bisa menungguku sedikit lebih lama?’’
‘’Mm?’’ tanya Rakia.
‘’Jika aku benar-benar bisa sembuh dari penyakit ini, aku akan datang untuk melamarmu agar menjadi teman hidupku,’’ ungkap pria itu.
Rakia terbelalak. ‘’Ramos....’’
Pangeran Rui menatap kedua orang itu di balik jendela kamarnya.
‘’Kenapa kau selalu memperlakukanku sama seperti dengannya? Semua perhatian yang kau berikan padaku, kau juga memberikannya. Aku benar-benar habis pikir,’’ kata Pangeran Rui menarik hordeng dengan kasar.
Pangeran Ramos menatap Rakia lekat, membuat Rakia bingung harus menjawab apa.
‘’Ahahaha, kau ternyata suka bercanda, ya?’’
‘’Aku serius Rakia.’’
‘’Eii~ kau bertingkah seolah-olah aku akan direbut pria lain.’’
__ADS_1
‘’Kalau itu benar, kau bisa apa? Bagaimana jika pria itu adalah Rui?’’
Rakia benar-benar tidak mengerti melihat tingkah Pangeran Ramos.
Haa, kakak adik ini tidak ingin melihatku hidup dalam damai dan tenang saja, kata Rakia dalam hati.
‘’Ramos, kau ini kenapa?’’
‘’Rakia....’’
‘’Sudah, berhenti bercandanya.’’
Pangeran Ramos menunduk. ‘’Kau tidak perlu mengantarku ke kemar, ini sudah waktunya kau kembali ke kamar Kakak Akakuro.’’
‘’Kau bertingkah seperti mengusirku, apakah kau marah soal tadi?’’
‘’Tidak ada yang marah, aku pergi dulu.’’
Rakia hanya menatap kepergian pria itu dengan perasaan bimbang. ‘’Haa, kenapa jadi seperti ini?’’
......................
Kamar Pangeran Ketiga
Rakia masuk dan melihat Pangeran Akakuro menatapnya serius. Pria itu menggerakkan lirikan matanya ke samping, membuatnya mengikuti arah pandangnya yang menuju ke arah jam dinding.
‘’Kau terlambat 1 menit.’’
‘’Eh? Maksud Pangeran?’’
‘’Sudah aku bilang, setiap pagi aku akan bangun pukul 06:30, makan bersama anggota kerajaan saat pukul 08:00 pagi dan 19:00 malam, kemudian kembali ke kamar untuk menulis beberapa tesis yang akan aku ajukan kepada Raja saat pukul 09:00 pagi sampai pukul 15:00 sore. Tapi, kau malah datang pada pukul 15:01.’’
__ADS_1
Rakia memasang raut wajah bodohnya.
Sekarang aku mengerti kenapa Ramos bersih keras menyuruhku kembali. Pangeran ini sangat merepotkan, hanya telat 1 menit saja aku sudah mendapat ceramah yang luar biasa panjangnya, ucapnya dalam hati.