
Kamar Rakia
"M ... mmm...."
Wanita itu bangkit sambil mengusap sebelah matanya.
Pandangannya menuju ke arah luar jendela. "Masih hujan? Apakah belum reda sejak kemarin?"
Rakia tersadar. "Ah! Benar juga, aku harus segera bersiap, dan membuat sarapan, lalu mengecek keadaan Rui."
......................
Dapur Istana
Seperti biasa, Rakia mengambil bahan-bahan saat dirinya menyiapkan sarapan untuk Pangeran Kelima.
"Lihat, dia pikir dapur ini miliknya? Seenaknya saja dengan alasan Pangeran menyuruhnya."
"Ush pelankan suaramu. Tidak ingat betapa kejamnya dia menyeret Nona Haruka ke lantai? Jangan sampai mentalnya kambuh lagi, dan kita menjadi sasarannya."
"Benar juga, bisa gawat kalau mentalnya kambuh lagi, lebih baik jangan berurusan dengan psikopat itu."
"Cih! Wanita itu membuatku muak."
Mendengar ocehan itu, Rakia hanya menghela nafas karena sudah terbiasa. Meskipun dalam hatinya ia sudah emosi.
"Huu, sabar Rakia. Setelah masa hukumanmu selesai, kau baru bisa membereskan tikus-tikus itu."
Haruka yang melihatnya dari jauh hanya tersenyum. "Rakia, bisa kuakui mentalmu kuat juga dengan ocehan seperti itu. Biasanya orang akan menyerah dan memilih mengundurkan diri, tapi berbeda denganmu, kau masih bertahan seperti biasanya. Benar-benar wanita yang angkuh. Mari kita lihat sampai mana kau akan bertahan?"
......................
__ADS_1
Kamar Pangeran Kelima
Rakia masuk membawa hidangan dan es krim yang sudah dibuatnya.
"Pangeran Rui, Bagaimana kondisi Anda?" tanya Rakia membantu pria itu bangkit dan menyandarkannya dengan bantal.
"Um, lumayan. Sepertinya es krim yang kau buat sedikit bekerja," jawab pria itu.
"Kalau begitu sudah waktunya Anda sarapan, Aa~ mm."
"Biar aku saja."
"Anda masih sakit, sebagai pelayan pribadi ini sudah tugasku."
Pangeran Rui mengalah dan membiarkan Rakia menyuapnya.
"Aku penasaran kenapa Ayahanda sampai repot menyuruhmu melayani kami secara pribadi? Padahal kalau masalah pelayan, kami tidak kekurangan. Bahkan setiap Pangeran di sini memiliki 20 pelayan masing-masing untuk mengurusnya."
20 pelayan masing-masing? Aku rasa dia tidak tahu kalau Pangeran Bamie tidak pernah mengizinkan satu orang pun menjamah surga makanannya, kata Rakia dalam hati.
Pangeran Rui mengerutkan dahi. "Kenapa diam?"
"Eh, ah ... Mm ... Itu ... Stt ahaha sebenarnya...."
"Mm?" Pangeran Rui menunggu.
"Sebenarnya hiks ... Saya butuh biaya pengobatan untuk keluarga."
Pangeran Rui yang melihatnya jadi merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih, apakah orangtuamu yang sakit atau saudaramu?"
"Hiks, semuanya jatuh sakit. Jika ingin membawa mereka ke rumah sakit, maka butuh biaya yang besar."
__ADS_1
Pangeran Rui meminta maaf dan menyudahi pembahasan mereka. Setelah menghabiskan sarapan dan es krim, Rakia menuju ke dapur.
"Tapi wanita itu memang terlihat familiar bagiku," tatap Pangeran Rui.
......................
Koridor Istana
"Syukurlah Rui tidak membahasnya lagi."
Rakia menyusuri jalan sampai dirinya tidak sengaja berjumpa dengan seorang pria.
Dilihat dari pakaiannya, dia pasti salah satu Pangeran di sini, kata Rakia dalam hati.
"Jadi kau pelayan pribadi yang diutus Ayahanda, ya?"
Rakia mengangguk menjawab pertanyaan itu. Suasana menjadi canggung saat keduanya hanya terdiam, sampai akhirnya pangeran berjalan melewatinya.
"Aku tidak mengerti, apa yang dipikirkan Kaisar Helios sampai mengutusmu melakukan pekerjaan ini."
"Eh, apa yang Pangeran katakan?"
Langkah Pangeran itu terhenti kemudian berbalik menatap Rakia.
"Tidak perlu berpura-pura, aku tahu siapa dirimu. Pelayan pribadi kami atau bisa aku panggil ... Dai San Hime(Putri Ketiga), Rakia de Gabrielle Helios."
Mata Rakia membulat besar.
"Aku menantikanmu sebagai pelayan pribadiku," senyum pangeran itu meninggalkan Rakia yang masih mematung.
"Eh? Ti-Tidak mungkin. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."
__ADS_1