
"Haa, hanya si kembar itu yang membuatku kewalahan," kata Rakia menatap dirinya di cermin sambil mengeringkan rambut.
Sejenak ia terdiam lalu tersadar. "Aa! Karena terlalu fokus melayani mereka, aku lupa mencari tahu sosok penyelamatku!"
Rakia menghela nafas panjang. "Bagaimana aku menyelidikinya setelah 7 Pangeran sudah berlalu?"
"Eh, tunggu," ucapnya bangkit lalu mengambil ponselnya di dalam lemari.
......................
Kerajaan Helios
Kring! Kring!
Raja Helios menatap telepon genggam yang berdering.
"Biarkan hamba yang menekannya," kata pengawal pribadi Kaisar Helios menekan tombol telepon.
"Ayahanda, ini aku Rakia," kata wanita itu di seberang telepon.
......................
Kamar Rakia
"Kenapa menghubungiku malam-malam begini?" tanya Kaisar di seberang telepon.
"Aku tahu Ayahanda tidak akan memberitahuku soal insiden itu. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengetahui sosok penyelamatku."
......................
Kerajaan Helios
Kaisar Helios terdiam saat mengingat sosok bocah laki-laki menggendong bocah perempuan ala bridal style berdiri di tengah kobaran api.
"Dia memiliki bekas luka bakar di area punggung."
"Ou, kalau begitu aku akan menutup telepon."
Tit!
Kaisar Helios hanya tersenyum sambil menggelengkan-gelengkan kepala.
__ADS_1
......................
Kamar Rakia
"Memiliki bekas luka bakar, ya?"
Pangeran Reonharu pernah menyuruhnya bermain piano tanpa beristirahat, jadi ia sempat melihat pria itu saat mengganti pakaian dan tidak ada bekas apa pun di bagian punggung.
Mengingat sisi pemalu dan pendiam dari Pangeran Zelho, tidak mungkin membuatnya menerobos ke dalam api untuk menyelamatkannya.
Saat membanting Pangeran Bamie, ia juga sempat melihat punggungnya yang mulus tanpa bekas luka.
Ketika dirinya melihat Pangeran Aron yang tertidur tanpa atasan waktu itu juga tidak ada bekas luka bakar di punggung.
"Kalau Anon, sikapnya yang tenang dan lembut, dia akan berpikir 2 kali sebelum menerobos api untuk menyelamatkanku, jadi mustahil. Kalau begitu sisa Goyu dan Ren. Yosh, aku akan menyelidikinya besok sebelum ke kamar Pangeran selanjutnya."
......................
Pagi telah tiba...
Kamar Pangeran Kesembilan
Haruka yang tidak sengaja lewat, mengerutkan dahi melihat tingkah Rakia.
Rakia menatap Pangeran Ren yang sedang berdansa tanpa atasan. "Tidak ada bekas luka."
"Hha! Kau mengagetkanku saja," kaget Rakia melihat Haruka sudah ada di belakangnya saat ia berbalik.
"Kenapa mengintip di luar kamar Pangeran?" tanya Haruka.
"Bukan urusanmu," jawab Rakia.
"Jangan-jangan kau ingin mencelakai Pangeran, ya?"
"Heh, kau pikir aku ingin merebut peranmu menjadi tokoh antagonis? Dasar, bicara denganmu hanya membuang waktuku."
Haruka menatap kepergian Rakia.
"Aku sangat yakin dia mengintip dari balik pintu."
Karena penasaran, ia juga berniat mengintip, namun pintu tiba-tiba terbuka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Pangeran Ren.
Haruka tertegun lalu mendongakkan kepala. "Hehe, Pangeran ini salah paham. Saya tidak berniat mengintip. Tadi Rakia bertingkah aneh, jadi saya ingin memeriksa."
"Rakia? Sungguh tidak sopan menyalahkan orang lain. Cepat pergi sebelum aku memberimu hukuman!"
"Saya mengerti."
......................
Kamar Pangeran Kedelapan
Rakia menghentikan langkahnya sambil mengelus dada.
Ceklek!
Rakia masuk ke dalam kamar. "Goyu tidak ada, pasti dia di kasino lagi."
Ceklek!
Sebuah pintu terbuka membuat Rakia segera bersembunyi di balik sofa.
Goyu?! Gawat, tatap Rakia kaget melihat pria itu keluar dari kamar mandi.
Saat Pangeran Goyu membuka jubah handuk mandi hingga punggung, ia berbalik menghadap ke cermin.
"Dia juga tidak memiliki bekas luka."
Setelah bersiap-siap, Pangeran Goyu keluar disusul oleh Rakia.
......................
Kamar Pangeran Kelima
"Berarti aku akan menyelidikinya mulai dari Pangeran ini."
Ia menatap ke sekeliling kamar.
"Gelap sekali. Hhah? Jangan-jangan dia pengguna black magic? Ahaha, tidak mungkin," kata Rakia menuju ke salah satu jendela untuk membukanya.
"Mungkin sedang keluar."
__ADS_1