My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 82 Kutukan


__ADS_3

Malam telah tiba, Rakia pun menemani Mezool sampai ke halaman belakang.


‘’Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?’’ tanya Rakia.


‘’Seperti yang Tuan Putri dengar ... Keluargaku sudah dihapus. Ayah dan ibuku bunuh diri. Aku tidak tahu harus kemana lagi,’’ kata Mezool.


Rakia terdiam sesaat ‘’Kenapa kau tidak mengunjungi kerabatmu?’’


Mezool tersenyum dengan kepala menunduk. ‘’Aku akan bodoh jika melakukan hal itu. Setelah apa yang kuperbuat, memangnya ada tempat lagi bagiku di mata mereka? Haa....‘’


Ia menatap langit malam. ‘’Aku akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh.’’


‘’Kalau kau merasa sedih, jangan ragu menghubungiku. Aku siap menjadi pendengarmu,’’ kata Rakia.


Mezool menatapnya tidak percaya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengangguk sambil tersenyum.


‘’Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Aku harus segera kembali sebelum Pangeran Pertama menyadariku hilang,’’ kata Rakia.


‘’Sekali lagi terima kasih,’’ senyum Mezool.


Rakia mengangguk dan berbalik pergi. ‘’Mata aimashou(Sampai jumpa lagi).’’


‘’Mochiron(Tentu),’’ kata Mezool tersenyum miring.


Ia mengeluarkan sesuatu dibalik saku mantelnya. ‘’Mata aimashou(Sampai jumpa lagi)!’’

__ADS_1


Rakia berbalik dan melihat Mezool menyeringai dan hendak menusuknya. ‘’Mezool?’’


Syut!


Rakia terpaku sedangkan Mezool masih menyeringai saat dirinya berhasil menancapkan pisau yang ia pegang. ‘’Me-Mezool?’’


Keduanya saling bertatapan. Mezool yang menyeringai langsung tertegun karena pisau itu tidak menancap di perut Rakia.


‘’Ru-Rui?’’ tatap Mezool membulatkan mata sambil menarik tusukannya dengan cepat.


‘’Akh!’’ ringis Pangeran Rui terjatuh ke tubuh Rakia.


‘’Ke-Kenapa kau bisa ada di sini?’’ tanya Rakia.


‘’Tidak ... Ti-Tidak ... Tidak!!’’ jerit Mezool menutup kedua telinganya dengan tangan gemetar.


Melihat darah di tangannya dan perut Pangeran Rui membuatnya merasa tertekan. Ia berusaha menghampiri pria itu, tapi ia tidak kuat.


Mezool kembali menangis. Ia menatap Rakia dengan penuh amarah.


‘’Ini salahmu. Semua ini tidak akan terjadi jika saja kau tidak ada!’’ marahnya lalu memungut pisau yang sempat ia jatuhkan tadi.


‘’Mmhehehe … Hahaha … Ahahaha … Hahahahaha! Bahahahaha!!’’


Rakia merasa sedikit ketakutan melihat wanita itu tertawa dengan kepala menegadah.

__ADS_1


Mezool menghela nafas panjang lalu menatap Rakia.


Pangeran Rui sedikit tersadar. ‘’Me-Mezool....‘’


‘’Ah~ Rui, kenapa kau tega melakukan hal ini? Kau pernah berjanji padaku saat kita masih kecil, kalau kau akan menikahiku begitu kita berdua tumbuh dewasa. Tapi kau malah menghianatiku hiks … Hiks … Humphehe … Tidak apa-apa, karena kau akan tetap menjadi milikku. Rui? Meskipun kau tidak menyukaiku, aku akan tetap menyukaimu.’’


Butiran air mata Mezool terjatuh. ‘’Rui, aku sangat mencintaimu.’’


Pandangannya beralih dengan wajah kusut. ‘’Rakia, karenamu keluargaku hancur begitu juga hubunganku dengan Rui. Kau merusak segalanya! Karenamu semuanya hacur Rakia! Arghhh!’’


Mata Rakia dan Pangeran Rui membulat besar saat Mezool menusuk jantungnya sediri.


‘’Tidak!!’’ seru Rakia.


Brack!


Mezool memuntahkan darah lalu menatap Rakia. Matanya memicing sambil mengayun kedua tangannya ke atas membentuk x. ‘’Aku mengutukmu! Agar merasakan sakit yang sama kurasakan ketika tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai.’’


Dar! Der! Dor!


Suara petir bergemuruh di langit.


‘’Mmhehe … Saat kau merasakannya, barulah aku akan merasa teradili. Ini adalah sumpahku.’’


Rakia terpaku dengan tubuh gemetar hebat melihat tubuh Mezool terjatuh yang sudah tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


__ADS_2