
Dapur Istana
"Siapa yang memberimu hak untuk memasak?" tanya Haruka datang dengan sombongnya.
Rakia menghentikan aktivitasnya. "Pangeran Rui sendiri yang memberi perintah untuk membuatkannya sarapan. Jadi kalau kau ingin protes, pergi kepada Pangeran Rui saja."
"Karena Pangeran sendiri yang memberimu perintah, biar aku ban—"
Rakia menodongkan pisau ke arah Haruka membuat semua pelayan tersentak.
"Rakia, apa kau gila?!" pekik Haruka.
"Aku tidak butuh bantuanmu, jadi jangan menggangguku," tatap Rakia datar.
Haruka berdecih. "Baik, aku pergi!"
"Dasar, selalu saja cari masalah denganku!" kesal Rakia.
30 menit kemudian setelah hidangan siap, Rakia pun segera membawanya.
Prank!
"Oh tidak, bagaimana ini? Makanan untuk Pangeran malah terjatuh. Aduh, Pangeran akan menunggu lama, sebaiknya segera dibersihkan. Aku akan membantu membereskannya," kata Haruka tersenyum puas sambil membersihkan lantai.
Mata Rakia memicing. Ia menjambak rambut Haruka kemudian menyeretnya ke lantai dimana masakannya berserakan.
"Akh!" ringis Haruka saat menyentuh pecahan piring.
Semua pelayan shock sambil menatap Rakia dengan ngeri.
"Rakia, beraninya kau!" seru Haruka.
"Biar kubantu untuk membersihkannya," kata Rakia meraih Jug berisi air lalu menyiram Haruka dari atas kepala.
__ADS_1
"Astaga, dia benar-benar tidak punya hati."
"Padahal Nona Haruka ingin membantunya tapi dia malah sekasar itu."
"Ih, dia wanita yang menakutkan, sepertinya dia kena mental."
"Kalau kena mental seperti itu, kenapa dia harus melayani Pangeran secara pribadi selama sepekan?"
"Ush, diamlah, kita bisa jadi sasaran selanjutnya."
"Dasar psikopat!"
Rakia tidak menggubris ocehan para pelayan, dan hanya fokus kepada Haruka. "Aku sudah menduga ini akan terjadi, sayangnya aku membuat 2 hidangan yang sama untuk jaga-jaga."
Wanita itu mengambil hidangan satunya yang ditutupi penutup hidangan makanan stainless sambil melangkah pergi. "Zamamiro(Kau pantas mendapatkannya)."
Haruka meringis memegangngi tubuhnya yang tergores pecahan kaca.
"Rakia, aku akan mengingat ini."
Kamar Pangeran Kelima
"Kenapa kau begitu lama?" tanya Pangeran Rui.
"Tadi berjumpa dengan seekor tikus, jadi aku membereskannya terlebih dahulu," jawab Rakia.
"Tikus? Apakah kau sedang bercanda?"
"Hidangannya sudah selesai. Ini sarapan Anda," kata Rakia mengabaikan.
Pangeran Rui menatap hidangan tersebut.
"Venison Roast Showing Two Expression Real Life," kata Rakia.
__ADS_1
"Kenapa menambahkan real life di belakang nama hidangan ini?"
"Masakannya dari anime kesukaanku, jadi aku membuatnya di dunia nyata," jawab Rakia.
"Otaku? Ya sudah, aku akan mencicipinya."
Deg!
"Yang sebelah kanan, saus poivrade, saus yang terbuat dari daging rusa yang memiliki tekstur kasar namun ringan dan meninggalkan rasa, lalu aku menambahkan berbagai buah arbei dalam saus disebelah kiri untuk memberikan rasa manis yang tajam dan menyegarkan, saus poivrade au baie."
"Arbei yang kau gunakan blueberries, kismis merah, blackberrie dan juga cassis liqueur, anggur merah, cuka blackberrie dan selai rasberi," tambah Pangeran Rui.
"Sungguh wawasan yang sangat luas," puji Rakia.
"Buatkan aku hidangan yang sama setiap pagi sebelum aku pergi."
"Pergi?"
"Aku seorang Pangeran sekaligus model."
"Eh, apakah itu diperbolehkan?"
"Aku ini seorang Pangeran, menjadi model semua majalah akan memberi mereka pengaruh yang besar, siapa yang tidak ingin merekrutku?"
Ternyata semua Pangeran di sini memiliki kesenangan masing-masing, kata Rakia dalam hati.
"Tidak perlu menungguku. Hanya untuk berjaga-jaga jangan sampai kejadian itu terulang lagi," kata Pangeran Rui berdiri.
"Sebenarnya saya melakukan apa?"
"Karena kau tidak ingat, aku tidak terlalu memikirkannya."
Rakia menatap kepergian pria itu.
__ADS_1
"Apanya yang tidak memikirkan? Lalu kenapa menyindirku?!"