
Sudah hampir satu minggu Putri Rakia berada di Jepang. Ia dan Pangeran Ramos terpaksa menjalani LDR setelah selesai menikah. Meskipun begitu, mereka berdua tetap berkomunikasi
📞”Jadi bagaimana kondisi Permaisuri saat ini?” tanya Pangeran Ramos.
📞”Sudah agak mendingan. Panas tubuh Ibunda sudah menurun, tapi kondisi Ibunda masih lemah,” jawab Putri Rakia.
Aneh, sudah hampir satu minggu kami selalu saling menelepon, kenapa Ramos tidak pernah menanyakan kabarku? Haa, ucapnya dalam hati.
📞”Rakia, aku mencintaimu.”
Deg!
Meskipun mereka selalu mengucapkan kalimat romantis seperti itu, entah kenapa Putri Rakia merasa tidak nyaman kali ini.
📞”Hei, aku ini sedang menyatakan perasaanku, kenapa kau diam saja? Kau akan menyesal jika hendak membalasnya saat aku sudah tiada,” kata Pangeran Ramos.
📞”Ramos, jangan memancing emosiku. Iyaya, aku juga mencintaimu.”
Terdengar suara kekeh dari suaminya itu di seberang telepon, membuat Putri Rakia tersenyum dengan perasaan campur aduk.
📞”Ezekiel,” kata Pangeran Ramos langsung.
📞”Eh? E-Ezekiel?” bingung Putri Rakia.
📞”Itu nama tokoh pria yang kau cintai dalam manhwa favoritmu, One day I became a Princess. Ezekiel memiliki arti Kekuatan Tuhan. Itu akan menjadi nama putra kita," kata Ramos.
Wajah Putri Rakia langsung memerah sambil ia menyembunyikannya dibalik bantal.
📞”Ba-Baka! Dari mana kau tahu anak kita akan berjenis kelamin laki-laki? Aku bahkan belum mengandung. Sebenarnya yang akan menjadi ibu itu kau atau aku?!”
Pangeran Ramos hanya terkekeh setelah puas menggoda Putri Rakia. Ia pun menutup telepon karena sudah ingin tidur. Putri Rakia hanya mengangguk dan mematikan sambungan.
“Karena beda 9 jama, di sana seharusnya baru pukul 7 malam, kenapa Ramos tidur begitu awal? Selain itu, tingkahnya aneh hari ini. Haa … Mungkin aku hanya kelelahan.”
......................
Kamar Pangeran Keempat
Pangeran Shinsuke menatap iba salah satu keponakannya itu. Pangeran Ramos membengkap mulutnya agar darah yang keluar tidak menimbulkan suara.
“Ramos, kondisimu sangat buruk, kenapa kau tidak memberitahu Putri Ketiga? Aku terluka melihatmu seperti ini terus selama hampir satu minggu?”
“Paman, aku baik-baik saja. Di mana obatku?”
__ADS_1
Pangeran Shinsuke menyeka air matanya sambil menyerahkan obat.
Sedangkan semua orang di luar hanya membengkap mulut, melihat pemandangan itu dari celah pintu. Mereka benar-benar terluka melihat Pangeran Ramos bertingkah seperti itu. Semenjak Putri Rakia pergi, kondisi Pangeran Ramos semakin memburuk.
......................
Pagi berikutnya…
“Dokter Wo, terima kasih atas usaha Anda. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Anda boleh kembali ke Inggris,” kata Permaisuri.
“Segala keagungan Helios,” kata Dokter Wo.
Bruk!
“Putri Ketiga!” seru Pangeran Kairi.
“Dia pasti kelelahan karena menemaniku sepanjang hari, selama satu minggu ini,” cemas Permaisuri.
......................
Putri Rakia membuka matanya dan mendapati dirinya di sebuah tanah lapang bersalju. “Eh, kenapa aku ada di sini?”
Ia menggigil kedinginan sampai akhirnya seseorang menyelimutinya dengan mantel berbulu.
“Ramos! Aku merindukanmu!” senang Putri Rakia memeluk suaminya.
“Rakia, aku mencintaimu lebih dari apa pun. Maaf karena aku harus pergi duluan. Kau jangan cepat menyusulku. Hiduplah bahagia bersama mereka.”
Putri Rakia hendak mengejar Pangeran Ramos, tapi es membeku menyelimuti kakinya menuju ke atas.
“Ramos! Tunggu! Ja—”
Deg!
“Akhirnya sadar juga. Anda membuat kami khawatir saja” kata Kaisar.
Putri Rakia terengah-engah, perasaannya mulai semakin tidak nyaman. Kemarin, Pangeran Ramos bertingkah aneh, dan sekarang ia malah bermimpi pria itu meninggalkannya.
“Selamat Tuan Putri,” senyum Dokter Wo.
Semua merasa bingung mendengar ucapan dokter muda itu.
Dokter Wo tersenyum dan menyampaikan berita kalau Putri Rakia sedang hamil. Semuanya tertegun mendengar kabar itu. Kaisar hendak menghubungi Raja Rivazreich.
__ADS_1
“Tidak! Jangan beritahu apa pun! Aku ingin memberi mereka kejutan,” senyum Putri Rakia.
Namun, perasaannya tetap tidak enak.
“Rakia, aku sudah sembuh. Sebaiknya Anda kembali ke Inggris bersama Dokter Wo dan sampaikan kabar baik ini kepada mereka,” kata Permaisuri.
Tanpa menunda waktu lagi, Putri Rakia pamit kepada semuanya begitu juga Dokter Wo.
......................
Bandara
Dokter Wo melihat notif ponselnya dan tertegun di tempatnya. Ia membengkap mulutnya dengan mata berkaca-kaca, sambil melihat Putri Rakia yang menghampiri tempat duduknya.
“Kamiya-kun, kenapa kau hanya diam? Sini duduk,” ajak Putri Rakia.
Putri Rakia mengerutkan dahi. “Kau menangis?”
“Ahaha, tidak Tuan Putri. Saya hanya kelilipan saat masuk tadi,” jawab Dokter Wo.
Bagaimana aku memberitahunya? Tuan Putri terlihat sangat senang dengan kehamilannga. Kurasa dia akan sangat hancur jika mengetahui hal ini, kata dokter Wo dalam hati.
......................
9 jam kemudian…
Sebuah mobil berhenti di depan pintu teras utama istana. Muncul sosok Dokter Wo dan Putri Rakia menuruni mobil.
“Aneh. Kenapa istana sangat sepi?” bingung Putri Rakia.
Saat menaiki tangga menuju ke lantai 2, Putri Rakia terhenti begitu melihat semua pelayan dan prajurit ternyata berkumpul di depan kamar Pangeran Keempat.
“Apa yang terjadi?” tanya Putri Rakia bergegas.
Ia pun tiba, membuat semua pandangan menuju ke arahnya.
Putri Rakia terbelalak melihat semua orang menangis. Pandangannya menuju ke kasur melihat Pangeran Ramos masih tertidur.
“Kenapa semua orang berkumpul dan menangis? Kenapa tidak membangunkan Ramos?” tanya Putri Rakia.
Putri Yuriki dan Putri Ukii menghampiri Putri Rakia. Wanita itu meminta penjelasan dari kedua kakaknya. Namun, kedua wanita tadi hanya memeluknya sambil terisak.
“Lepaskan. Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku? Yang Mulia, Pangeran Shinsuke, Putri Kagura, Para Pangeran dan kedua kakakku, kenapa kalian hanya diam?” tanya Putri Rakia mundur.
__ADS_1
Tubuhnya sampai menabrak Dokter Wo. Pria itu memegang bahu Putri Rakia. “Tuan Putri harus tegar. Pangeran Keempat telah meninggal.”
Deg!