My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 77 Penculikan Part 3


__ADS_3

Srek!


Rakia terpaku saat bagian bahu seragam pelayannya dirobek dalam sekejap. Matanya mengarah ke bahunya sendiri yang terekspos itu, lalu beralih ke arah 3 pria tadi.


Hen-tikan, gemetarnya dalam hati dengan mata memerah.


Srek! Srek!


Rakia memejamkan mata sehingga butiran air matanya terjatuh saat bagian dada dan bawahan seragamnya telah robek dengan perasaan gemetar hebat bukan main.


Pangeran Rui memalingkan wajahnya tak kuat menyaksikan hal itu.


‘’Tatap dia!’’ seru Mezool mengarahkan kepala Pangeran Rui ke Rakia.


Rakia membuka matanya menatap Mezool yang menahan kepala Pangeran Rui yang juga menangis.


Rui, hiks … Hiks … Tolong aku, tangisnya dalam hati.


‘’Hiks, hiks, hiks … Maaf Rakia hiks ... Aku tidak berdaya,’’ tangis Pangeran Rui.


Mezool yang melihat itu sampai tertawa terbahak-bahak. ‘’Astaga, aku jadi tersentuh. Kalau adegan ini sampai dibuat film, kurasa para penonton akan menangis juga. Humphehe, hahahaha!’’


Mata Rakia membulat besar merasakan sentuhan tangan di bahu, perut dan pahanya lalu menjerit dalam hati.


Tidak … Tidak! Tidak!!


Brough!


Semua langsung menoleh ke arah pintu yang telah hancur itu.


‘’Ka-Kakak Ramos?’’ tatap Pangeran Rui.

__ADS_1


‘’Kenapa Pangeran Keempat bisa ada di sini?’’ habis pikir Mezool.


Rakia melihat pria itu masuk.


Pangeran Ramos melotot melihat keadaan Rakia yang sangat buruk, terutama sentuhan tangan dari ketiga pria mabuk itu.


‘’Beraninya kalian menyentuh wanitaku,’’ ucapnya tertahan.


Ia menghampiri ketiga pria mabuk dengan tatapan membunuh. Tangannya terlulur ke dalam saku blazer.


‘’Oh, siapa ini? Datang mengganggu sa—‘’


Dor! Dor! Dor!


Rakia tertegun melihat 3 pria mabuk tadi terkapar setelah menerima tembakan. Ia menatap Pangeran Ramos yang menekuk lututnya untuk melepaskan lakban hitam.


‘’Ramos,’’ panggilnya dengan butiran air mata.


Puluhan pengawal langsung mengepung, membuat Pangeran Ramos berdiri.


Kondisi Ramos sangat tidak baik, jika dia berkelahi, maka ... Tidak, jangan sampai itu terjadi, kata Rakia dalam hati.


Pangeran Ramos berbalik dengan wajah dingin, menyebabkan suasana serasa memiliki tekanan berat. ‘’Zettai yurusenai(Takkan kumaafkan).’’


Perkelahian dimulai, dan sebagian dari mereka sudah terkapar di tanah setelah menerima pukulan. Ini pertama kalinya Pangeran Rui melihat kakaknya hilang kendali, terutama Rakia. Pangeran Ramos seolah-olah seperti iblis yang sedang lapar dan tidak ada hentinya untuk membunuh.


Bugh! Bugh! Bugh!


Pangeran Ramos hendak melayangkan pukulan keempat, akan tetapi rasa sakit langsung menyerang dadanya.


Deg!

__ADS_1


Ia terdiam di tempatnya, membuat semua orang bingung.


Brack!


‘’Ramos!’’ seru Rakia.


Brack!


Sekali lagi Pangeran Ramos memuntahkan darah. Pangeran Rui yang melihatnya terpaku.


‘’Kenapa malah diam?! Habisi selagi dia melemah!’’ seru Mezool.


Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!


‘’Akh!’’ ringis Pangeran Ramos menerima pukulan dan tendangan.


Rakia menangis tanpa berdaya. ‘’Berhenti, hiks, hiks!’’


Mezool melangkahkan kakinya menghampiri Pangeran Ramos. ‘’Hentikan!’’


Pandangannya menuju ke arah Rakia. ‘’Rui, lihatlah kebenaran di depan matamu. Kau menangisi Rakia karena dia adalah wanita yang kau cintai. Tapi wanita ini malah menangisi pria lain di depanmu.’’


Pangeran Rui menatap Rakia yang memang benar menangisi kakaknya. Perasaannya sangat sakit, bahkan ini sudah kesekian kalinya. Tapi ia tetap tidak menyerah untuk mengejar Rakia.


‘’Uhuk!’’ batuk Pangeran Ramos lemah.


Sepertinya ada yang aneh dengan Pangeran Keempat. Sejak tadi tidak ada satu pun pengawalku yang menyentuhnya, lalu kenapa dia bisa muntah darah? Stt, kata Mezool dalam hati.


Tapi mendengar tangisan Rakia, membuatnya tersadar dan menghampiri wanita itu. ‘’Sulit dipercaya, Pangeran Keempat membunuh ketiga pria mabuk itu tanpa belas kasih hanya demi pelayan rendah ini.’’


‘’Memangnya siapa dirimu dasar sampah?’’ lanjut Mezool dengan mata memicing.

__ADS_1


__ADS_2