My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 34 Tidak Peka


__ADS_3

"Jika memang pernah bertemu kenapa aku tidak mengingatnya?" gerutu Rakia.


Tiba-tiba terdengar suara biola di sekitar taman membuatnya mencari sumber suara tersebut. Ia menyusuri jalan sampai melihat sosok yang memainkan biola.


Deg!


Lagu ini, Scarborough fair, kata Rakia dalam hati.


"Eh? Aku kenapa? Apakah hanya mendengar lagunya aku menangis seperti ini? Yang benar saja. Haha mungkin kelilipan saat menuju kemari," kata Rakia mengusap matanya.


Tapi rasanya benar-benar sakit sampai di sini, kata Rakia dalam hati sambil meremas dadanya.


Rakia hendak menghampiri sosok yang memainkan biola itu, tapi entah kenapa kakinya terasa berat. Ia menggelengkan kepala dan berbalik.


"Lebih baik aku kembali saja daripada merasa tidak nyaman seperti ini."


......................


Kamar Pangeran Kelima


"Pria itu ke mana lagi? Rui? Rui!"


Ceklek!


Muncul Pangeran Rui mengusap kepalanya dengan handuk setelah mandi.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya pria itu.


"Aku memanggilmu dari tadi dan kau tidak menjawab, kukira kau menyelinap keluar lagi, dan apa itu? Tubuhmu masih panas, kenapa sudah mandi?"


"Mm~ mencemaskan diriku, ya?"


"Sudahlah, aku ingin duduk."


"Rakia?"


"Mm?"


"Kau tidak melihatku yang selesai mandi?"


"Aku melihat, memangnya kenapa?"


"Kau ini pelayan pribadiku, maka dari itu lakukan pekerjaanmu."


"Kau bilang tidak perlu bicara formal saat hanya ada kita berdua."

__ADS_1


"Aku memang mengatakan hal itu tapi tidak pernah bilang berbuat sesukamu."


Rakia menghela nafas kasar. "Lalu apa maumu?!"


"Bantu aku memakai piyama."


"Woah, kau benar-benar ingin membuatku susah, kau bisa mengenakannya sendiri."


"Pelayan tetap pelayan."


"Aku ingin istirahat, jangan gang—"


Tunggu? Kalau aku membantunya berarti aku bisa mengetahui apakah ada bekas luka bakar di punggungnya, sadar Rakia dalam hati.


"Di mana piyamamu?" tanya Rakia antusias.


"Kau seperti ini membuatku curiga. Kau ingin melakukan sesuatu padaku, kan?" tanya Pangeran Rui menutupi tubuh atasnya dengan handuk.


"Aku bukan wanita yang seperti kau pikirkan!" kesal Rakia.


Setelah jubah handuk mandi pria itu terlepas sampai punggung, tiba-tiba lampu padam.


Rakia memandang punggung Pangeran Rui dengan kecewa karena tidak bisa melihat apa pun.


Rakia meraba-raba tangannya mengambil bawahan piyama.


"Lebih baik kau memakainya dulu."


"Kenapa listriknya tiba-tiba padam seperti ini? Aku sudah memakainya."


"Ulurkan tanganmu baru kupakaikan atasannya."


Rakia mulai mengancing dari bawah. Saat tiba di kancing paling atas lampu kembali menyala.


Keduanya bertatapan dalam jarak yang agak dekat membuat mereka memalingkan wajah bersamaan.


"Sudah kulakukan, aku akan kembali ke kamarku."


Pangeran Rui hanya merona.


......................


Kamar Rakia


"Eys, karena lampunya tiba-tiba padam, aku jadi tidak melihat apakah ada bekas luka bakar di punggungnya. Selain itu, kenapa lampunya menyala di waktu yang tidak tepat?!"

__ADS_1


......................


Hari berikutnya...


Kamar Pangeran Kelima


"Kau mengatakan apa?" tanya Pangeran Rui setelah Rakia menceritakan tujuannya ke istana ini.


"Aku akan menikah dengan pria yang sudah melindungiku."


"Kau ingat insiden itu, berarti...."


"Makanya aku menjalani hukuman ini agar mencari pria itu."


"Eh, tadi kau bilang akan menikah dengan pria yang melindungimu?"


"Aku tidak mengenali wajahnya jadi masih men—"


"Aku sudah kenyang," kata Pangeran Rui memotong ucapan Rakia.


"Ada apa dengannya?" bingung Rakia melihat pria itu menuju kamar mandi


Beberapa menit kemudian...


"Kau akan keluar?" tanya Rakia.


"Seperti yang kau lihat. Aku juga sudah sembuh."


"Biar kuban—"


"Berbaliklah."


"Eh?"


"Tidak perlu membantuku, aku bisa sendiri."


Rakia membalikkan badan.


"Beberapa hari ini aku tidak akan pulang jadi tidak perlu menungguku," kata pria itu meraih mantel panjang lalu memakainya.


"Maksudmu kau berada di luar selama beberapa hari?" tanya Rakia.


"Ya, aku pergi."


Rakia mengerutkan dahi. "Apa hanya perasaanku saja? Dia terlihat sedang marah. Haa, jadi gagal melihat punggungnya lagi."

__ADS_1


__ADS_2