
Ruang Pribadi Raja
Panglima menatap Raja Rivazreich setelah dirinya mendapat panggilan untuk menghadap. ‘’Yang Mulia memanggil hamba?’’
Raja Rivazreich hanya diam, membuat Panglima sedikit gugup merasakan aura mengintimidasi.
‘’Ya-Yang Mullia?’’ panggil Panglima.
‘’Kau tahu kenapa aku tiba-tiba memanggilmu?’’ tanya Raja Rivazreich.
Panglima menunduk. ‘’Tidak Yang Mulia, apakah terjadi sesuatu?’’
Pastikan Yang Mulia menghapus keluarga Mezool. (Raja Rivazreich teringat)
‘’Kau adalah orang kepercayaanku dari dulu sampai sekarang, dan jasamu sangat memiliki pengaruh terhadap kerajaan ini. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku, Shewfelt von Rivazreich sebagai Raja Rivazrech mencabut kedudukanmu sebagai Panglima Kerajaan dan menghapus marga keluargamu.’’
Panglima tertegun mendengar ucapan Raja. ‘’Eh? Kenapa Yang Mulia melakukan hal itu kepada hamba? Selama ini hamba mengabdikan diri terhadap kerajaan ini dan tidak melakukan kesalahan. Apakah ini balasan atas jasa hamba?’’
Raja Rivazreich hanya diam.
‘’Hamba tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hanya mendengar panggilan untuk menghadap dan sekarang kedudukan dan marga hamba dicabut. Apa maksud Yang Mulia?’’ bingung Panglima.
‘’Salahkan sendiri putrimu yang telah melakukan kejahatan,’’ kata Raja Rivazreich.
Dahi Panglima berkerut. ‘’Kejahatan? Yang Mulia mengenalnya sejak kecil, jadi untuk apa putri hamba melakukan kejahatan? Dia hanya merayakan ulang tahun kemarin dengan hadirnya 12 Pangeran, apakah itu kejahatannya?’’
Melihat kediaman Raja membuat Panglima habis pikir. ‘’Hamba benar-benar tidak mengerti kenapa Yang Mulia tiba-tiba menarik kedudukan dan menghapus marga hamba dengan menjadikan Mezool sebagai alasannya. Tapi, Yang Mulia ingin mencabut kedudukan dan marga hamba saya masih memakluminya, tapi jangan membawa nama pu—‘’
Bugh!
__ADS_1
‘’Putrimu berusaha melucuti Putri Ketiga Helios! Bukan hanya itu, dia juga melibatkan Pangeran Kelima, dan menyuruh bawahannya memukuli Pangeran Keempat, apakah itu masih belum membuktikan kejahatannya?!’’ marah Raja Rivazreich.
Kaki Panglima tiba-tiba melemah, membuatnya jatuh terduduk. ‘’Ti-Tidak mungkin.’’
‘’Aku masih berbaik hati dengan menghapus marga keluargamu. Kalau Kaisar Helios sampai tahu masalah ini, keluargamu tidak hanya dibantai semua, tapi tercipta perang antara 2 Kerajaan dan aku tidak akan membiarkan bencana itu terjadi hanya karena keegoisan putrimu!’’ marah Raja Rivazreich.
Raja berdiri sambil berlalu melewati Panglima. ‘’Mulai sekarang, seluruh marga keluarga akan dihapus, dan tidak ada yang akan mengingatnya.’’
Panglima terpaku dengan wajah ngerinya. ‘’Mezool, apa yang kau lakukan?’’
‘’Mori?’’ panggil Raja Rivazreich.
‘’Iya, Yang Mulia?’’ jawab Mori.
‘’Sampaikan ke media mengenai hal ini!’’ perintah Raja.
......................
Kediaman Panglima
Mezool hanya duduk menunggu, sedangkan ibunya mondar-mandir sejak tadi.
‘’Kenapa ayahmu belum pulang, ya? Apakah dia menerima tugas dari Yang Mulia?’’
Ceklek!
Keduanya menoleh melihat Panglima datang dengan kepala menunduk.
‘’Akhirnya kau pulang. Kupikir sesuatu terjadi karena kau sangat lama. Jadi kenapa Yang Mulia memanggilmu?’’ tanya sang istri.
__ADS_1
Panglima menatap Mezool membuat wanita itu berdiri.
‘’A-Ayah?’’ tatap Mezool.
Plak!
‘’Sayang, kenapa kau menampar Mezool?!’’ pekik istrinya.
Mezool menangis setelah ayahnya berulang kali melayangkan pukulan, meskipun ibunya berusaha memisahkan mereka.
‘’Hentikan! Kenapa memukul Mezool seperti ini?!’’
Pria itu hilang kendali dan tanpa ampun memukuli Mezool, sampai ia menodongkan pistol ke arah putrinya sendiri. Mezool terpaku dengan butiran air mata.
‘’Vicky! Apa kau sudah gila, dia putri kita!’’ seru sang istri.
Panglima menatap istrinya dengan wajah ngeri. ‘’Dia menghancurkan semuanya.’’
Mezool menatap ibunya yang menyusul suaminya ke ruang dapur. Wajah dan tubuhnya terasa sakit karena pukulan tadi. ‘’Ayah pasti sudah mengetahuinya karena itulah dia sangat marah. Cih, ini semua gara-gara Rakia.’’
......................
Malamnya, Mezool kembali turun karena sudah waktunya makan malam. Tapi, sejak siang tadi ia tidak melihat kedua orangtuanya, membuatnya berjalan ke dapur.
Deg!
Matanya membulat besar melihat ayah dan ibunya terkapar bergelimang darah.
Darah kedua orang itu bahkan mengalir dan menyentuh kaki Mezool. Terlihat jelas urat-urat di mata wanita itu menyaksikan pemandangan tersebut.
__ADS_1