
Kaisar Helios hanya diam, sedangkan Pangeran Ramos masih bersabar menunggu jawaban. Pangeran Kairi yang melihat hal itu mengepalkan tangan.
‘’Maaf menyela pembicaraan Yang Mulia dan Pangeran Keempat. Yang Mulia, saya hanya ingin bilang kalau Pangeran Keempat juga sedang menjalani perawatan. Tapi demi melihat kondisi Putri Ketiga, dia datang kemari. Jika Yang Mulia tidak keberatan, sebaiknya kita memberikan mereka berdua privasi. Ini juga sudah hampir pagi, Yang Mulia lebih baik beristirahat,’’ kata Pangeran Kairi.
‘’Baiklah, 30 menit! Setelah itu Pangeran Keempat jugaharus berisitirahat, Pangeran Pertama akan menuntun Anda ke salah satu kamar, karena kesehatan Anda juga sedang buruk,’’ kata Kaisar Helios.
Pangeran Ramos tersenyum. ‘’Terima kasih Yang Mulia, tapi sebelumnya saya meminta maaf. Setelah melihat kondisi Putri Ketiga, saya akan kembali dan tidak menginap di sini. Saya sudah berjanji kepada Raja Rivazreich, Yang Mulia.’’
Kaisar Helios, Pangeran Kairi dan pengawal Maru terbelalak.
‘’Anda baru saja sampai. Butuh 9 jam di perjalanan, sedangkan kondisi Anda begitu tidak baik,’’ kata Pangeran Kairi.
‘’Saya bisa beristirahat di pesawat jet pribadi,’’ jawab Pangeran Keempat.
‘’Baiklah kalau begitu, saya menghargainya,’’ kata Kaisar Helios.
Ceklek!
Semuanya meninggalkan kamar Putri Ketiga. Pangeran Ramos menatap Putri Rakia dengan tatapan sendu. Ia pun duduk di samping wanita yang dicintainya terbaring itu sambil menggenggam tangannya.
‘’Rakia, aku juga sama terlukanya saat Paman memberitahuku mengenai pernikahan kita yang dibatalkan. Tapi yang lebih membuatku lebih terluka, kenapa kau nekat bunuh diri? Apakah kau ingin menyiksaku?’’ tanya Pangeran Ramos dengan nada suara yang parau.
__ADS_1
Setetes air terjatuh tepat di punggung tangan Putri Rakia. Ya, butiran bening yang tidak lain adalah air mata Pangeran Ramos.
Pria itu menggenggam tangan Putri Rakia dengan erat. ‘’Bahkan jika akhir bulan ini hidupku akan berakhir, aku akan melawannya sekuat tenaga demi dirimu, agar kita berdua resmi menikah. Tapi jangan lakukan tindakan bodoh seperti ini.’’
Dengan tangan gemetar, Pangeran Ramos terisak di depan wanita itu. ‘’Kumohon, sadarlah. Sadarlah Rakia, aku ada di hada—‘’
Deg!
Pangeran Ramos meringis karena rasa sakit tiba-tiba menyerang dadanya. ‘’A-Akh!’’
Bugh!
Ia meringis yang sudah terjatuh ke lantai. ‘’Akh! Sakit, sangat sa—‘’
Brack!
Brack!
Sekali lagi Pangeran Ramos memuntahkan darah. ‘’Ra-kia, haa … Huha….’’
Ceklek!
__ADS_1
‘’Pangeran Keempat!’’ seru Pangeran Kairi dan Pengawal Maru.
Pengawal Mori langsung berlari menghampiri. ‘’Pangeran Keempat! Anda memuntahkan darah, sebaiknya kita segera pulang.’’
‘’Uhuk! Uhuk!’’ batuk Pangeran Ramos meringis bukan main.
Pangeran Kairi terpaku melihat hal itu. ‘’Ya Tuhan. Ha! Dokter Wo bilang akan kembali hari ini, sepertinya masih sempat menghubunginya.’’
‘’Pengawal Mori, jangan pulangkan Pangeran Keempat dulu! Dia akan mendapat masalah jika Raja Rivazreich dan semua orang sampai melihatnya pulang dalam kondisi seperti itu!’’ perintah Pangeran Kairi.
Pengawal Mori tidak berdaya dan hanya menurut. ‘’Maaf telah merepotkan Pangeran, hamba meminta maaf.’’
‘’Tidak apa-apa,’’ kata Pangeran Kairi.
......................
Tidak lama kemudian, Dokter Wo datang. ‘’Yang Mulia apakah terjadi sesuatu dengan Putri Ketiga? Anda sampai menghubungi saya di jam segini.’’
‘’Bukan Putri Ketiga, tapi Pangeran Keempat!’’
Dokter Wo terbelalak. ‘’Eh? Pa-Pangeran Keempat?’’
__ADS_1
‘’Cepat segera tangani dia!’’ perintah Pangeran Kairi.
‘’Baik Pangeran!’’ kata Dokter Wo.