
Minggu pagi tiba…
Ceklek!
Putri Nikki masuk dengan puluhan pelayan yang membawa berbagai dress, aksesoris dan perhiasan. Tapi, ia terbelalak saat melihat kakaknya masih tertidur. ‘’Eh, Kakak Rakia....’’
Ia menghampiri kasur dan membangunkan wanita itu. ‘’Kakak Rakia kenapa masih tidur? Kakak lupa kalau hari ini kita akan pergi ke pameran?’’
Putri Rakia membuka matanya perlahan dan melihat semua pelayan yang berdiri. Ia bangkit sambil menghela nafas. ‘’Nikki, ini masih pagi, kenapa harus terburu-buru?’’
‘’Aku tahu ini baru jam 7 pagi, tapi butuh proses lama untuk mendandani Kakak Rakia,’’ kata Putri Nikki.
‘’Kenapa harus lama? Aku tinggal memakai pakaian formal sesuai acara pameran itu, apanya yang bikin lama?’’
Putri Nikki mendesak terus dan tidak mau diam, membuat Putri Rakia menuju ke kamar mandi.
‘’Cepat bantu Putri Ketiga membersihkan dirinya!’’ perintahnya.
......................
Kamar Mandi
Para pelayan melayani Putri Rakia, melakukan spa dan perawatan lainnya sebelum mandi.
Putri Rakia membuka jubah handuk mandi dan memasuki kolam mandi susu yang dipenuhi kelopak Damask Rose. Ia hanya mengizinkan para pelayan menyentuh tangan dan kakinya, selain itu dia sendiri yang membersihkan tubuhnya.
Setelah itu, Putri Rakia keluar dan ditarik langsung oleh Putri Nikki untuk duduk di depan meja rias. Putri Rakia hanya pasrah melihat perlakuan salah satu adiknya ini.
30 menit kemudian…
‘’Nikki, kita hanya akan menghadiri acara pameran, kenapa aku harus berdandan selama ini?’’ tanya Putri Rakia.
‘’Jangan khawatir. Apa pun yang Kakak Rakia kenakan, semuanya terlihat sempurna. Meskipun ini hanya make up natural, tapi harus terlihat sempurna tanpa ada sedikit kesalahan,’’ kata Putri Nikki.
Begitu make up selesai, Putri Nikki mulai memilih set baju yang cocok untuk kakaknya. Cukup lama pemilihan set baju karena Putri Rakia harus memakainya satu persatu untuk dilihat.
‘’Aku sudah lelah memakai dan melepas set ini berulang kali. Berikan set itu saja padaku, aku akan mengenakan yang itu,’’ kata Putri Rakia.
1 jam kemudian…
Kedua wanita itu tiba di teras utama dengan Putri Rakia yang hanya menghela nafas.
Kalau tahu Nikki akan menurut begitu saja dengan apa yang kukatakan, seharusnya sejak tadi aku sendiri yang memilih pakaianku, tanpa meladeninya memilih puluhan set tadi, kata Putri Rakia dalam hati.
Seorang pria membuka pintu limousine. ‘’Silahkan, Tuan Putri.’’
‘’Nikki, kau tidak mengajak yang lainnya?’’ tanya Putri Rakia sebelum memasuki mobil.
‘’Um, mereka semua sibuk, karena itulah aku mengajak Kakak Rakia untuk menemaniku,’’ kata Putri Nikki.
Putri Rakia mengerutkan dahi. ‘’Benarkah? Sejak kapan mereka semua sibuk seperti ini? Aku tidak menyangka setelah kepulanganku kalian memiliki kesibukan.’’
‘’Hehe, em, ya,’’ kata Putri Nikki.
‘’Tapi, apakah Ayahanda tahu hal ini? Kau tahu sendiri Ayahanda akan marah kalau kau berbuat seenaknya,’’ kata Putri Rakia.
__ADS_1
‘’Jangan khawatir. Ayahanda sendiri yang mengutus ka— ah maksudku Ayahanda sudah memberi izin untuk menghadiri pameran itu.’’
Putri Rakia semakin curiga melihat reaksi adik perempuannya itu. ‘’Kau sedang tidak merencanakan sesuatu, kan?’’
‘’Ahaha. Kakak Rakia kenapa berpikir seperti itu? Aku murni ingin mendatangi acara pameran ini,’’ jawab Putri Nikki.
‘’Baiklah,’’ kata Putri Rakia masuk ke dalam mobil.
Putri Nikki yang berdiri di luar langsung menghela nafas lega sambil mengusap dadanya.
......................
Pesawat Jet Pribadi
‘’Rakia … Bagaimana kabarnya sekarang, ya?’’
Orang yang memiliki kejeniusan dalam lukisan akan diundang langsung untuk menghadiri acara-acara penting dan berkelas yang berkaitan dengan seni. Hal inilah yang dilakukan Pangeran Zelho saat ini. Di umurnya 5 tahun, para seniman terkenal selalu mengundangnya datang ke acara-acara penting.
Pangeran Zelho dikenal sebagai 'Pangeran Monokrom', itu karena sejak kecil ia hanya melukis dengan 2 warna, yakni hitam dan putih. Tapi, semenjak kedatangan Rakia, ia mulai mewarnai lukisannya, dan itu semakin membuatnya terkenal, meskipun ia masih melukis dengan tema monokrom.
......................
Pameran
Limousine itu berhenti hingga 2 seorang putri menuruni mobil itu.
‘’Nikki, sejak kapan kau menyukai acara pameran seperti ini?’’ tanya Putri Rakia.
Putri Nikki terbelalak. ‘’Sejak....‘’
‘’Sejak berkunjung ke Kerajaan Rivazreich,’’ bohong Putri Nikki.
‘’Jadi kau bertemu dengan Pangeran Zelho?’’
Putri Nikki mengangguk menjawab pertanyaan itu. ‘’Ya. Aku benar-benar takjub melihat semua lukisan yang ada di dalam kamarnya, terutama lukisan Damask Rose yang sama dengan milik Kakak Rakia.’’
‘’Lukisan Damask Rose yang sama dengan milikku?’’ tanya Putri Rakia bingung.
Oh tidak, aku tanpa sadar keceplosan, kata Putri Nikki dalam hati.
Putri Rakia mengerutkan dahi.
"Kau yang melukisnya?"
"Kau suka, kan? Apalagi Damask Rose adalah bunga favoritmu."
"Tapi kenapa aku merasa lukisannya hanya setengah?"
"Hem! Kau ini sama sekali tidak mengerti arti seni." (Putri Rakia teringat)
Putri Rakia tersenyum remeh.
Jadi begitu ... Sekarang aku mengerti kenapa dia memberiku lukisan yang terlihat setengah, ternyata dia menyimpan potongan lukisan setengahnya lagi, ucapnya dalam hati.
Putri Nikki yang melihat kakaknya tersenyum sambil menunduk semakin yakin dengan dugaan mengenai kakaknya dan pria itu saling menyukai.
__ADS_1
Kakak Rakia akhirnya tersenyum. Sepertinya memang benar kalau Kakak Rakia dan Pangeran Zelho saling menyukai. Tapi karena Kakak Rakia sudah pulang, dia menjadi sedih. Lalu terlibat dengan dua saudara lain Pangeran Kesebelas. Bersabarlah sedikit lagi, kami akan mempertemukan kalian berdua, kata Putri Nikki dalam hati.
......................
Kedua wanita itu menikmati acara pameran sampai akhirnya mereka terpisah.
‘’Tadi, Nikki pergi ke mana, ya?’’
Karena tidak fokus ke depan, dan juga ada seseorang yang sibuk dengan ponselnya, akhirnya kedua orang itu bertabrakan.
Bugh!
‘’Oh, maaf, aku tidak se—‘’ ucapan sosok itu terhenti.
Matanya membulat besar. ‘’Rakia?!’’
‘’Ze-Zelho?!’’ pekik Putri Rakia sama kagetnya.
Sejenak, Pangeran Zelho terpesona dengan penampilan wanita itu yang terlihat cantik elegan, apalagi sentuhan make up natural membuatnya lebih berkelas.
‘’Kenapa melamun?’’ tanya Putri Rakia.
‘’Aku baru pertama kali melihatmu berdandan seperti ini,’’ jawab Pangeran Zelho.
Putri Rakia tersenyum dengan sebelah alis terangkat. ‘’Cantik, kan? Dibandingkan dengan penampilanku yang memakai seragam maid saat di—‘’
‘’Kau mencurinya? Cepat kembalikan kepada pemilik toko baju itu sebelum kau ketahuan,’’ kata Pangeran Zelho memotong ucapan wanita itu.
‘’Ha?!’’ seru Putri Rakia tidak terima.
‘’Aku akan menyuruh pengawalku untuk member—‘’
Duk!
Putri Rakia menjitak kepala pria itu.
‘’Hei! Jangan lupa, meskipun kau sudah bukan pelayan pribadi kami, aku ini tetap seorang Pangeran dan juga keturunan Raja,’’ kesal Pangeran Zelho.
‘’Memangnya hanya kau yang keturunan Raja? Aku ini sebenarnya Putri Ketiga Kerajaan Helios,’’ kata Putri Rakia.
Pangeran Zelho mungkin tersedak jika saja ia sedang minum. Ia memegang dahi Putri Rakia. ‘’Apakah kau sudah tidak waras setelah menghadapi banyak masalah? Dengar, namamu dan Putri Ketiga Kerajaan Helios mungkin memang sama. Tapi bukan berarti kau harus mengaku seperti itu. Kalau orang mendengarnya, kau akan ditangkap dan diberi hukuman.’’
‘’Zelho ... Aku baru saja pergi beberapa saat dan kau sudah secerewet ini,’’ kata Putri Rakia dengan raut wajah bodohnya.
‘’Humph! Dan semenjak kau pergi, kau menjadi tidak waras seperti ini,’’ kata Pangeran Zelho.
Kedua orang itu saling bertatapan dengan urat-urat di dahi mereka yang sudah menegang.
‘’Putri Ketiga, Putri Nikki menyuruh kami menyampaikan agar Anda menunggunya sebentar karena menemui tamu penting.’’
Pangeran Zelho terbelalak, ia menatap Putri Rakia yang sudah mengkodenya dengan kedua alis naik turun.
‘’Baiklah, sambil menunggu Putri Keempat, apakah Pangeran Kesebelas memiliki waktu luang?’’
Pria berambut pink itu hanya diam membisu.
__ADS_1