My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 30 Demam


__ADS_3

Lokasi Photoshoot


Kamera beberapa kali berbunyi mengambil gambar. Tanpa sengaja, Pangeran Rui menatap ke langit yang terlihat mendung.


......................


Kamar Rakia


Melihat awan begitu gelap membuat Rakia membuka jendela kamar. Tak lama kemudian, hujan mulai turun sedikit demi sedikit.


"Hujan, ya?" tatap Rakia kemudian mengingat seorang bocah laki-laki menggendongnya di tengah hujan.


"Jika saja aku mengenali wajahnya waktu, aku tidak perlu menjalani hukuman ini untuk mencarinya. Aku juga tidak mengerti kenapa Ayahanda tidak ingin memberitahuku? Padahal, Ayahanda tahu sendiri bagaimana aku sudah lama mencarinya sejak kecil."


......................


Lokasi Photoshoot


Para staff langsung berteduh saat hujan mulai turun. Tak lupa, mereka menyelimuti Pangeran Rui.


"Mohon maaf, sebaiknya pengambilan gambar untuk Pangeran kita tunda saja dulu. Hujan turun begitu deras, bagaimana kalau Pangeran jatuh sakit?" kata pimpinan studio.


Pangeran Rui tidak mendengar, sebab dirinya mengingat seorang anak laki-laki menggendong anak perempuan seumurannya di tengah hujan.


Insiden itu, kata Pangeran Rui dalam hati.


"Pangeran? Pangeran? Anda baik-baik saja?"


Pangeran Rui tersadar. "Tetap lanjutkan pengambilan gambarnya. Kebetulan sedang hujan aku ingin terlihat alami dengan airnya."


Semua melotot melihat Pangeran Rui keluar dari tenda, dan malah hujan-hujanan, membuat para staff langsung menyusulnya.


Hujan turun sampai malam, membuat Rakia keluar.


......................


Kamar Pangeran Kelima


Ceklek!

__ADS_1


Rakia melihat isi kamar itu gelap gulita sambil menuju ke arah saklar lampu.


Klek!


Ia tidak melihat keberadaan Pangeran Rui. "Masih di luar, ya?"


Saat itu juga Pangeran Rui datang dengan pakaian yang basah kuyup.


"Pangeran Rui? Kenapa basah kuyup seperti ini?" tanya Rakia cemas.


"Tidak apa-apa. Hanya sekedar pengambilan gambar. Kebetulan hujan turun jadi aku berniat menyelesaikan pemotretannya dengan tema hujan," jawab pria itu.


"Eh? Tapi sejak siang hujan belum reda sampai sekarang. Jangan bilang Anda melakukan pemotretan selama itu?" tebak Rakia.


"Sudah aku bilang tidak apa-apa. Ini hanya hujan, tidak membuatku sampai mati. Selain itu apa yang kau lakukan di kamarku? Bukankah aku menyuruhmu agar tidak perlu menungguku?"


"Saya hanya sekedar mengecek karena hujan tidak reda sejak siang."


"Terima kasih, kau bisa kembali ke kamarmu."


Rakia menurut dan membungkuk sebelum pergi.


......................


Kamar Pangeran Kelima


"Saatnya sarapan," kata Rakia muncul.


Wanita itu heran karena melihat pria itu masih terbaring di kasur, padahal biasanya dia sudah bangun di jam segini. "Pangeran Rui?"


Dilihatnya pria itu sedikit meringis.


"Apakah Anda baik-baik saja?"


Deg!


"Sangat panas!" kaget Rakia setelah memegang dahi pria itu kemudian beralih ke leher.


"Gawat, dia terkena demam," ucap Rakia bergegas keluar tapi sebuah tangan terulur menahannya.

__ADS_1


"Jangan panggil dokter."


"Bagaimana kau bisa sembuh jika tidak meminum obat?!"


"Kumohon," pinta Pangeran Rui.


Rakia diserang kegelisahan dan kebingungan.


"Pikirkan sebuah cara Rakia," ucapnya mondar mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya.


"Ah!" Wanita itu bergegas keluar.


......................


Dapur istana


Rakia mengambil beberapa bahan seperti : yogurt, susu, buah strawberry, dll.


Beberapa jam kemudian...


......................


Kamar Pangeran kelima


"Hanya ini yang bisa kubuat," kata Rakia mencungkil es krim lalu menyuapi Pangeran Rui.


"Ice cream?" bingung pria itu dengan nafas berat.


"Kudengar es krim bisa menurunkan panas tubuh ketika demam."


"Ha? Dari mana kau mengambil kesimpulan seperti itu?"


"Ratu He— maksudku ibuku pernah memberiku es krim saat aku demam, dan benar suhu tubuhku kembali normal. Karena saya bukan dokter, setidaknya saya sudah berusaha semampuku."


Apakah aku tidak salah dengar? Dia baru saja mengatakan Ratu, apakah nama ibunya Ratu? Tapi mana mungkin dia berani menyebut nama ibunya secara langsung, kata Pangeran Rui dalam hati.


Pangeran Rui hanya pasrah menerima suapan Rakia. Setelah menghabiskan es krim, akhirnya Pangeran Rui tertidur.


"Sepertinya sudah tenang," kata Rakia menyelimuti Pangeran Rui.

__ADS_1


__ADS_2