
‘’Goyu terlihat senang melihat kedatanganmu, kenapa kau buru-buru pergi?’’
‘’Kembali ke kamar,’’ jawab Pangeran Ramos berjalan duluan.
‘’Cih, dasar Pangeran berdarah dingin.’’
......................
Kamar Pangeran Ketujuh & Keenam
Rakia memasang raut wajah bodoh. ‘’Aku tidak menyangka akan kembali ke kamar si kembar ini.’’
‘’Sepertinya mereka cukup merepotkanmu,’’ tebak Pangeran Ramos.
‘’Heh, kau tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan padaku.’’
Dari dalam kamar terdengar suara gaduh membuat 2 orang itu saling bertatapan.
‘’Apakah mereka sedang bertengkar?’’ tebak Rakia.
Ceklek!
‘’Aku ingin kau sendiri yang memandikan Optimus!’’ tegas Pangeran Anon.
‘’Sudah aku bilang, aku tidak sengaja menumpahkannya. Lagi pula Optimus sendiri kenapa berada di sekitar kaki meja?’’ balas Pangeran Aron.
‘’Jangan mengambil alasan. Belajarlah bertanggung jawab atas ulahmu!’’ tegur Pangeran Anon.
‘’Bukankah ada banyak pelayan? Kenapa harus aku yang membersihkannya?’’ tanya Pangeran Aron.
‘’Karena kau yang menumpahkan teh sehingga mengenai bulunya,’’ jawab Pangeran Anon.
‘’Aku sudah bilang, aku tidak sengaja!’’
Rakia dan Pangeran Ramos hanya terdiam melihat kelakuan si kembar.
Apakah mereka sedang bersandiwara? Heh, kata Rakia dalam hati sambil memasang raut wajah bodoh.
Pandangannya menuju ke arah bulu Optimus dan cangkir yang terjatuh.
Ah, kurasa tidak. Mereka berdua beneran bertengkar kali ini, pikir Rakia dalam hati.
‘’Apa yang terjadi?’’ tanya Pangeran Ramos.
__ADS_1
Namun, si kembar hanya mengabaikan pria yang berdiri di antara mereka.
‘’Kalian tidak mendengarku?’’ tanya Pangeran Ramos sekali lagi, dan si kembar hanya terus berdebat.
‘’Hei, kalian berdua berhenti ber—‘’
‘’Urusai Baka(Berisik bodoh)!’’ teriak si kembar bersamaan ke arah Pangeran Ramos, lalu kembali berdebat.
Sedetik kemudian, kedua pangeran kembar itu tersadar. Keduanya menolehkan kepala dengan pelan. Rakia yang melihatnya merasa puas, sambil menunggu reaksi Pangeran Ramos.
Si kembar menelan saliva melihat tatapan datar tapi terasa dingin dan menusuk dari Pangeran Keempat.
‘’Hoh~ siapa yang kalian panggil bodoh?’’
‘’Ka-Kakak Ramos?’’
Keduanya terkejut saat Pangeran Ramos mencengkeram kerah leher belakang baju mereka. ‘’Hii!’’
‘’Aku bertanya, siapa yang kalian panggil bodoh?’’ tanya Pangeran Ramos.
‘’Ma-Maaf. Kami kira yang datang adalah seorang pelayan,’’ kata Pangeran Aron.
"Kalian menganggapku pelayan?"
‘’Jelaskan kenapa kalian bertengkar!’’
Ting!
Si kembar terdiam di sofa dengan kepala menunduk.
‘’Kenapa harus berdebat karena masalah kecil?’’ habis pikir Pangeran Ramos.
‘’Aron yang tidak ingin bertanggung jawab,’’ kata Pangeran Anon.
‘’Aku tidak se—‘’ ucapan Pangeran Aron terpotong saat menyadari tatapan Pangeran Keempat.
‘’Baiklah, akan aku bersihkan!’’
Optimus menyalak saat Pangeran Aron menariknya keluar.
‘’Maaf karena Kakak Ramos harus menyaksikan hal memalukan ini,’’ kata Pangeran Anon.
‘’Dasar,’’ cibir Rakia.
__ADS_1
‘’Tapi, kenapa Kakak Ramos tiba-tiba datang?’’
‘’Hanya ingin berkunjung. Ini pertama kalinya aku melihatmu sangat cerewet,’’ kata Pangeran Ramos.
‘’Jika bukan masalah Optimus, mungkin aku hanya mengabaikannya,’’
‘’Pangeran Anon ini sepertinya lebih menyayangi Optimus dibandingkan adik kembarnya,’’ kata Rakia.
‘’Bukan masalah aku lebih sayang atau tidaknya, tapi Aron harus belajar bertanggung jawab atas ulahnya.’’
......................
Beberapa menit kemudian setelah mereka berbincang, Pangeran Aron datang.
‘’Pangeran Aron melakukannya tidak ikhlas,’’ kata Rakia.
‘’Setidaknya sudah kulakukan!’’ kesal Pangeran Aron kemudian tersadar akan keberadaan Pangeran Keempat, membuatnya meminta maaf.
‘’Aron?’’
‘’Ya, Kakak Ramos.’’
‘’Belajarlah bertanggung jawab kalau kau berbuat salah. Anon menyuruhmu karena ingin kau disiplin. Aku menasehatimu bukan sebagai Pangeran Keempat, tetapi sebagai kakak kalian.’’
Si kembar terbelalak sambil menatap kakaknya itu. ‘’Kami mengerti.’’
Deg!
Perasaan ini lagi, ringis Pangeran Ramos dalam hati.
Si kembar berdiri saat Pangeran Ramos dan Rakia hendak pergi. Keduanya membungkuk sekali lagi meminta maaf sampai Pangeran Ramos menjitak kepala mereka.
‘’Jangan bertengkar lagi hanya karena masalah sepele.’’
‘’Ternyata Kakak Ramos tidak menyeramkan seperti yang kita kira,’’ kata Pangeran Anon.
‘’Aku tidak menyangka, sosok yang selama ini kita takuti ternyata memiliki sisi lembut seperti ini,’’ kata Pangeran Aron.
......................
Rakia merasa ada yang aneh.
Kenapa dia selalu buru-buru untuk pergi? Apakah memang hanya ingin cepat kembali ke kamar? Aneh, ucapnya dalam hati.
__ADS_1