My Arrogant Princess

My Arrogant Princess
Bab 70 Saling Menantang


__ADS_3

Beberapa hari berlalu saat Pangeran Ramos selalu mengacuhkan Rakia. Pria itu hanya akan diam jika tidak sengaja bertemu di koridor istana. Tidak mengatakan apa pun dan hanya berlalu.


“Ck! Ramos kenapa, sih? Aku berusaha untuk mengajaknya bicara, tapi dia tetap mengacuhkan diriku. Aku sudah mencoba mengingat apakah ada kesalahan yang tidak kusengajai sampai membuatnya marah seperti ini.”


Rakia menunduk sedih. Dari jauh, terlihat Pangeran Rui yang datang menghampiri.


“Rakia?” panggilnya.


Rakia mendongakkan kepala tanpa bicara.


“Jika terjadi sesuatu, ceritakan kepadaku. Aku akan berusaha membantumu,” senyum pangeran Rui.


“Sungguh?” tanya Rakia dengan raut wajah seperti orang menyerah.


Pangeran Rui mengangguk mantap sambil dirinya duduk di samping wanita itu. “Jadi, apa masalahmu?”


Rakia kembali menunduk. “Ramos mengacuhkanku entah karena apa.”


Senyuman Pangeran Rui langsung luntur.


“Jadi, ini karena Kakak Ramos?” tanyanya dengan raut wajah tidak suka.


Pangeran Rui menunduk sejenak membuat.


Ia menghela nafas dan tersenyum .”Baiklah, serahkan semuanya padaku. Aku akan mencoba untuk berbicara dengan Kakak Ramos.”


Rakia mendongakkan kepala dengan cepat. “Kau serius?”

__ADS_1


“Apakah wajahku terlihat bohong?” tanya Pangeran Rui.


Wajah Rakia langsung berubah menjadi senang. “Terima kasih.”


Pangeran Rui berdiri membuat Rakia juga ikut.


“Kalau begitu, kita bertemu di sekitar kamar Kakak Ramos.”


Rakia mengangguk, dan Pangeran Rui berbalik untuk pergi. Tanpa Rakia sadari, pria itu pergi dengan raut wajah sedih.


......................


Kamar Pangeran Keempat


Sebelum masuk, Pangeran Rui terdiam di depan pintu. Mengingat dirinya dan pria ini tidak pernah berkomunikasi semenjak 19 tahun yang lalu, rasanya sedikit gugup untuk masuk ke dalam.


Padahal mereka berdua sangat akrab sejak kecil, tapi karena perubahan Pamgeran Ramos, keduanya menjadi canggung.


"Shitsurei shimasu(Permisi)."


Pangeran Rui berjalan menghampiri. Kedua pria itu terdiam sambil melontarkan tatapan tidak suka sampai pandangan Pangeran Rui beralih ke botol di atas meja.


Pangeran Ramos yang melihatnya langsung meraih botol itu.


"Kenapa kau datang ke kamarku?" tanyanya mengalihkan pandangan adiknya.


"Aku ingin bicara dengan Kakak Ramos," kata pangeran Rui.

__ADS_1


"Aku ingin istirahat," kata pangeran Ramos cuek.


"Kenapa mengacuhkan Rakia?" tanya pangeran Rui to the point.


Pangeran Ramos langsung menatap adiknya datar. "Aku tidak perlu menjawabnya."


"Memangnya Rakia melakukan kesalahan apa sampai diacuhkan seperti itu?"


"Aku tidak akan mengulangi perkataanku!" tegas pangeran Ramos.


Pangeran Rui menghela nafas. "Ramos Nii-sama, watashi ni shitto shite imasu ka?(Apakah Kakak Ramos cemburu padaku)?"


Melihat tatapan tajam dari kakaknya, bibirnya membentuk senyuman.


"Kalau begitu, Kakak Ramos melihatnya, ya? Kejadian di kamarku waktu itu."


Pangeran Ramos hanya diam.


"Mezool juga melihatnya. Tapi, bisa semarah ini sampai mengacuhkan Rakia, jangan-jangan Kakak Ramos menyukainya," senyum Pangeran Rui meremehkan.


"Kalau itu benar, memangnya kenapa?" tanya Pangeran Ramos.


"Heh, kalau begitu kita berdua adalah rival, tidak! Aku bahkan tidak ingin bersaing dengan Kakak Ramos karena aku tidak akan melepaskan Rakia."


Sebelah alis Pangeran Ramos terangkat sebelum akhirnya tersenyum. "Kuharap kau tidak lupa kalau aku memiliki peran penting terhadap Rakia mengenai insiden itu."


"Kuharap Kakak Ramos juga tidak lupa kalau aku juga berperan penting dalam insiden 19 tahun yang lalu," balas Pangeran Rui tersenyum

__ADS_1


"Aku yang akan menikahinya," kata Pangeran Ramos dengan aura mengintimidasi.


"Takkan kubiarkan. Rakia adalah milikku," kata Pangeran Rui sedingin mungkin.


__ADS_2