
‘’Itadakimasu(Selamat makan).’’
*Itadakimasu adalah ucapan yang dikatakan sebelum mulai makan.
Pagi ini, semua akhirnya sarapan dengan anggota keluarga lengkap. Namun, suasana berbeda dari sebelumnya.
‘’Tidak biasanya putriku diam seperti ini,’’ kata Permaisuri Helios yang ditujukan kepada Putri Rakia.
‘’Yang dikatakan Ibunda benar. Suasana pagi seperti ini seharusnya sudah ribut karena Putri Ketiga. Tapi kali ini dia hanya diam,’’ kata Pangeran Kairi.
‘’Benar-benar tidak seperti biasanya,’’ kata Putri Ukii.
Semua pandangan mata menuju ke arah Putri Rakia yang hanya fokus ke sarapannya.
‘’Kakak Rakia?’’ panggil Pangeran Yuga.
Putri Rakia meletakkan sumpit sambil mengatupkan kedua tangan. ‘’Gochisou sama deshita(Terima kasih atas makanannya).’’
*Gochisou sama deshita adalah ucapan yg diucapkan setelah makan.
‘’Ada apa dengannya?’’ cemas Permaisuri Helios.
......................
Taman Bunga
Putri Rakia berdiri sambil menatap ratusan Damask Rose kesukaannya. ‘’Tidak jauh berbeda dengan taman bunga di Kerajaan Rivazreich.’’
‘’Apakah Tuan Putri ingin hamba memetiknya seperti biasa?’’ tanya salah satu pelayan.
__ADS_1
Wanita itu terdiam untuk sesaat. ‘’Tidak perlu.’’
......................
Koridor Istana
‘’Yang Mulia. Saya merasa Putri Rakia tampak berbeda setelah pulang kemarin,’’ kata Permaisuri.
‘’Apakah mungkin dia masih marah mengenai hukuman yang kujatuhkan kepadanya?’’ tanya Kaisar.
Permaisuri menggeleng pelan. ‘’Sepertinya bukan itu, Yang Mulia. Saya seorang wanita jadi memahami perasaannya. Apalagi dia adalah putriku, dan melihatnya seperti ini mungkin terjadi sesuatu di sana sebelum dia pulang.’’
‘’Apakah sampai membuatnya berubah seperti itu? Kita tahu bagaimana angkuhnya Putri Rakia. Jadi dia pasti bisa mengatasi masalah, tapi kali ini berbeda,’’ kata Kaisar Helios.
‘’Kalau begitu, ada baiknya Yang Mulia bicara dengan Putri Rakia,’’ usul Permaisuri Helios.
......................
Karena cemas akan tingkah Putri Rakia, kelima saudaranya berdiri di depan pintu kamar wanita itu.
‘’Kenapa kita hanya diam?’’ tanya Putri Yuriki.
‘’Ya, ini sudah 8 menit setelah kita berdiri sejak tadi,’’ kata Putri Nikki.
Pangeran Kairi menghela nafas. ‘’Aku sama sekali tidak cemas kalau dia bersikap angkuh. Tapi kalau dia diam seperti ini, aku baru cemas kepadanya."
‘’Saya juga berpikiran yang sama,’’ kata Pangeran Yuga.
‘’Kalau begitu kenapa kita tidak masuk saja untuk menanyakannnya langsung kepada Rakia?’’ tanya Putri Ukii.
__ADS_1
Mereka saling bertatapan dan mengangguk. Pangeran Kairi membuka pintu, tapi saat masuk semuanya melihat kamar itu kosong.
‘’Mungkin dia ada di kamar mandi,’’ kata Putri Yuriki mengecek dan ternyata tidak ada.
‘’Haa, 8 menit kita berdiri di luar kamar yang kosong ini,’’ kata Putri Ukii.
Pandangan Putri Nikki langsung menangkap sebuah lukisan, membuatnya menghampiri lukisan itu. ‘’Eh, lukisan ini tampak tidak asing di mataku.’’
Bukankah itu Damask Rose?
Tidak kusangka Putri Nikki juga tahu bunga ini.
Tapi kenapa lukisannya terlihat seperti setengah saja?
Ahaha, ini sebuah seni. (Putri Nikki teringat)
Matanya membulat besar menyadari lukisan tersebut adalah potongan bagian dari lukisan Pangeran Zelho waktu itu.
Jangan-jangan Kakak Rakia sedih karena tidak bisa bertemu lagi dengan Pangeran Zelho, kata Putri Nikki dalam hati.
‘’Lukisannya sangat indah. Sejak kapan Rakia memilikinya? Terakhir kali aku datang, lukisan ini tidak ada,’’ kata Putri Yuriki.
‘’Damask Rose. Bukankah ini bunga kesukaan Rakia?’’ tebak Pangeran Kairi.
Pangeran Yuga memiringkan kepalanya dengan alis berkerut. ‘’Kenapa lukisan ini terlihat seperti setengah?’’
‘’Pantas saja dari tadi aku merasa ada yang aneh dengan lukisan ini. Ternyata lukisannya hanya setengah,’’ kata Putri Ukii.
Mereka tidak boleh tahu kalau Kakak Rakia sedang galau karena pemilik lukisan ini, kata Putri Nikki dalam hati.
__ADS_1
‘’Ahaha! Lebih baik kita biarkan Kakak Rakia menenangkan diri dulu,’’ kata Putri Nikki.
‘’Kau sendiri yang mengusulkan untuk menghiburnya, kenapa berubah pikiran lagi?’’ tanya Putri Yuriki.