
Kamar Pangeran Kelima
Rakia merasa terganggu dengan kejadian barusan, sampai-sampai ia tidak sadar Pangeran Rui menatapnya.
Tunggu, ada apa ini? Ayahanda mengutusku sambil menyembunyikan identitasku. Tapi kenapa ada Pangeran yang mengetahui identitasku? Apakah mungkin semua Pa- ah tidak, melihat mereka memperlakukanku seperti pelayan, sepertinya mereka tidak tahu, kecuali Pangeran yang kutemui tadi, cemas Rakia dalam hati.
"Memikirkan sesuatu?" tanya Pangeran Rui menyadarkan.
"Um kalau boleh tahu, Pangeran berambut mooca campur pirang adalah Pangeran urutan berapa, ya?" tanya Rakia berusaha tenang.
"Maksudmu kakak tertua?"
Kakak tertua? Itu berarti dia adalah Pangeran Pertama Rivazreich, kata Rakia dalam hati.
"Saisho no Ouji(Pangeran Pertama), Ereri von Rivazreich. Kenapa kau menanyakannya?"
"Letak kamarnya di mana?" tanya Rakia.
Dahi Pangeran Rui berkerut karena pertanyaannya diabaikan. "Dari kamarku, kau bisa menyusuri jalan sampai menemukan tangga utama, lalu naiklah ke tangga di sebelah kanan, setelah itu belok ke arah kiri, di sana letak kamar kakak tertua. Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya tidak sengaja melihatnya dari jauh. Aku belum tahu semua Pangeran di sini, makanya saya bertanya."
Pangeran Rui menganggap Rakia sedang berbohong. Melihat mimik wajahnya tadi, sepertinya wanita itu dan kakak tertuanya ada sedikit masalah.
......................
__ADS_1
Pukul menunjukkan tepat 21:00 malam, tapi hujan masih saja belum reda. Rakia menarik hordeng, dan berbalik ke arah kasur.
"Pangeran Rui, saya akan kembali ke kamar."
Tidak ada jawaban dari pria itu. Setelah memastikan Pangeran Rui tertidur, Rakia segera keluar. Ia menyusuri jalan sesuai arahan Pangeran Rui tadi pagi, sampai dirinya menatap sebuah pintu di depannya.
"Kurasa ini kamarnya."
Tok! Tok!
Pria berambut mooca campur pirang itu menolehkan pandangan ke arah pintu. "Siapa yang datang malam-malam begini ke kamarku?"
"Masuklah!" perintahnya memberi izin.
Pintu terbuka dengan munculnya sosok Rakia, membuat pangeran itu menopang dagu dengan kedua punggung tangan sambil tersenyum.
Rakia menatapnya datar tapi terlihat mengintimidasi. "Saisho no Ouji(Pangeran Pertama), Ereri von Rivazreich."
Sebelah alis Pangeran Ereri terangkat sambil dirinya tersenyum. Ia melihat Rakia menuju sofa untuk duduk di hadapannya. "Aku belum memberimu izin untuk duduk."
"Kenapa harus meminta izinmu untuk menyuruh Tuan Putri sepertiku duduk? Aku tidak suka berbelit-belit, dari mana kau tahu identitasku?"
Pangeran Ereri hanya diam.
"Berhenti mengulur waktuku, aku tidak ingin berlama-lama di sini."
__ADS_1
"Benar-benar Tuan Putri yang sangat angkuh seperti yang dibicarakan. Sekarang aku mengerti mengapa Kaisar Helios mengirimmu kemari sebagai seorang pelayan pribadi."
"Apa maksudmu?" tanya Rakia mengerutkan dahi.
"Itu untuk mengubah keangkuhanmu. Kau seorang Putri Kaisar Jepang, dan kau tahu sendiri tata krama di Negara Jepang sangatlah tinggi. Jadi, kau yang sebagai Putri Kaisar harusnya bersikap sopan, lembut dan elegan, tidak angkuh seperti ini. Tapi, karena hanya dirimu yang angkuh di antara saudaramu, makanya hanya kau seorang diri yang dijatuhi hukuman."
Bugh!
Rakia memukul meja sebelum akhirnya berdiri.
"Haa, percuma saja mengajakmu bicara," kata Rakia berdiri memilih pergi.
"Tidak peduli bagaimana kau mengetahui identitasku, tapi aku ingin kau merahasiakannya selama masa hukumanku ini selesai."
"Apakah ini sebuah permintaan?" tanya Pangeran Ereri memancing.
Rakia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Anggap ini sebagai perintah dariku."
Pangeran Ereri tersenyum menatap pintu kamarnya tertutup. "Adikmu benar-benar angkuh."
Tapi, senyumannya tidak bertahan lama dan berakhir murung.
Pangeran Rui yang bersembunyi dibalik tembok pun pergi.
...Visual Pangeran Pertama, Ereri von Rivazreich...
__ADS_1